Monday, 23 December 2013

Hi, Monday

Well, everyone who thinks that Monday is a monster day, They are must be stupid people....And I am in it.

Who the hell who cares...

dari google
But I found something different when I arrived to my office this morning. There were four peoples show their smiles, I swear it was almost a laugh, when I opened the office gate, while on the other hand there is a statement like 'Employees begin to smile at 11 o'clock on Monday.' Dude, I was like you all when I did school stuffs.

Look, when I was at school I did really loved Monday. How come? Just so you know that I was the outsider of my school that it's located in a city, not a big city actually. I came from a villages, It took about an hour to get to school from my home if you are lucky enough. I know that my friends that their homes are definitely near from school felt so lazy with their routines.

I do believe with my theory that they had no awesome trip from home to school.While on the other side I could saw so much beautiful views from some public transportation that I went by. Look, the green color was so meant to me. The rice-field, I meant. Not only the rice-field, I was so excited with the passengers. I did a counseling teacher, 'Read Peoples'. hehe...

I got so much fun so far I wrote this unimportant post, my life flashbacks, school stuffs, and of course the craziest thing which I did with my sister-different-parents (bad compound)...who else? Hi, Elsawati Dewi. But, now I have so much jobs to deal with and the fact of it destroyed my good-tempered in a second.

I can not leave my "Thank you so much" to the guys who gave me smiles or maybe laughs. And the MonDay will always be Monster Day even while I was writing this last sentence I connected to "Money Day"?




Friday, 20 December 2013

My Listening is Getting Better

Yeye Lalala

Sesubuh ini saya membuat postingan yang mungkin untuk orang yang tidak mengenal saya, baik secara langsung mau pun tidak, misal tidak mengenali tulisan saya, akan berpikir betapa arogannya saya. Well, yeah sedini ini saya berani untuk bersegera mengungkapkan keberhasilan kecil. Tapi ini memang cara saya untuk menghargai apa yang telah saya capai.

dari google

Akhir-akhir ini saya rajin mengunjungi situs soundcloud.com, sebuah situs entertainment layaknya youtube, namun hanya untuk streaming audio. Di situs ini teman-teman bisa mengupload file-file audio yang menjadi favorit kalian. Selain upload dan nantinya bisa kita dengar dimana saja dan kapan saja, kita juga bisa merepost milik user lain, atau pun membuat playlist kita sendiri baik dari file yang telah kita upload atau pun  dari file user lain. Pokoknya recommended, dah.

Hm... Dan khususnya sudah sebulan ini saya rajin mendengarkan siaran BBC News yang mostly of course are broadcasted in English. And any of you know what I got now? Yeay... My listening skill is getting better. I can catch almost all words that the speakers say. Alhamdulillah...yang tadinya sulit, dengan dibiasakan akhirnya jadi bisa. Bisa karena biasa dalam istilah resminya.

"Saat kita dipertemukan dengan hal yang kita cintai, maka selebihnya adalah kebahagiaan."

Salam.

Friday, 13 December 2013

Nasehat Bang Andre

Siapa Andre? Namanya sih Andriyan. Dia salah satu employee baru di company dimana saya bekerja, mahasiswa semester 7 Universitas Gunadharma yang mengambil kelas karyawan tentu saja, dan orang dengan kelopak mata bawah yang menggantung besar sama kayak punyanya Bapak SBY. hehe

Jadi, entah kenapa dan saya memang tidak pernah menemukan, bahkan berniat pun tidak, alasan dia membentuk sedikit conversation yang membahas tentang asmara dengan saya. Mungkin hanya untuk berbagi.

Well, saya memang hanya perlu mendengarkan dan mencerna yang saya pikir itu baik. Selebihnya dilempar ke tong sampah pun tidak apa-apa. Hush...pembicaraannya berbobot kok, lumayan. Tadinya memang seperti itu. Tapi keadaan berbalik saat saya berkata:

"Sorry, gue gak ada waktu ngebahas kehidupan orang lain."

Dan ditimpalinya dengan:

"Hidup tidak akan pernah cukup bila belajar dari kehidupan kita sendiri."

Saya mengangguk pelan, mencerna isi kalimatnya dan Dia menjabarkan maksudnya. Dan egois memang pernyataan saya sebelumnya. Tapi itulah saya saking terlalu sibuk dengan urusan saya sendiri, rasa di dalam diri saya perlahan seperti menghilang entah kemana. Ya, Alloh tumbuhkan lagi kepekaan saya terhadap sesama. Saya rindu untuk bisa 'merasa'. Aamiin.

Thanks ya Andre, Andriyan... Siapa punlah namamu..haha


Friday, 6 December 2013

#puisi Kelinci

Satu, bahwa sendi-sendiku masih kokoh
dan bahak tawa mereka tak kuanut
Dua, bahwa setiap pembuluh darahku masih setia
bekerja sama menyalurkan merah kental darah

Lalu tiga, bahwa aku memiliki banyak jatah kegagalan
Dan empat, keyakinanku bahwa setipis kabut jarak antara keterpurukan dan harapan

Dan entah berapa keyakinan lagi yang memenuhi kepalaku
Tapi, belajar darimu adalah lentera buram yang masih perlu kurawat
Selain senantiasa kutanggalkan di tiap kelokan, dimana satu
persatu kuhancurkan untuk memperluas memoriku

Akan selalu ada dewa-dewi di biru dan hijau dunia
Aku menamainya teman
Dan, kau teman?
Mungkin

Algojo untuk memenggal kepalamu? Aku bisa melakukannya
Menjeratmu di sarang tarantula? Aku bisa lebih baik dari itu
Menjebakmu dengan drama-drama kehidupan? Bukan caraku
Tapi setan memerintahku untuk menggabungkan ketiganya

Selamat, kau yang pertama

Wednesday, 27 November 2013

hold HIM tight

Jarangnya mendapatkan siraman rohani dan kucuran motivasi membuat hidup saya jadi kurang teratur. Tak dipungkiri saya mengalami kerugian besar dalam masa-masa seperti ini. Dimana rasanya saya sudah mulai kehilangan kendali dan arah.

Pekerjaan yang menumpuk karena seringnya ditunda, nasib yang sama juga berlaku untuk tugas-tugas kuliah, dan kesenangan menggeluti sesuatu karena deadline juga telah menjadi identitas baru saya. Enaknya hidup jadi ringan untuk saat ini. Tapi yeah, kebiasaan memandang jauh ke depan menapik identitas tidak resmi itu.

Aku perlu untuk: bisa terbangun sepagi mungkin, me-list daftar pekerjaan dan tugas kuliah, mendetail masing-masing point, MELAKSANAKAN, merewiew, dan akhirnya melihat hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

So, the next plan is to hold HIM tight. Bismillah!

Wednesday, 6 November 2013

SongReview: Eminem - The Monster ft. Rihanna

Yeay... Postingan awal November ini kita awali dengan a new favourite song... It's Eminem - The Monster featuring with the Umbrella singer, Rihanna!

Eminem dan Rihanna. Mendengar kedua nama besar ini membuat saya langsung excited. Setelah sukses di 2010 dengan Love The Way You Lie-nya di Album Recovery - Eminem yang juga kemudian disusul dengan Love The Way You Lie Pt 2 di Album Loud - Rihanna, Kini keduanya menelurkan kembali karya yang menurut saya tidak akan kalah dari debut mereka berdua kala itu - The Monster.

Yang paling membuat saya suka tentu saja suara penyanyi R&B asal Barbados ini yang selalu terdengar catchy di telinga. Langsung enak buat dinyanyikan. The lyrics are seems like these...

I'm friends with the monster that's under my bed
Get along with the voices inside of my head
You're trying to save me, stop holding your breath
And you think I'm crazy, yeah, you think I'm crazy

Well, that's nothing...


Bagi yang pernah kelepek-kelepek dengan Love The Way You Lie, coba deh koleksi lagu ini di playlist kalian. Pilihan yang tepat untuk menemani pagi kalian!

Here's the song... Enjoy!

Wednesday, 30 October 2013

#puisi Bacakan Aku



Aku hanya tak memiliki hiburan lainnya
Jadi aku mengintip kisah-kisah terdahulu
Dan aku terjebak di dalamnya, akhirnya
Selalu butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa kembali

Dia dibacakannya buku-buku
Kadang tawa, kadang air mata diujungnya
Mungkin pikirnya dia hanya sendiri
Hingga pergi meninggalkan pembaca seorang diri

Matilah dalam hidup yang terlalu hidup
Langkah dan napas yang dirusak kepala dan rasa
Kalian melihatnya berjuang dengan dirinya
Kalian bungkam padahal mengenalnya

Dan halaman-halaman kusam menguak
Dibacakannya lagi untuk sekedar mengingat masa
Pendengar renyuh dengan tangis dan memori yang membasah di mata
Dia tidak sendiri

"Tidak ada surat?"
"Tidak."

Hanya suara mengantarkannya dengan rela
Hanyalah masa yang hampir terlupa
Paksakan sendi-sendi melangkah
Jiwa yang naik tinggalkan raga

Aku mengerti, Ini bukanlah hal besar
Tapi sejarah tak cukup menahun, namun selamanya
Biarkannya hanyut hingga melaut kapan menepi
Dan ada surat yang tersirat untuk selamanya

Jakarta, 30 Okt 2013 5.30 p.m

Saturday, 19 October 2013

MovieReview: Stoker(2013)

Dari google
Hai, sobat pengunjung setia blog Uyo Yahya. Ada yang suka dengan film phsycological thriller?  Yang kejam-kejam gitu dan sedikit bumbu misteri? Kalau memang kalian suka maka Stoker, sebuah film produksi produksi 2013 yang patut kalian tonton.

Diperankan oleh Mia Wasikowska(India Stoker), Nicole Kidman(Evelyn Stoker) dan Matthew Goode (Charlie Stoker) film ini berhasil membuat saya terperangah dari awal sampai akhir cerita. Tak dapat dipungkiri acting ketiganya memang benar-benar patut diacungi jempol. Terutama tentu saja si pemeran utama India, Mia Wasikowska yang juga pernah berperan sebagai Alice di Alice In The Wonderland bersama Johny Depp.

Film ini bercerita mengenai India, gadis remaja yang baru saja ditinggal oleh Ayahnya tepat saat ulang tahunnya yang ke-18. India adalah gadis yang pintar, mampu mendengar apa yang tidak didengar oleh orang lain, melihat apa yang tidak dilihat yang lain dan mampu merasakan bahaya yang sedang mengintainya. Namun, perlu ditekankan bahwa semua kemampuannya ini masih sebatas karena ketertarikannya akan hal-hal kecil yang diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya, tidak sampai menyentuh ke magic.

Sepeninggal ayahnya, Richard Stoker, India tinggal berdua dengan ibunya Evelyn. Mereka mempunyai hubungan yang dingin. Ini dikarenakan India memang lebih sering menghabiskan waktu bersama Richard daripada dengan Ibunya. Mungkin suasana diantara mereka akan mencair dengan seiring waktu bila saja, Charlie, Paman India yang mengaku menghabiskan waktunya mengelilingi dunia, tidak datang merusak segalanya.

Charlie merupakan sosok pria yang mapan dan menawan. Bahkan Evelyn pun jatuh hati kepadanya. Namun siapa sangka bahwa keterbukaan Charlie terhadap Evelyn hanyalah alat yang digunakannya untuk memancing sifat liar India.

India merasa kacau dengan keadaan bahwa Ayahnya baru saja meninggal, namun ibunya telah dengan mudahnya jatuh hati pada pria baru yang tak lain adalah Pamannya. India berlari menembus kegelapan malam, meninggalkan rumah jauh di belakangnya hingga Ia bertemu dengan Whip, teman sekolahnya.

India mulai meneritakan tentang keadaanya kepada Whip. Hanya saja dengan kata-kata kiasan yang membuat Whip penasaran. Rupanya India memang terbakar api cemburu melihat kedekatan Ibu dan Pamannya. Dia, dengan emosi yang ada, seakan menarik Whip untuk menciumnya. Keadaan semakin kacau saat India menggigit lidah Whip dan tersadar dengan apa yang sedang Ia lakukan. Berkeinginan untuk pulang ke rumah, Namun Whip menolak. Berusaha  melepaskan cengkraman Whip, namun Ia malah terjatuh.

Whip hampir menyentuh India sesaat sebelum sabuk hitam melingkar di di lehernya yang terus ditarik ke belakang, Hingga ia mati di hadapan India.

India pulang ke rumah dengan Charlie di depannya mengankat mayat Whip di pundak. Charlie membuat kuburan untuk Whip dan memberi India giliran untuk menguburnya.

Kejadian ini menjadi jawaban bahwa kematian asisten rumah tangga Stoker, yang kepalanya ditemukan India di kotak Freezer di gudang bawah, lalu Bibi nya yang tidak kembali lagi ke Rumah, memang telah dibunuh oleh Pamannya, Charlie. Dan yang lebih mencengangkan Charlie secara terbuka menceritakan detail bagaimana Ia membunuh kakaknya, Richard, ayah India. Juga termasuk ketika saat masih kecil dia membunuh adik terkecilnya dengan menguburnya hidup-hidup yang membuatnya dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, bukan berkeliling dunia.

Charlie berniat membawa India ke New York. India bersedia, toh Dia juga telah ikut membunuh Whip dan memberikan keterangan palsu mengenai kepergian ...

Dikit lagi selesai nih... Tapi udah ah, nanti kalian tidak penasaran. Donlod aja ya di ganool.com.

Dan saya juga sedang tergila-gila dengan sountrack film ini, Emily Wells - Become The Color


Saturday, 12 October 2013

Mr. Renzo R, The Taxi Driver

Perhatian! Baca Artikel Ini Hingga Tuntas. Yang Asal Baca, Kalau Saya Jadi Anda Saya Bahkan Tidak Tahu Harus Komentar Apa.

gambar dari google
Siapa Mr. Renzo R? As you can see lah on the title above, He's only a taxi driver. But, there's something special about him. I knew it.

Jadi begini cceritanya. Hari ini Jum'at, 11 Oktober 2013 seperti yang telah terschedule saya ada pekerjaan di Gedung pusat salah satu bank BUMN tersebesar di Indonesia, di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat.
Tadi pagi saya berangkat dengan mood yang sedang tidak bagus. Alhasil perkerjaan yang dipaksa diselesaikan pukul 19.00 pun hasilnya tidak memuaskan dan malah menambah suasana yang tidak enak di dalam diri saya. Penyebab kontroversi hati ini adalah bahwa saya masih harus ke gedung ini besok hari Sabtu, dimana hari Sabtu saya harus ngampus. Dilema prioritas jadinya. Namun saya putuskan untuk masuk kuliah dengan nanti pagi telpon dulu ke bos saya.

Seharusnya keluar dari Gedung tersebut saya langsung stop taxi di depan, tapi tiba-tiba saya berkeinginan untuk berkunjung dulu ke kosan kakak saya, Tati, yang ada di Grogol. Kebetulah di sana juga ada teman sekaligus pacar kakak saya yang satu lagi, Yayang. berkunjunglah saya dengan niatan mau curhat tentang kontroversi prioritas ini.

Tidak lama saya di Grogol, hanya sampai pukul 9.30. Saya berjalan dari gang kosan Kakak saya, berhenti di ujung gang dan melihat ada Taxi Blue Bird yang kelihatannya kosong sedang melaju dengan pelan dari lawan arah dan akan belok ke arah kemana saya akan pulang. Dia tampaknya terjebak di pertigaan, saya sedikit tidak sabar lalu langsung saja berjalan dengan "Naik dari depan aja deh, lama yang ini." dalam hati.

Tapi, ternyata Taxi yang tadi sudah sekitar 5 meter di belakang saya yang sedang berjalan lalu berhenti dan melambaikan tangan memberi isyarat stop. Saya masuk, meminta untuk set AC ke temperature paling kecil, sementara lagu dari radionya saya nikmati.

"Pak, bisa tolong diset ke temperatur yang paling kecil AC-nya?"

"Baik, Pak," jawabnya sopan.

Taxi keluar dari kawasan Tawakal dan melaju ke Gandaria City melalui Senayan, tujuan dan jalur yang telah saya sebutkan pada si Taxi Driver.

Pikiran saya masih mumet dengan keadaan dalam diri saya, masih hal yang tadi. Saya mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat kemacetan. Nampaknya saya diperhatikan oleh Pak Supir. Terbukti dari topik pembicaraan yang Ia lontarkan untuk sekedar break the ice. Topik apalagi kalau bukan macet? Jakarta.

Yeah, pembicaraan barusan mengenai jam pulang kerja dan kemacetan cukup membuat kami agak dekat. 
Saya suka bagaimana Dia bicara, supel, lugas dan berisi.

Lalu saya lihat Dia tampak sibuk mencari saluran radio yang memutar musik yang pas dengan penghujung hari seperti ini. Lalu berhenti di channel dimana terdengar seorang penyiar sedang sedang sibuk mewawancarai bintang tamu talkshow-nya. Entahlah topik apa yang sedang mereka bahas karena Pak Sopir keburu mengungkapkan rasa kagumnya terhadap suara sang penyiar.

"Ini, de, yang sedang siaran ini namanya Bu Siska," Jelasnya dengan tangan menunjuk radio di dashboard depan. Sementara saya mendengarkan dengan jeli suara Bu Siska dan sedikit 'Hore! Dipanggil Ade! Tadi kan manggilnya Pak.'"Orangnya cakap, dan suaranya bagus. Dia tinggalnya di Kalibata. Pulang kerjanya sekitar jam satu malam."

 "Wiss... Tahu semuanya Bapak ini tentang beliau. Pengagum ya, Pak? Ngomong-ngomong Radio apa ini, Pak?"

"Ini Radio Sonora, de. Pendirinya adalah pendiri kompas gramedia. Saya pernah mengantar beliau pulang beberapa kali kesempatan, dan satu kesempatan di Thamrin beliau menumpang Taxi saya dan menyiarkan keadaan jalan Thamrin di jam-jam macet melalui telpon genggamnya. Beliau sangat mencintai pekerjaanya"
Setiap kalimat yang diucapkannya memang terkesan biasa. Tapi kalian harus lihat cara Dia berbicara dengan duduk di kursi kemudi dan tangan yang sibuk menyetir dan memetakan setiap opininya. Seharusnya terselip rasa takut mengingat, Hello, Dia sedang menyetir. Tapi the way he talk is so awesome and inspire me.

"Hmm... Saya syirik lho Pak dengan orang yang mencintai pekerjaanya."

"Kalau Bapak boleh tahu apa alasannya, De?"

"Tak tahulah, Pak. Pokoknya saya Insyaalloh capable dengan perkejaan ini. Tapi saya tidak 'mencintai'."

"Memang harus seperti itu, De. Kita kan hidup ingin bahagia dan faktor yang fundamental ya pekerjaan untuk survive kehidupan kita itu mesti sesuatu yang kita cintai. Jadi dalam menjalaninya pun kita enjoy, tidak ada beban. Tidak ada penolakan terhadap apa yang ada di tangan kita."

Saya mengangguk-angguk di kursi belakang, memperhatikan dan menyerap setiap perkataanya.

"Ada tiga hal sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan semua orang, termasuk kamu De, supaya bisa lebih bahagia dengan kehidupan ini."

"Apa saja itu, Pak?" Tanya saya, tak ingin hanya Dia yang menguasai pembicaraan, meskipun itu sudah terjadi jauh sebelum saya tersadar saat ini.

"Pertama, kita harus mensyukuri apa yang kita punya dulu, apa yang ada di hadapan kita. Dengan bersyukur dengan landasan menerima apa yang Tuhan berikan maka kita akan melaju pada point yang kedua yaitu Mulailah mencintai. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi di depan bahwa dengan mampu mencintai pekerjaan kita akan bisa lebih bahagia dalam hidup ini. Dan yang ketiga adalah option yang bilamana kamu bisa melakukan point yang pertama, yaitu bersyukur, tapi mentok tidak bisa melanjutkan ke tahap percintaan."

"Aisshhh... Percintaan, Pak?" Sontak saya terkejut dan menggelegak dengan istilah yang dipakainya. Dia mengangguk mengisyaratkan bahwa saya tidak salah dengar. "Ok, Baik Pak. "

"Yang ketiga ya, De. Usahakan jangan dibenci. Apa pun pekerjaan kamu, apa pun jabatan kamu, apa pun itu usahakan jangan pernah kamu benci. Karena bila demikian kamu bahkan sama dengan menolak apa yang Tuhan berikan. Bahkan untuk hasil yang bagus yang kamu hasilkan pun tak akan ada nilainya bila kamu benci dan pada akhirnya menjauhkan kebaikan-kebaikan yang sepatutnya kamu dapatkan andai saja kamu jauh-jauh dari kata 'Membenci'."

Untuk kesekian kalinya saya tertegun, menerawang dan menyerap isi kalimatnya. Dan tidak ketinggalan kagum cara bicara, tangan yang sibuk dengan setir dan isyarat pembicaraan, dan tetap tenang dalam kemacetan.

"Kayanya saya mentok deh, Pak. Gak bisa sampai ke tahap percintaan."

"Berarti jangan dibenci!" Tegasnya.

"Gak benci, Pak. Tapi, alhamdulillah saya masih bisa berpikir dan memutuskan untuk mengambil bidang yang saya suka plus cinta, Pak. Saya IT, tapi kuliah Sastra. Salahkah, Pak?"

"Itu keputusan yang bagus, setidaknya kamu sedang mengarah ke jalan yang kamu inginkan. Intinya jadilah diri kita sendiri!"

Sumpah! Selama dua puluh satu tahun hidup saya baru pertama kali berjumpa dengan orang tua yang mau berbicara tentang kehidupan kepada kaum yang lebih muda. Saya memuji keterbukaanya untuk berbagi dengan saya, saya yang baru naik taksinya beberapa menit lalu, saya yang tadi bad mood namun kini seperti menemukan sumber semangat.

"Kamu masih muda De, meskipun masih muda mesti ingat, bolehlah semangatmu membara, tubuhmu masih kuat, tapi jangan terlalu mati-matian kamu eksploitasi tenagamu hanya untuk mengejar harta. Apalah arti semua yang kamu dapatkan itu kalau nantinya hanya akan dipakai untuk mengobati penyakit akibat kerjamu yang mati-matian itu."

"Exactly, Pak! Saya pernah membaca artikel yang persis kata-katanya seperti yang Bapak sebutkan barusan. Saya iseng copy-paste kalimat tersebut untuk dijadikan status facebook, eh dikomentari sama teman-teman saya yang kerjanya bisa disebut mati-matian, Pak. Mereka gak setuju, Pak. Katanya biasa aja dan enak-enak aja."

"Sekarang? Lah, nanti?" Celetuknya memancing saya tertawa paham.

"Wah, Iya ya Pak." Paham.

"Ngomong-ngomong Bapak membuat kalimat barusan dari pemikiran Bapak sendiri, lho. Jadi kalau kamu membaca artikel yang sama persis kata-katanya seperti itu. Saya yakin si pembuat artikel itu cerdas."

Perhatian pemirsa, posisi masih sama seperti tadi. Beliau ada di kursi kemudi dan saya di kursi penumpang belakang.


To be continued...

Sunday, 6 October 2013

Apa harus telanjang?

Halo sobat setia pengunjung blog Uyo Yahya. Apa kalian ada yang sudah coba nonton video klip nya Miley Cyrus yang terbaru, Wrecking Ball? Kalau belum, bergegaslah ke youtube.com sebelum video klip tersebut diblokir di Indonesia.

Pasti pada bertanya-tanya mengapa saya yakin video klip tersebut bakalan diblokir. Hal serupa pernah terjadi pada video klip Britney Spears - I'm A Slave 4 U, dan juga miliknya Paris Hilton - entah apa judulnya. Pertanyaannya masih sama "Kenapa diblokir?"

Jawabannya adalah: Terlalu Hot!

Yang paling hot sekarang memang Wrecking Ball-nya Miley Cyrus. Kalau dicermati dengan kacamata hati yang benar maka kualitas kekreatifannya memang rendah. Memamerkan lekuk tubuh benar-benar polos untuk menaikkan popularitas memang kerap kali dilakukan oleh selebriti hollywood. Kebanyakan yang melakukannya adalah yang masih muda di dunia tarik suara di sana, dan tentu saja yang kepopulerannya belum setenar sebelum mereka nekad bertelanjang di video klipnya.

Rata-rata dari artis terkait memang menyatakan bahwa mereka hanya ingin menjadi diri mereka yang sebenarnya. Oh, jadi jelek sekali ya kalau ternyata diri mereka yang sebenarnya itu gemar mengundang lawan jenis. Kesannya sih, maaf, murah!

Kalau saya dengarkan dengan jeli suara Miley Cyrus itu sudah OK, kok. Dan jumlah penggemarnya juga lumayan. Serta kepopulerannya juga, pastinya, di atas kepopuleran artis sekelas Nikita Mirzani. But, why? Sungguh disayangkan...

Dan cerita lagu itu juga lumayan bagus tapi mengapa dihancurkan dengan visualisasinya, ya.

Dan saya merasa sangat kecewa setelah salah satu penyanyi favorit saya, Rihanna, juga melakukan hal yang sama di video klip terbarunya, Pour It Up. Tidak terlalu populer, mungkin kebanting sama Wrecking Ball.

Pernah merasa kecewa dengan artis yang teman-teman sukai? Share dong di komen. Terimakasih.

Salam,

Uyo Yahya

Monday, 23 September 2013

Pengalaman Mistis Yang Pertama

Yep, kali ini saya akan membagikan cerita tentang pengalaman mistis saya yang pertama. Seperti apa-apa yang pertama kesannya memang paling berbeda dan kecupan di memorinya juga sangat kuat. Apalagi pengalaman pertama mengenai dunia mistis ini saya alami waktu masih kecil. Jadi sampai sekarang pun masih sangat kental di ingatan tentang detail kejadiannya.

Waktu itu saya masih kelas 3 SD. Sekitar jam sembilan pagi saya sudah pulang dari sekolah dan tiba di rumah. Tentu saya pulang cepat karena hari itu memang hari pembagian raport. Rumah waktu itu lenggang, tak ada siapa-siapa dan pintu dapur pun tidak terkunci. Saya masuk, menutup pintu di belakang saya dan langsung menuju ke kamar saya.

Raport tidak langsung saya lempar kemana saja. Itu memang bukan kebiasaan saya pula. Sepuluh menit saya berdiri di depan lemari pakaian sambil memindai nilai-nilai yang cukup bagus, lebih malah. Sedang asyik-asyiknya membaca nilai raport saya mendengar ada yang membuka pintu dapur. Dari dalam kamar saya tidak bisa melihat siapa yang masuk.

"Udah pulang, yo?"
"Udah, mak." Jawab saya kala itu.
"Ranking berapa?"
"Satu, mak." Jawab saya lagi sambil menyimpan raport ke dalam lemari dan berniat menghampiri Emak saya kala itu saking senangnya mendapat peringkat ranking satu untuk pertama kali dalam hidup saya. Arghhh...

Tapi saat tiba di dapur saya tidak menemukan siapa-siapa dan pintu dapur dalam keadaan tertutup? Jengjreng.

Saya terpaku untuk beberapa saat yang disebut sebentar. Antara heran dan tidak percaya. Lalu tak lama setelah itu Emak saya datang, membuka pintu dan bertanya:

"Udah pulang, yo?"
"Udah, mak." Jawab saya agak menilai apa Emak saya memang harus mengulangi pertanyaanya.
"Ranking berapa?"
"Satu, mak. Bukannya emak tadi udah tahu?"
"Haha... Becanda kamu. Emak baru aja nyampe dan nanya kamu masa udah tahu. Kalau udah tahu ya gak perlu nanya." Jelasnya ringan."Boleh emak lihat raportmu? Penasaran."
"Tapi tadi mak aku..."

Lalu saya menceritakan kejadian yang barusan saya alami kepada Emak saya. Tapi, tanggapannya cuman "Kamu pasti lagi ngelamun."

Karena memang waktu itu masih kecil, gampang sekali aku menerima bahwa itu adalah cuman lamunan saja. Tapi toh sampai sekarang saya masih mempertanyakan siapa yang berbincang dengan saya kala itu.

Ini ceritaku, mana ceritamu?


Saturday, 21 September 2013

Emak, Abah...Anak Kecil Itu!

Emak Abah, your last child lagi kangen. Disini anak kalian ini kalau makan mesti beli ke warteg, ke warung pecel lele atau ayam, itu pun kalau lagi semangat dan lagi nggak labil ekonomi. Kalau nggak ya cukup deh jalan ke depan kosan dan pesan satu porsi mie ayam, atau indomie makanan anak kos.

Anakmu ini lagi pengen banget mencicipi masakanmu yang tiap kali nempel di lidah rasanya gak ada duanya di dunia ini, Farah Quinn pun kalah. Itu tuh yang pentingnya, gratis. Dan anakmu yang sudah "twenty one my age" ini lagi kangen suasana pagi yang seperti ini:

"Yo, bangun... Tempe-tahu kesukaanmu sudah siap di meja. Mumpung masih hangat. Sambel ijo-nya juga."
Lalu si anak kurus ini akan bangun dari ranjangnya. Berjalan limpung menyeret-nyeret kakinya, udah kayak zombie, ke dapur mencari itu makanan yang baru disebut.

Emak Abah, bahkan untuk tempe ama tahu pun sekarang susah dicari di warung. Maksudnya susah nyari yang harganya murah. As we know petani kedelai memang sedang tidak beruntung dengan tanaman mereka musim ini. Jadi harga kedelai melambung jauh terbang tinggi bersama Anggun C Sasmi. "Naik" aja gitu, simple. Lebay banget sih. Siapa? Eloooo...

Mak, Bah...Lapar... Untung ada Roma Malkist Abon...Hm...

Mau?
Emak Abah, Jakarta memang kota tempat kalian bertemu, memadu kasih, lalu lahirlah kakak-kakakku dan aku. Aku tahu kenapa kalian menjual gubuk kecil di gang di sudut Jakarta bahkan sebelum aku lahir dan memilih membangun rumah di Tasikmalaya sana. Benar, udara di sini panas, tingkat polusi udara tinggi, kontroversi hati apalagi, termasuk konspirasi moral. 

Untunglah aku besar di Tasik, agamaku Insyaalloh cukup kuat. Dan masa kanak-kanak dan remaja yang masih di koridor aman. Aku melihat anak-anak di sini bahkan balita pun sudah mengenal kata-kata kotor dan candaan yang merendahkan tidak mengenal siapa yang mereka ajak biacara.

Emak Abah, masa tadi pagi anakmu yang rajin menabung di warung ini diginiin:

"Kayak Mas." Jawab seekor anak kecil mungil di hadapanku yang sama-sama sedang menyantap bubur ayam pagi ini setelah ku bertanya, "Emang setan bentuknya kayak gimana?". Setelah sebelumnya itu seekor anak lagi nyeritain cerita serem yang gak serem. Yaitulah ya gak ngerti saya juga, serem tapi gak serem. 

Emak Abah, gak sopan banget kan mereka?!

Emak Abah, disini aku juga harus beres-beres kamar sendiri, nyuci baju sendiri... Tuh, kan udah numpuk lagi. Ya udah deh nyuci dulu....

Monday, 16 September 2013

Aku Ingin Hidup Damai, Membaca Buku

Aku ingin hidup damai, membaca buku
Ya, suatu hari aku akan benar-benar menjalani hidupku dengan jalan yang aku inginkan. Aku ingin hidup damai, membaca buku. Kalimat ini pertama saya baca dari status facebooknya Mba Elsawati Dewi. Awalnya aku pikir kalimat itu terkesan biasa karena memang menjadi hal yang telah lama ingin kulakukan juga. Tapi sayangnya semua orang, termasuk si penulis blog ini harus terbentur dengan realita.

Bahwa hidup tidak bisa hanya dijalani dengan hal-hal yang benar-benar kita ingin lakukan. Dan bahwa hidup tidak akan seimbang bila kita hanya melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan. Baik-buruk, bahagia-sedih, kesempatan-kesempitan, well semua itu memang telah ditulis bahkan sebelum kita terlahir di dunia. Takt ada yang mengetahui persis apa yang akan terjadi besok, bahkan di detik terakhir saya mengakhiri kalimat ini.

Dan diawal saat memulai kalimat terakhir di paragraf sebelumnya aku masih bingung akan membahas apa. Cukup mengejutkan karena "Collaboration of reality and idealism" miliknya kang Rizki Fajar Bachtiar tiba-tiba seperti meminta perlakuan di kepalaku. Oh, tentu saja, aku sedang berbicara tentang "hidup". Sementara kolaborasi dari realita dan idealisme, aku yakin aku tidak akan bertahan lebih dari dua jam untuk bisa satu ruangan dengan orang-orang seperti ini. Mereka terlalu otak kiri, menurutku. Tapi aku sendiri tidak bisa menghindari realita.

Jadi aku akan melakukan hal-hal biasa yang biasa dilakukan orang-orang biasa dan menyimpan "Aku ingin hidup damai, membaca buku" sebagai tujuan hidup selain yang utama, Akhirat. Dengan catatan menyelipkan sedikit misi-misi arah hidupku ke dalam realita secara perlahan namun pasti dan istiqomah, Aku yakin akhir itu tidak akan benar-benar ada di akhir. Aku yakin aku memang sedang berada di jalur dan arah yang benar.

Saturday, 14 September 2013

#puisi Gemerisik

Gemerisik
Dari kanan lalu kiri
Bayangan itu
Memudar sebelum bisa kukenali

Tenggelamkanlah lagi dalam dimensimu
Rayu aku yang telah mengeras cukup lama
Lelehkan beku yang dingin dengan surya di matamu
Aku selalu lebih dari siap

Gemerisik
Tidak adakah jalan yang lebih baik, selain
Memilih membuat jiwa ini terjaga
Lalu bangkit dan bertanya-tanya

Runtuhkan tembok itu bila memang perlu
Sejajarkan benteng-benteng itu dengan bumi
Biarlah aku membacamu
Kendati mengira-ngira

Gemerisik
Pekakan indera-inderaku
Biar kubaca adanya dirimu
Di kanan dan kiriku

Saturday, 7 September 2013

Lagu Classic dan Ballad Enak Buat Tidur

Waduh ya judul postingannya, out of the box deh...#hasem

Di suatu malam yang hening di kosan my sister saya bertanya seperti ini: 

"Tati, nahanya geus gede mah sare teh teu bisa jam 8-jam 9?"

"Tati, kenapa ya kalau udah gede gak bisa tidur jam 8 atau jam 9?"

Kakak saya langsung tertawa dan terdiam sebentar. Lalu dijawabnya dengan santai.

"Moal bisa deui. Loba pikiran. Kabeh jelema ngalaman."

"Gak bakalan mungkin bisa lagi. Banyak pikiran. Dan semua orang dewasa mengalaminya."

Lalu saya terdiam dan langsung paham. Oh, iya...setiap malam sebelum tidur, sebagai orang dewasa, ehem, kita dihadapkan pada banyak pikiran. Duh, kerjaan ini belum selesai-belum bayar kosan nih-sepatu gue udah butut, mesti beli lagi- gajih bulan ini cukup gak ya? - gue mesti banyak nulis, tapi bahkan blog pun terabaikan - duh, ingat dia yang disana...dan ini dan itu...sampai larut dan baru tersadar bahwa waktu tidur berkurang dengan kebiasaan tersebut.

Untuk mengatasinya saya punya cara tersendiri supaya rasa kantuk segera datang mengalahkan pikiran-pikiran mumet. Selain berdo'a saya juga mendengarkan musik sebelum tidur. Playlist-nya tidak banyak, paling 10 lagu. Tapi genre-nya yang mostly classic or ballad, yang sayup-sayup memperberat massa bulu mata hingga nantinya tertutup.

Berikut playlist lagu pengantar tidur saya:

1. Josh Groban - Remember Me
2. Rihanna - Unfaithful
3. Lana Del Rey - Young and Beautiful
4. Josh Groban - Per Te
5. Taylor Swift - Safe and Sound
6. Adam Lambert - Mad World
7. Rihanna - Stay
8. Adam Lambert - Outlaws of Love
9. Obliviate (OST. Harry Potter 7)
10. Opick - Bila Waktu Telah Berakhir

Ada yang suka mendengarkan musik sebelum tidur? Atau langsung nyungseb aja?

Tuesday, 3 September 2013

Draft Lagi #4

Alhamdulillah di tengah padatnya schedule bulan ini. Cerbung tak berjudul dari postingan sebelumnya, Draft Lagi #3, sudah rampung. Selamat membaca.

"Maafkan aku, Lui." Ekspresinya dari hati. Tentu saja, dia temanku.
"Tak apa," ucapku, berusaha mengatur laju napas. "Orang-orang yang ditinggalkan normalnya berduka. Lutessa dan aku mampu lebih dari normal. Intinya kami tidak ingin berlama-lama."


Kesedihan memang bukan identitas yang biasa u keluargaku. Meskipun kami menyadari bahwa masing-masing menyibukan diri hanyalah cara untuk menepis duka dan menukas sepi tapi toh selama ini itulah jalan kesuksesan melewati banyak peristiwa di keluarga Vaughn. Tetap tenang, luapkan pemikiran yang ada, pilah dan kembalilah normal.

Aku pribadi cukup mewarisi watak itu dari Billy meskipun Paman Ian dan Bibi Lutessa sepakat bahwa darah keluarga Evans, keluarga Ibuku, lebih banyak di tubuhku. Warna rambut coklat tua dengan semburat merah dan bergelombang kuwarisi dari Sally, Ibuku, wajah oval dan kaki lenjang juga darinya, sementara Billy hanya mewariskan mata birunya padaku. Namun dari semuanya aku berani bertaruh bahwa komposisi Billy dan Sally seimbang, aku cerminan dari keduanya.

Jendela bis sudah terbebas dari embun yang tadi menyelimutinya. Pemandangan kesibukan mulai terlihat dimana-mana saat bis kami melintasi halaman sekolah. Itu dia, sinar matahari yang mengintip dari balik dedaunan pohon maple, favoritku. Daun merahnya dibiaskan dengan lembut oleh matahari dan hasilnya adalah orange dan merah muda sebagai warna tambahan.

Bis sudah lenggang, Rose dan aku terbiasa keluar setelah yang lain. Ini membebaskan kami dari paparazzi ulung kelas kami seperti Elizabeth Lerman dan Goergiana Malik. Semester lalu Aku dan Rose pernah muncul di halaman situs mereka. Waktu itu postingannya adalah foto dimana kami berdua sedang berselisih dan tanganku hampir menampar wajah Rose, pada kenyataanya seperti itu  tapi software editing memanipulasinya dengan baik. Sempurna, tanganku mendarat di wajah Rose. Dan hasil yang lebih penting kami tahu wilayah mana yang tidak pantas kami kunjungi.

Udara pagi yang hangat menyentuh tubuhku saat berjalan menyebrangi halaman. Rose di sampingku, asyik bertexting dengan Lucas, adiknya yang baru masuk kelas satu tahun ini. Aku yakin wajahku memang memasang ekspressi biasa-biasa saja, terlihat dari wajah-wajah pengecek mood-mu di koridor sebelum loker. Seperti biasa arah mata mereka dari atas kebawah, atau sebaliknya.

Pagi ini dimulai dengan kelas sejarah Prof. Scott. Jujur aku tidak terlalu menyukai pelajaran ini. Sesuatu yang lumrah dan umum bila kita tidak memiliki kemampuan mengingat tanggal dengan baik, yang mana hal tersebut dibutuhkan di pelajaran hapalan yang satu ini. Terlebih lagi peristiwa yang memang tidak memiliki kaitan secara langsung dengan kehidupan yang kita jalani, lebih spesifiknya tidak teralami.

Jam berikutnya adalah Biologi. Klasifikasi mahluk hidup sudah dibahas tuntas di smester lalu. Smester ini akan membahas ke sistem kehidupan yang berlangsung di tubuh manusia. Tapi, tetap saja kita hanya akan membedah katak. Bukan manusia. Tidak akan mungkin. Lagi pula Prof. Kipps terlalu penakut, bahkan untuk memandang mata Kepala Sekolah Evershine, Prof. Aadesh.

Aku cukup puas dengan awal semester ini. Dua pelajaran awal yang membawa kami sampai waktu istirahat lumayan bisa kunikmati. Meskipun terselip kesialan saat Prof. Scott memintaku untuk menjelaskan sedikit sejarah yang aku ketahui mengenai pembentukan kota Lakeheaven. Seharusnya aku tidak menyebutkan nama keluarga Basilius sebagai salah satu pioneer karena lima tahun kemudian mereka membocorkan situasi pertahanan dan denah benteng Strongflame kepada penjajah, dengan kata lain mereka mata-mata.

"Kau yakin hanya ingin makan itu, Luina?" Bu Ora pegawai kafetaria menyadarkanku dari lamunan kelas sejarah.Oh, ya, itu, hanya ada kentang dan jagung di piringku.

"Bisa tambahkan daging cincangnya?" Jawabku setelah mengecek menu-menu di hadapanku.
"Tentu saja," Ia menambahkan dua sendok daging cincang merah yang ku pesan. "Kau perlu banyak makanan. Aku lihat tubuhmu melangsing."
"Oh, terimakasih." Jawabku, sedikit termenung menyadari ada yang menyisakan sedikit perhatiannya untukku. Bahkan dari Bu Ora. Kami tidak pernah terlibat percakapan seperti ini sebelumnya.

Aku baru saja akan meninggalkan antrian setelah membayar pesananku dan ingin menuju ke tempat dimana Rose sudah terduduk dengan makanannya di antara meja-meja yang ramai di kafetaria sebelum tangan Bu Ora menarik tanganku, dengan lembut pastinya. 

"Aku kenal dekat dengan Pamanmu. Ian Vaughn." Itu kalimat verifikasi dari tindakannya. Aku menatap wajahnya untuk beberapa saat yang bisa dibilang sebentar. Antrian di belakangku mulai ramai.

"Oke, terimakasih. Tapi kau bisa lihat." Aku memiringkan kepala ke arah antrian dan tersenyum.

Tanganku terbebas dari pegangannya dan apalagi yang aku tunggu, perutku sudah keroncongan. Rose melambai dengan raut wajah tidak sabar. Dua meja dari antrian dan aku mendapatkan kursiku.

"Ada apa dengan Ibu pegawai kafetaria?" Sudah jelas dia akan menanyakan yang barusan.
"Hanya ucapan belasungkawa." Jawabku lumayan lugas, sedikit tidak sabar dengan kentang di hadapanku.
"Oh, begitu. OK."

Rose kembali menikmati makanannya yang hampir habis. Dia sedang dalam keadaan yang baik. Lahapnya. 

"Eh, kenapa tadi kau menyebut nama Basilius? Semua orang tahu dia itu penghianat Lakeheaven." Topik berubah ke hal yang entah mengapa lumayan mengusik pikiranku. 
"Kupikir aku tadi menyebutkan Clementius," aku mencoba membela sesuatu yang sudah jelas hasil akhir bagi pembicaraan ini. Aku akan kalah.

"Oh, Rose...Benteng Strongflame!" 

Aku yakin suaraku cukup keras. Orang-orang di radius tiga meja dari tempatku memandang sinis. Kami memang baru membahas Basilius. Tapi kepalaku lebih cepat dan sudah sampai ke bagian Strongflame. Lukisan di ruang kerja Paman Ian dan sisa-sisa bangunan di hutan kota, itu Strongflame.

"Luina, barusan itu cukup membuatku ingin meninggalkan meja ini. Tapi aku temanmu."

Saturday, 24 August 2013

Musik, Blog dan Buku

Musik adalah penyemangat pagiku, pembawa lelap dan si tukang ngebangunin(alarm). Awalnya aku menolak dengan segala jenis musik. Rock, euh apa ini? Pop, hadeuh kok sedih bawaanya. Dangdut, please deh aku gak bisa goyang. Dance, Club, R&B, Rap...Semuanya tak cukup enak ditelingaku. Sampai mereka(my bro and sista) menginfluentasiku dengan berbagai jenis musik yang masing-masing mereka senangi. 

Dan hasilnya aku menyukai Rock dengan group band Linkin Park. Masa-masa SD kelas 6 aku benar-benar menyukai lagu-lagu Linkin Park. Pas banget buat pagi-pagi sesudah mandi, sebelum berangkat ke sekolah. Pop, lumayanlah banyak konsumsi lokal sama interlokal. OMG, Britney Spears, Damn I love her. Dangdut? Yang lagi musim aja deh. Dance, Club, R&B, Rap...ouh, Rihanna, Ke$ha, Beyonce, David Guetta, Pitbull, Enrique Iglesias...and many more. Eits, ketinggalan satu untuk Classic/Opera, I love Josh Groban.

Josh Groban
Itulah ya sedikit substansi musik dalam hidup saya. Go on...

Blog. Pretty Damn, I love it. Berterimakasih sekali dengan perusahaan tempat kerjaku dulu di Tasikmalaya yang mengkudukan karyawannya melihara blog. Dan inilah hasilnya Blog Uyo Yahya. paling fantastis sejagad raya, dunia-akherat, aamiin. 

Dengan nge-blog aku mampu bersosialisasi dengan lebih baik dan yang paling utama bisa menyalurkan hobby menulis. Ya, hobby menulis walau pun postingan tidak selalu mengundang banyak komentar, tapi dalam hati ini cukup puas. Puas rasanya, walaupun setidaknya cuman dikomen "wah bermanfaat sekali...". Apalagi yang suka ngasih pendapat dan kritik, disyukuri pisan.

Kedepannya mudah-mudahan blog ini tidak akan mati, dan akan menjadi media pribadi untuk mengungkapkan segala resah hati, gelisah akan kehidupan ini. Tidak ketinggalan juga untuk mencatat momen-momen bahagianya.

Paling fantastis sejagad raya, dunia-akherat. Aamiin
Buku. Ini adalah setumpuk kata, kalimat, paragraf, kisah dan pemaparan kisah yang mampu membawa diri ini masuk entah ke negeri khayalan yang mana saja dan terserah bagaimana aku akan membawanya. Bebas, benar-benar bebas. Seperti di alam mimpi yang sebenarnya kita diberikan hak lebih untuk memasukkan siapa saja yang boleh masuk ke mimpi kita. Sederhana, eksekusi memori dan individu yang tidak ingin di munculkan dalam mimpi dari kehidupan kita dan pertahankan, pegang erat memoru dan individu yang selalu ingin kita bawa dalam kenyataan, pun mimpi.

Tentang buku yang saya sukai, bahkan sudah dalam tahap mencintai, dan tergila-gila...of course, Harry Potter, menyusul Twilight, Charlie Bone, Davinci Code, Evermore and so on... Influens yang paling dirasakan, yang masih terasa "cumbuannya" di otak adalah Harry Potter. Lalu para pencuri hati yang lainnya, Evermore, YOU SUCK.

Influens ter-ah...

That's all lah ya Musik, Blog dan Buku dalam kehidupan pemilik blog Uyo Yahya, paling fantastis, sejagad raya, dunia-akherat. Aamiin.

Thursday, 22 August 2013

Draft Lagi #3

Saya tidak menyangka bahwa Cerbung (Cerita Bersambung) dari postingan Draft Lagi yang belum diberi judul resmi ini akan berkembang sejauh ini. Banyak ide yang meletup-letup di kepala dan saya harus bijak memilihnya. Semoga kalian suka lanjutan dari Draft Lagi #2 berikut...

Aku menyesali tindakanku malam tadi. Rasa canggung yang tadinya mulai melebur di antara kami berdua mulai menguat kembali. Bodohnya aku membiarkan instinct liarku menyeruak hanya untuk mengambil kertas setengah terbakar itu. Tapi lebih dari itu memang seharusnya akulah yang memlikinya, hanya aku.

"Tidur nyenyak?" Bibi Lutessa bertanya padaku disela-sela sarapan pagi ini.
"Tidak juga," aku jawab tanpa melihat matanya.

Selebihnya hanyalah suara denting dari peralatan makan yang kami pakai dan pemberitaan tentang kematian Paman Ian yang masih menjadi headline news televisi lokal meskipun Ia telah pergi dua minggu yang lalu. Yang kuheran apa mereka tidak menimbang bagaimana perasaan kami, bila memang Bibi Lutessa juga masih berduka, sebagai satu-satunya keluarganya? 

Mereka seenaknya membuat fakta bahwa penyebab kematian ditutup-tutupi karena polisi masih meragukan hipotesa yang mereka punya-padahal sudah jelas Ia memiliki jantung yang lemah di riwayat kesehatannya, belum lagi ada yang sebagian mengira Paman memang telah lama diincar setelah keberhasilannya mengungkap kasus korupsi besar-besaran pada masa Walikota Lynwood dan masih banyak lagi opini-opini tidak jelas yang berkembang di sekitarku.

Klakson mobil sekolah Evershine yang telah dua kali dibunyikan bagaikan penyelamat pagiku. Setengah gelas susu berhasil aku habiskan sebelum bunyi ketiga terdengar, yang bila memang sudah terdengar berarti mereka meninggalkanku. Tas sekolah kusambar dari kursi disebelahku lalu melangkah pergi meninggalkan Bibi Lutessa yang masih menikmati sarapannya. 

Apa aku keponakan yang baik, meninggalkannya tanpa "Sampai jumpa!"? Itu akan terlalu berlebihan terlebih mungkin dia memang masih berduka. Bila dipandang secara rasional, Paman Ian, Bibi Lutessa dan mendiang Ayahku Billy memang dibesarkan bersama di rumah ini. Dan dia telah kehilangan kedua kakak laki-lakinya, dia pewaris satu-satunya dari group perusahaan Vaughn, akan sulit baginya mengurusi segalanya sendirian, dan aku membiarkannya merasa sendirian. Tapi ekspresi datarnya memang terkesan "yang lalu biarlah berlalu".

Itu dia klaskson ke tiga yang berhasil mempercepat langkahku sesaat sebelum kulihat wajah Pak Gulliver yang memerah di kursi kemudi.

"Semoga harimu menyenangkan, nak." Sapanya saat aku telah memasuki pintu bis. "Berharaplah masih ada satu bangku untukmu di sana," tambahnya dengan sedikit gerakan kepala menunjukkan letak kursi penumpang.

Aku sedikit menelitinya sebelum mengucapkan, "Terimakasih, Pa Gulliver." Tidak biasanya dia seramah itu.

Bis cukup penuh namun aku berhasil menemukan kursi tempat biasa aku duduk, di sana baris kedua terakhir dari belakang, bagian yang paling dekat dengan jendela tepatnya. Aku juga melihat Rose telah terduduk di sebelah kursiku . Dia tampak salah tingkah, senyum dan ekspressi bertanya-tanya yang berlebihan. Aku hanya tersenyum dan berharap dia hanya akan mengingatkanku tentang beberapa tugas sekolah, tidak lebih dari itu dan memang biasanya hanya seperti itu. 

Akhirnya aku berhasil mengenyahkan tubuhku dikursi bis yang tidak bisa dibilang empuk. Bis melaju dan aku sungguh berharap embun yang melapisi bagian terluar kaca jendela yang hanya akan menjadi pusat perhatianku sampai tiba di sekolah. Tapi, aku punya Rose. Akan sangat keterlaluan bila mengabaikannya. Jadi kuputuskan untuk mengobrol dengannya sebelum...

"Kita punya essay yang harus dikerjakan selama liburan musim panas kemarin dengan kriteria yang telah dibeberkan Professor Wan di blognya. Tapi ada satu hal yang harus selalu kita perhatikan, lagi-lagi dia menyelipkan teka-teki di akhir postingannya. Ah, ini membuatku lebih penasaran padanya. Apa kau..."

Hey, Rose aku baru saja setengah menoleh, pekikku dalam hati.

"Sudah, sudah aku selesaikan di minggu pertama libur." Aku menyukai Rose, dia tipe cewek yang lumayan tidak karuan, terkadang menggebu-gebu, lalu menjadi penyendiri, setelah itu ceria dan seterusnya seperti itu. Lumayan aneh, tapi dia satu-satunya teman yang kupunya di Lakeheaven. Aku suka rambut hitam lurusnya, mengingatkanku pada rambut asli Nicki Minaj. Tapi percayalah, Dia tidak sejelek itu. Hanya saja dia kurang percaya diri.

"Tapi Luina, minggu pertama itu Pamanmu meninggal." Nadanya tampak hati-hati.

"Itu tidak menjadi halangan, aku mengerjakannya di dua hari pertama sebelum...," kuharap aku bisa menyelesaikan kalimat ini dengan lancar. "kau tahulah, Rose."

To be continued...

Saturday, 17 August 2013

Wanita

Aku setengah berhasil melalui hari ini. Ada kegamangan yang akhirnya mengantarkanku padamu, ketidakjelasan yang menyenangkan, beberapa hal terkuak tanpa sedikitpun usaha lebih membawaku pada kebingungan yang aneh. Aku tidak tahu cara merasa, seakan menolak pun bahkan aku tahu bagaimana caranya, lalu rasa kesal, lega dan sesuatu yang ingin membuncah ada di dadaku.

Apalagi tentang wanita cerdas yang dulu ku tahu, kini tak lagi ku tahu. Bersandiwara, lalu menutupnya lagi dengan sandiwara, seterusnya seperti itu. Aku tahu tanganku cukup kuat untuk menolongnya, tapi tadi itu terlalu cepat dan aku tak siap, aku masih dibentengi pemikiran bahwa kau tetap cerdas, dan kau lenyap, wanita.

Masih selalu dingin yang mengantarku pulang dari kehidupan sekitarmu. Aku harap bisa menjauh tapi benda-benda mutakhir ini membuat aku tak bisa menolak untuk sekedar mengetahui kabarmu. Mereka secara terus-menerus tanpa diminta memantau dan melaporkan apa yang kau ucapkan pagi ini, menu sarapanmu, pekerjaan, makan siang, rasa kantuk dan perjalanan pulangmu, serta bahasa dalam yang lebih halus mengenai bahagia, sedih, senyum, seringai, menangis dan tertawa.

Wednesday, 14 August 2013

#puisi Matahari

Aku putuskan menjemput pagi
Melayaninya dari hati namun tetap hati-hati
Matahari yang hebat, kami telah sejak dulu saling memahami dengan melihat
Yang tidak hanya mengaburkan batas hitam dan putih

Lurus-berliku, atas-bawah, kesempatan-kesempitan
Dari ujung barat dan juga timur
Kita mencari cahaya hangatnya
Matahari, setiap saat
Matahari, diantara dingin dan dingin
Matahari, terjebak selamanya
Matahari, matahari

Dimana singa melihatmu terlalu menggoda
Dimana tikus memandangmu adalah ketakutan
Tetap kau mencari dan mengadu
Itu dia yang agung
Menggolakkan yang beku, mendingikan mereka yang sok tahu

Matahari, raja di siangnya
Matahari, menembus hujan-hujan terderas
Mengeringkan tubuhku, hangat hingga tulang tempat tidak adanya bongkahan pejantan

Di puncak-terendah, di kesegaran yang layu
Matahari, menembus lapisan dan dugaan hidup
Ajaib menaklukan mahluk-mahluk ciptaan tangan-Nya

Wednesday, 31 July 2013

Draft Lagi #2

Akhirnya aku bisa menggeledah ruang kerja Paman Ian. Tidak banyak yang bisa aku temukan disana. Pertama lukisan itu benar-benar sama dengan sisa-sisa bangunan kuno di hutan kota, lalu ada secarik kertas setengah terbakar terselip di buku kesukaannya-tulisannya hampir memudar.

"Apa yang kau temukan?" Tanya Bibi Lutessa malam selanjutnya, seperti biasa di ruangan hangatnya.

Dengan hati-hati aku mulai bicara, menjaga agar yang kutemukan tidak terlalu membuatnya penasaran.
"Hanya secarik kertas usang yang terbakar,"  aku memberikannya kertas itu yang langsung diamatinya.
"Tidak banyak membantu," lanjutku. "Tapi, mungkin akan ku simpan."

"Menyimpannya?" Dahinya mengkerut menyelidiki.
"Benda apa pun yang terlihat terabaikan akan menjadi berharga saat kita bahkan tidak bisa melihatnya lagi," berhasil, kuharap kalimat ini membuatnya pusing dan menganggapku terlalu mengada-ada.

Dia memejamkan matanya untuk berpikir. Kursi goyangnya sedikit berayun. Ah, posisi kertas itu ada di tangannya. Kuharap ini tidak seperti yang sedang kubayangkan. Dia akan menganggap ini hal sepele seperti bagaimana dia biasanya bersikap dan membiarkanku pergi dengan kertas itu.

"Kupikir lebih baik bila aku yang akan menyimpannya," pandangan matanya meneliti mimikku, "bagaimana menurutmu?"
"Aku yang menemukannya."

Tadi itu tindakan spontan yang benar-benar diluar dugaan bahwa aku akan mampu melakukannya, menghianatinya. Aku melangkah dengan cepat mendekatinya dan secara kasar merebut kertas Paman Ian dari tangannya yang lemah, mungkin akan menguat seandainya dia tahu aku akan merebutnya secara paksa. Maafkan aku Bibi Lutessa, terimakasih telah mau bekerja sama.

***

Wednesday, 24 July 2013

Yang Ku Nanti?

Lewat tulisan sederhana yang berisi daftar-daftar nama yang masing-masing dari kita kenal aku juga menemukan namamu, kau juga melihat namaku. Tapi pasti ada yang berbeda. Hanya nama, menurutmu. Ah, nama itu, menurutku.

Aku sedang dalam suasana yang baik dan cenderung hangat, bahkan bisa membayangkan akan bagaimana aku bersikap di hadapanmu nanti. Aku bahkan mereka-reka kalimat sapaan seperti apa yang akan kulontarkan nanti. Tapi itu terjadi senbelum potret-potret digital itu kubuka. Terbahak dada ini melihat banyak juga orang yang mengelilingiku dan mereka semua tersenyum, tertawa. Efeknya seketika menular ke dadaku, aku tertawa dalam kesendirian di ruangan kerjaku. Aku sungguh ingin berdoa agar kebahagiaan itu bertahan lama untuk setidaknya beberapa menit bila saja ku tahu potret-potret bagianmu adalah pengganti bahakku.

Lalu, aku dihadapkan pada daftar nama-nama itu. Duar...hening. Aku harus mengumpulkan kepingan-kepingan akal sehatku.

Sunday, 21 July 2013

Mantap, Mereka Mendukungku

Jadi aku merasa masih muda dengan umur 20 tahun ini. Otakku masih mampu menerima banyak input dari hal-hal baru yang kutemui, didasari rasa suka atau tidak. Yeah, untuk yang pernah membaca postingan Gue Amfibi (Ambivert) mungkin sudah sedikit mengenal seperti apa orang dibalik blog ini, 'mahluk' tidak jelas seperti apa yang dengan rajin, kalau mau dibilang rajin, menulis artikel-artikel mengenai hidupnya di blog ini. Egois ya, kapan membuat artikel yang benar-benar bermanfaat, tulisannya tentang diri-sendiri.

Kembali ke laptop dan tema kita di malam ini talk about dukungan. Aih, tukul pisan.Mari sedikit membahas tentang amfibi(baca: ambivert), sedikit mengingatkan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang mewarisi tipe ekstrovert dan introvert. Kadang meledak-ledak, kadang terccenung-murung; terkadang "Hey, ini aku!", di lain kesempatan 'Just leave me alone'.

Beranjak dari introvert sejati yang menahan banyak ide dan perasaan, tidak diungkapkan, dipendam, membusuk. Melakukan gerilya untuk mendapat pengakuan dari mereka yang banyak bicara dan berhasil menemukan jati diri yang tidak mudah ditebak. Bahkan tak bisa disangkal, aku pun merasa takut. Haha. Waktu itu aku bahkan bisa lebih cerewet dari saudara tiri saya yang tidak jahat, mudah-mudahan, Elsa.

Dua minggu sebelum Ramadhan Ibu berkunjung ke Tangerang, ke rumah kakak. Waktu itu sedang khitanan keponakan dan saat suasana rumah lenggang, ehm, sedikit berbicara serius dengannya.

"Uyo pengen kuliah."
"Baguslah," responnya.
"Tapi jurusannya," jeda, tapi tidak sampai satu menit, "bukan IT lagi."
"Lalu apa?"

Aku membuka file ebook berbahasa inggris dan mulai membaca satu paragraf lalu mengungkapkan entah bagaimana aku mampu mengerti seluruh paragraf itu. Maksudku, alami. Tanpa pernah mengambil kursus. Hanya dicekoki banyak lagu bahasa inggris oleh kakak-kakakku dari jaman boyzone, backstreetboys, westlife dan britney spears.

"Sastra Inggris," jawabku mantap. "Tidak masalah, 'kan?"
"Yang penting Uyo bisa dan 'suka'."
I love you, mom.

Masih di hari yang sama aku ungkapkan keinginan itu kepada salah satu kakakku dan dia menyatakan respon yang tidak berbeda.

"Yang penting kita suka, itu akan lebih mudah. Jadi, udah mulai nabung?"
"Belum."
"Yaudah, nabung dulu dan kerja yang bener."
"Siip!"

Tidak ada yang istimewa, mungkin. Tapi itu berlaku bagi orang yang tidak ada sedikit pun unsur keintrovert-an. Mengungkapkan keinginan yang benar-benar besar dan disetujui oleh mereka, Oh, it's a big, I meant really-really a big, bigger, the biggest achive I've ever reached...

Pernah kalian bayangkan orang yang teramat menyukai dunia membaca harus berhadapan dengan sesuatu yang teknikal? Ironi. Tapi ini hidup. Kita hanya dituntut untuk bisa menjalani skenario Tuhan dan tentu saja berusaha bila menginginkan perubahan.

Saturday, 20 July 2013

Draft Lagi

Selalu, aku memilih malam sebagai waktu yang tepat untuk bisa berbicara dengannya. Aku cukup terkejut dengan banyak hal yang bisa kuungkapkan. Mulai dari sekolah, teman-teman hingga hal tidak penting seperti vas bunga di samping pintu depan yang kutemukan telah pecah pagi tadi, dan yang pentingnya aku mulai terbuka tentang keanehan-keanehan yang kurasakan akhir-akhir ini, di kota ini.

Di hutan kota ada sisa bangunan kuno, hanya bongkahan-bongkahan tembok dari batu dengan tekstur yang kasar. Aku hanya sedang mengalihkan perhatianku dari kesedihan mengenai kepergian Paman Ian, membiarkan kakiku entah kemana dia akan melangkah, tersandung lalu terkejut menemukan sisa-sisa bangunan tua. Awalnya tak ada yang menarik, tapi aku menemukan kesamaan arsitekturnya, kendati sulit untuk pertama kali meyakinkan diriku bahwa ini sama dengan lukisan yang ada di ruang kerja Paman Ian.

"Dia memang menggali segalanya mengenai kota ini," jelas Bibi Lutessa, "Pamanmu, Ian."
"Aku hanya tidak mengerti," kalimatku mengambang sebelum, "Seandainya pihak Polisi setidaknya mengijinkanku untuk menggeledah ruang kerjanya."
"Dan aku tidak mengerti dengan kata 'menggeledah'?" Aku tidak mendapat kejelasan dari maksud ucapannya, terkesan mencari tahu apa yang ingin kutahu.

Kecanggungan menyeruak di antara kami dan aku tak bisa memecahkan kedinginan ini, jadi kuputuskan untuk beristirahat.

"Tapi, bila saja kau lebih terbuka padaku tentang apa yang sedang kau lakukan dengan semua ini," mengejutkan. Aku berbalik memastikan bahwa ini awal dari perubahan pikirannya. "Aku mungkin bisa mengaturnya."

***


Monday, 15 July 2013

Apa Yang Terjadi

Banyak kata-kata yang dulu tertahan di sini. Lalu ada juga keraguan yang lebih memegang kendali. Takut, gamang dan juga yang lainnya seakan memang mereka mengadakan voting. Padahal hanya perkara sederhana untuk menjawab ya atau tidak.

Dan si bijaksana yang diharapkan kehadirannya tersandung batu gelisah buah karya si penakut. Pecahlah sudah peperangan antara kebaikan dan keburukan. Derita, dendam dan kewaspadaan yang mendekati gila hanyalah warisan yang tidak diharapkan oleh kegagalan.

Sementara di pihak pemenang, rasa sudah tak ada. Hanya lahir yang dibanggakan tanpa melihat sisi makna. Arti diabaikan, tanpa tahu mereka marakit boomerang di setiap hari sepanjang tahun, kuharap hanya tahunan, tak ada dekade, bahkan millenium. Jangan ada.

Lalu hal-hal aneh pun terjadi. Khatulistiwa yang bergeser, namun hanya ilusi para pemimpi-sepersekian detik jeda kehidupan, mustahil-malam yang lebih terang daripada siang, kau hanya terlalu lama terlelap-lalu dia datang kembali, mimpi yang terlalu mengobsesi, karena saat ku selesaikan tulisan ini, dia hanya ada di halaman sebelumnya.

Saturday, 13 July 2013

Unhandled

Aku telah mencoba, kupikir ini telah maksimal, tapi tidak. Memang ada hal-hal yang mahluk sebiasa diriku tak bisa kendalikan. Waktu.

Bagaimana pagi dalam waktu yang teramat singkat telah berubah menjadi petang, malam menjadi siang, dingin menjadi hangat dan beberapa manusia yang terlena, berubah.

Aku menarik pikiranku dari peredaran. Tapi selalu mudah untuk ditemukan yang lainnya. Ada bagian diri ini yang tidak bisa untuk tidak menarik perhatian mahluk lain. Mereka pikir itu unik, tapi bagiku cukup mengganggu.

Oh, aku telah banyak berkutat dengan diriku sendiri. Mendikte hal-hal yang harus dan tidak untuk dilakukan, tapi semuanya seperti hanya dalam waktu sepersekian detik hilang saat ku berhadapan langsung dengan mereka.

Dan aku lagi-lagi melewatkan banyak kesempatan, ah.

Monday, 8 July 2013

Surat dari Hogswart

Hampir sepuluh tahun aku menunggu semenjak ulang tahunku yang ke sebelas, tapi surat dari Hogswart tak kunjung datang. Aku tidak pernah melihat burung hantu di halaman, bahkan kotorannya pun tidak.

Sial, Rowling benar-benar menginfluensi pikiranku. I'm 20, tapi masih berpikiran bahwa kemungkinan datangnya surat pertama dari Hogswart itu masih ada. Liarnya pemikiran ini. Jadi sekarang ini tengah malam dan aku ingin mengunjungi hutan terlarang. Mungkin disana akan ada centaurus, atau unicorn, atau bahkan you-know-who. Dan ini semua hanya kebohongan.

Lalu, mungkin, disana aku akan menyukai Quidditch. Jauh bertolak belakang dengan kehidupanku di sini. Aku tidak menyukai olahraga permainan. Tubuhku ramping, jadi cocok untuk jadi seorang seeker. Ramping itu berarti ringan, tentu saja.

Dan yang tidak kalah penting aku akan memaksa Topi Seleksi untuk menempatkanku di Ravenclaw. Tapi jika dia benar-benar memiliki metode kerja yang baik, tentu aku tidak perlu memaksa. Facebook quiz memang menempatkanku disana.

Ada suara aneh yang mengetuk pintu. Mungkinkah? Aku tidak ingin membuang waktu. Jadi langsung kubuka dan yang datang hanya realita kehidupan yang dingin menusuk tulang rusukku. Tentu saja, ini malam hari dan angin lembah memang seperti ini.

Jangan terlalu serius. Ini hanya ungkapan ekspresi khayalanku yang terlalu liar. Tapi, kegilaan ini membuatku bahagia.

Saturday, 6 July 2013

Draft

Tak ada yang tahu, karena aku tidak pernah berpikiran bahwa pun mereka tahu akan merubah keadaan. Kecuali Larry yang kerap kali ke ruanganku, tentu saja, tanpa sepengetahuanku sebelumnya. Terakhir dia membuka file-file notepad di komputer dan kuharap isinya tidak akan melekat terlalu lama di kepalanya.

Dan aku masih belum menemukan mengapa kematian Kepala Sekolah Morning Bright seakan bukan hal yang mengejutkan bagiku. Aku menghormatinya, tipe manusia tulus di jaman sekarang ini. Aku mengikuti upacara pemakamannya, meneteskan air mata, kembali ke rumah, berpikir tentang kematian dan terakhir itu hal yang menyenangkan.

Terlalu banyak pemikiran yang berseliweran di kepalaku. Mulai dari topik apa yang akan kubawakan di acara SatNight di radio Augsburg, tentang pendidikanku, Ibu dan mantan suaminya, maksudku Willy Ayahku, dan yang paling mengocok perutku, Jaime tidak lagi sendiri. Ini hanya tentang aku dan kelihaian memilah mana yang lebih penting untuk dipikirkan saat ini. Aku harus menentukan prioritas.

SatNight di Augsburg harus selalu menarik. Ini satu-satunya pekerjaan yang kupunya sekarang dan lumayan menyenangkan kendati harus berpura-pura ceria di telinga para pendengar. Tapi aku tiba-tiba diserang kebencian terhadap kepura-puraan. Setelah sembilan tahun bertetangga, bersekolah dan bergaul bersama dengan Parker, baru di pesta kemarin aku mendapatinya berciuman dengan salah satu anggota keluarga Malkovich.

Aku seharusnya tidak membesar-besarkan masalah ini. Tapi, aku sempat berpikiran bahwa mungkin Parker akan menjadi pilihan terakhirku saat telah banyak pria mengecewakanku. Itu memang tidak adil untuknya. Tapi Parker dengan Malkovich lebih tidak adil lagi untukku.

Apa ini? Biasa, hanya draft di kepala.

Wednesday, 5 June 2013

Menolak Pertanyaan

Diruntuti pertanyaan membuat saya agak Disturbia...
Saya menghargai orang yang ingin bertanya. Entah itu kepada diri saya pribadi atau ke orang lain. Bertanya membuat kita lebih percaya diri dalam melakukan hal yang kita tidak kuasai. Bertanya juga membuat orang lebih supel. Satu nilai tambah tersendiri untuk diri kita. Tapi, bagaimana dengan pertanyaan yang monoton, itu-itu saja dengan frekuensi yang bahkan bisa disebut sering?

Menurut saya menjadi penannya juga mesti memperhatikan situasi dan kondisi dari orang yang akan kita tanya. Lihat apa dia sedang sibuk atau tidak. Tentunya saya tidak perlu menjelaskan secara rinci situasi paling tepat untuk kita bertanya karena dalam hidup tidak ada situasi yang sama persis, kendati pun ada dapat dipastikan jumlahnya tidak banyak.

Sebagai pihak yang ditanya kita diharapkan untuk memberikan respon sesuai harapan penanya. Bertanya kembali kepada penanya tentang dalam ruang lingkup apa kita bicara, memberikan penegasan apa jawaban yang kita berikan sudah memenuhi apa yang diinginkan penanya atau belum, saya rasa keduanya perlu. Ini bisa membuat jawaban yang kita hasilkan memuaskan.

Bicara tentang pertanyaan yang sama, monoton, itu-itu saja, frequently-asked-question, jujur saya sedang mencari hal apa yang sepantasnya dilakukan untuk meresponnya. Pertanyaan seperti ini sangat mengganggu konsentrasi kerja saya. Tidakkah orang-orang berusaha untuk mencatat, setidaknya dalam ingatan mereka, tentang jawaban dari FAQ? Atau apakah ini terjadi karena otak mereka didoktrin untuk menolak hal-hal sepele, dengan kata lain memori sudah terlalu penuh dengan hal-hal penting sehingga yang sepele dikesampingkan?

Pertama kali ditanya alangkah baiknya kita berikan respon terbaik. Usahakan menyenangkan si penanya. Kalau jawaban dirasa tidak memuaskan, tegaskan saja bahwa "Oh, maaf hanya itu yang saya tahu". Lalu bagaimana bila kita diruntuti pertanyaan beruntun yang membuat kita kewalahan bahkan menghabiskan waktu? Menolak adalah jawabannya.

Lalu saya mulai berasumsi tentang cara menolak pertanyaan-pertanyaan sejenis. OK, ijinkan saya untuk sementara melepas bahasan tentang bertanya. Lebih spesifik saya ingin tahu bagaimana cara sobat menolak, apa pun itu. Karena yang saya alami adalah seperti ini:

Menolak secara tegas, terkadang orang tersinggung dengan tindakan ini. Menolak dengan halus, terkadang cara halus malah lebih menyakitkan. Saya ingin menolak, tapi tidak membuat orang merasa bahwa kita terlalu sombong bahkan untuk diajukan pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak.

Ada masukan? How to refuse frequently-asked-question?


Wednesday, 29 May 2013

PHP dan Cinta ABG

hoaaam...masih ngantuk. Selamat pagi insan blogger semuanya. Telah saya tanggalkan setan-setan yangbergelayutan di bulu mata mengajak terlelap kembali, telah saya abaikan pelukan selimut yang mengajak ke dalam kelelapan, telah saya kekang sekuat tenaga nafsu untuk kembali tidur setelah shubuh hanya untuk menulis di blog ini. Alhamdulillah, kesampaian juga setelah seminggu, kalau tidak salah, tidak menyentuh New Entry button di dashboard blog.

PHP. Ada yang tahu apa itu PHP? Orang IT atau pun yang berminat dengan phrasa tersebut bilangnya itu bahasa pemrograman yang merupakan kepanjangan dari Hypertext Peprocessor. Lebih tepat merupakan bahasa pemrograman web. Digunakan oleh para web programmer untuk menciptakan website.

Lalu apa ini? Saya menemukan bahwa PHP disalahartikan oleh para remaja sekarang dengan singkatan "Pemberian Harapan Palsu". Oh, my... Yang mana ini berlaku saat seorang remaja mendambakan seseorang, kemungkinan sudah sampai ke tahap pendekatan, namun dari pihak yang didamba tidak memberikan kejelasan. Yang dilakukannya hanyalah memberikan perhatian-perhatian yang membuat pihak si pemuja melayang-layang dan berharap lebih dari itu, tapi semuanya hanya harapan palsu. Cucian...cucian...

Oke, sudah lupakan mengenai PHP yang satu itu. Ada lagi nih cerita yang membuat saya merasa dipecundangi oleh keponakan saya sendiri dan masih ada sangkut pautnya dengan PHP.

Singkat cerita weekend kemarin saya berkunjung ke rumah kakak saya di Tangerang. Suasana rumah waktu itu lenggang dan kedua keponakan saya tidak ada. Setelah saya tanya ke Ibunya, yang mana adalah kakak saya, katanya Olis, yang gede, lagi ikut seminar, dan yang kecil, Krisna, lagi maen.

"Seminar apa, sih?" Saya penasaran.
"Tahu tuh kayanya windows-windows gitu," jawab kakak saya, gak pasti.

Jadi saya mengambil kesimpulan oh mungkin seminar windows 8 yang masih baru-baru itu. Selebihnya waktu saya habiskan untuk blogwalking sampai tibalah si Olis di rumah.

"Abis seminar apaan sih?"
"Debian Linux," jawabnya datar.
"Wiss..hebat anak SMP belajar Linux. Belajar apa aja?" Penasaran memuncak.
"Banyak," jawabnya singkat.
"DNS? dhcp?" Mulai curiga ini anak minat di dunia IT.
"Iya," masih datar.
"Lancang kali kau, anak SMP belajar administrasi server!!!"

Singkat cerita sang ponakan terlibat diskusi IT dengan pamannya. Dan diakhir hari ada yang bikin saya merasa benar-benar dipecundangi. Dia belajar PHP dikit-dikit. Apa? Iya, PHP web programming. huh...yang gue gak pernah belajar dan gak berminat, dipaksa-paksain belajar juga gak ngerti-ngerti.

Rasa terhina saya tidak sampai disitu. Ini paling membuat saya merasa rendah. Jadi, ceritanya, dia yang bilang, Orang lain pacaran kasih pacarnya boneka-Olis mah kagak.

"Terus lo ngasih apaan?"
"webpage PHP ada tulisannya."
"Tulisannya apaan?"
"Ada deh..."

Anjrit...yang ini saya dikalahkan dengan dia punya pacar-saya nggak, dan bahkan oleh cara berpacarannya. Kill me...

Sekian pemberontakan hati hari ini...

Friday, 24 May 2013

Gue Amfibi (Ambivert)

Berkat insomnia semaleman alhasil paginya gue kesiangan. Jam 8 men gue baru bangun. Abis itu langsung loncat ke kamar mandi. Ciaaat…*gedubrak. Gak ada apa-apa sih. Cuman dramatisir. Abis mandi dandan cakep buat kerja. Kadang bertanya-tanya sendiri sih: buat apa rapi-rapi ke kantor kalo udah pasti bakalan lecek pas turun dari kopajanya? Lagian, di kantor juga mayoritas cowok. But, kata guru SMP gue: well-groomed is a must.

Gayanya so-soan ngomongin penampilan. Padahal udah tentu gue tuh tiap pagi, dari jaman sekolah ampe sekarang kerja, pasti kucel, lecek dan gak banget deh. Orang ya kalo pagi-pagi nyampe kantor atau sekolahan itu rapi, wangi dan seger deh keliatannya. Niat banget gitu buat ngejalanin hari. Lah, gue… udah kayak sayuran di pasar yang gak laku. Sisa dari sayuran yang sama sekali gak diminati pembeli. Baju lecek(padahal udah disetrika), keringetan(desek-desekan di kopaja) dan lusuh(muka kusut, pagi-pagi tapi udah cape)- itulah penampakan gue kalo pagi hari.

Pagi tadi gue nyampe kantor jam 9 lebih 10 menit. Huh…lumayan. Lumayan siang banget. Pas naympe langsung simpen tas, ambil minum, terus balik lagi ke meja gue. Gak lupa, mana mungkin lupa, keluarin laptop dari tas. You can guess lah apa yang pertama gue buka pagi-pagi kalo tiba di kantor, browser. Lebih lengkapnya ngecek komen blog ama sedikit blogwalking. Selebihnya sedikit nyimak gossip di yahoo! OMG! Dan tentu saja, facebook. Hehe

Entah kenapa gue dari semalem, karena imbas dari insomnia ampe jam 2 nih, jadi banyak mikir tentang diri gue. Kenapa gue begini, kenapa gue gak begitu. Kenapa orang lain yang begitu, dan kenapa gue malah begini. Akhirnya gue buka kompasioner dan buka artikel tentang ambivert. Asing juga sih di telinga gue. Baru nemu kata kayak gitu yang lebih cenderung ngoneksiin ni otak ke kata amfibi. Tapi, eh bener ada hubungannya juga ama amfibi. Itu tuh hewan yang idup di dua alam kaya alm. Suzanna kalo difilm2nya. Yep, bener pada tahukan kodok-katak-bangkong?!

Tapi, hello…plis jauh buang-buang pemikiran tentang amfibi. Entar kalo lo ngehubungin ambivert dengan amfibi lo piker gue mahluk yang bisa loncat lebih dari 20 cm itu. Bukan men, gue bisa lebih dari itu. Hehe.

OK, focus. Dalam ilmu psikologi dikenal 2 tipe kepribadian, ekstrovert dan introvert. Ekstrovert cenderung merupakan mereka yang terbuka dengan kehidupannya dan lebih periang. Cenderung mendominasi dan bahkan memaksa. Sedangkan introvert kebalikannya. Mereka tertutup dan pemalu, mereka senantiasa mengiyakan apa yang orang lain inginkan dari dirinya tanpa sedikit pun membantah. Seorang ekstrovert lebih cenderung menggunakan kata “saya” sebagai pencitraan diri sendiri, sedangkan introvert lebih sering menggunakan kata “kita” untuk berbaur dan tersamarkan dengan yang lainnya. Ayo kalian termasuk yang mana?



Kalo gue sih ambivert. Ini adalah tipe yang posisinya ada diantara ekstrovert dan introvert. Sifatnya juga mengadopsi dari kedua sifat dasar itu. Jadi ambivert itu membingungkan. Kita suka suasana yang sepi tapi tidak yang sesepi kuburan, pada saat yang sama kita juga menginginkan keramaian. Kita suka berada di keramaian, tapi pada saat yang sama benar-benar mendambakan suasana yang menenangkan. Kita bisa sangat terbuka, namun di lain kesempatan amatlah terutup. Kita bisa sangat periang bahkan terlihat gila, tapi kadang juga diam mematung dan tak mengacuhkan keadaan sekitar.

Kalo kata temen gue, Rpananjung, gue itu pinter menempatkan diri. Diem dan kalem saat pertama-tama, namun lumayan cerewet pas udah diterima ama lingkungannya. Dan ya, kalian yang udah kenal gue lebih dari 6 bulan pasti melihat perubahan itu. Lebih komplit melihat kapan gue tertawa ngakak dan kapan gue bahkan untuk idup pun kayanya gak niat.


Beruntung banget gue buka kompasioner pagi ini. Jadi tahu gue itu sebenarnya apa. Dan ternyata gue amfibi…

Wednesday, 22 May 2013

Silet: Intro Ice Cream

Ice Cream? Ice Cream? Kenapa posting Ice Cream? Seberapa pentingkah Ice Cream sehingga kisah hidupnya patut diangkat ke sebuah artikel di blog fenomenal Uyo Yahya. Apa yang ada dipikiran saya ketika memutuskan bahwa ini akan menjadi artikel yang menarik? Selamat pagi, pemirsa. Hari ini bersama saya, Uyo Yahya, kita kembali menyaksikan kisah-kisah selebriti, serta hal-hal yang dianggap tabu, menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Semua akan kita kupas tajam, setajam... Silet! #obsesipresenter

Ngakak deh kalo saya udah inget sama yang namanya acara gosip fenomenal yang satu itu. Silet. Dari mulai opening ampe tutup itu acara tata bahasanya lebay banget. Ketauan suka nonton gosip. Tak apa lah.

Mungkin sebelum saya mendoktrin bahwa acara dengan host ngetop Feni Rose ini menggunakan kata-kata lebay, yang ada di pikiran kita bahwa "Oh, mesti kayak gini nih kalo bikin acara tivi. Beda."-"Wah, yang nyiapin scriptnya pinter merangkai kata"-"Hm...Feni Rose cerdas dalam menyampaikan berita dengan gayanya sendiri." But, wait a minute sobat semuanya. Yuk simak dulu beberapa kata bahasa Indonesia yang sesuai EYD bilamana diterjemahin ke bahasa Silet jadinya seperti apa.

Bahasa Indonesia: Selingkuh
Bahasa Silet: Goncangan kesetiaan cinta ini kandas sudah

Bahasa Indonesia: Galau
Bahasa Silet: Lara merundung menyersakkan dada, sungguh hanya kekasih pelipurnya

Bahasa Indonesia: Cantik
Bahasa Silet: Raga indah nan elok bak batu permata Cleopatra

Bahasa Indonesia: Kebelet BAB
Bahasa Silet: Desakan jiwa dan nurani menyemburatkan rona tertahan ingin bebas tapi tak berdaya di hadapan yang tercinta

Bahasa Indonesia: Penggemar Justin Bieber
Bahasa Silet: Perawan-perawan labil yang menggelinjang di depan panggung

Bahasa Indonesia: Kentut
Bahasa Silet: Sekelebat nirwana yang memapas raga dan aroma

Bahasa Indonesia: Selesai BAB
Bahasa Silet: Setelah bergeming dengan deru asa hingga bersimpah peluh akhirnya tergores senyum di wajah

Sumber kamus http://claude-c-kenni.blogspot.com

Gimana? Lebay 'kan? Gak kebayang ya kalo bahasa Silet dipake buat bahasa sehari-hari. Haduh, kayanya orang-orang kalo angkat bicara bakalan lamaaa banget.

.


Monday, 20 May 2013

Kecanduan

Terakhir udah lebih dari segini, dan sudah tereksekusi dari kosan ku.


Kecanduan. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa sebenarnya penyebab dari kecanduan? Dari buku LKS Kimia SMP kelas VIII-beruntung sekali aku masih mengingatnya-terlebih beruntung lagi aku mendapatkan seorang guru dengan teknik mengajar yang baik, setiap bab diakhiri dengan ulangan lisan-otakku bekerja dengan baik untuk kategori pelajaran hapalan-proses kecanduan adalah seperti ini: kau mengonsumsi zat baru yang diserap tubuhmu, kau merasakan efeknya, otak merekam apa yang kau rasakan, jika kau merasa ini membuatmu lebih baik maka saat tubuh tidak diberi lagi zat yang sama pada interval tertentu otak akan memerintahkan pikiranmu untuk mengonsumsi zat tersebut. Jadi,hati-hati dengan apa yang kau makan, minum.

Tidak terbatas hanya pada zat yang dalam prosesnya dimasukkan ke dalam tubuh kita. Kecanduan juga bisa berupa hal-hal yang bersifat lebih lembut. Seperti maniac film yang kecanduan menonton dan selalu menonton film, shopaholic yang dialami para wanita, supporter olahraga yang bahkan membuat idolanya terlalu gugup karena luapan semangat mereka yang lebih dari idolanya, book addict yang dialami para remaja, music, hang out, dan hal-hal semacamnya termasuk kecanduan menulis seperti yang dialami banyak insan blogger. Lebih lembut karena kita tak bisa menyentuhnya tanpa mengalaminya sendiri. Dan cara kerja otak untuk hal-hal semacam ini tidaklah beda dengan yang dilakukannya pada zat makanan.

Kita merasa bahagia setelah melakukan hal yang kita sukai. Otak merekamnya karena bahagia membuat tubuh melakukan proses kehidupannya dengan baik. Normal bila kita ingin mengulanginya. Dan siapa pula yang tidak ingin kebahagiaan…abadi? But, always remember that our freedom are bothered by another people’s freedom. We’re social creatures that we cannot deny. Even sometimes we want to betray it. No way …

Bicara panjang lebar…Kecanduan soda atau minuman berkarbonasi, itu yang sedang aku alami. Rasanya konyol sekali. Seperti menghianati artikel berjudul “Minuman Soda Investasikan Stroke di Hari Tua” yang pernah aku buat di satu website kesehatan.

NP: Judul artikel tidak pernah sebagus itu sebelumnya.

Saturday, 18 May 2013

Dalam 3 Hal Kita Perlu Egois


Mengutip dari pembicaraan dengan sahabat sekaligus saudari tidak serahim saya, Mbak Elsa, ada 3 hal yang adalah wajar bila kita egois di dalamnya. Jodoh, karir dan uang. Menurut saya mengejutkan memang bagaimana remaja seperti kami bisa membuat teori seperti itu. Pengalaman? Oh, tentu saja. Mbak Elsa mengungkapkan itu saat dia sedang berurusan dengan seorang pria yang I know him well.

Untuk jodoh saya tidak bisa berbicara banyak karena tidak pernah sekali pun mengalami sampai tahap pacaran. What? Serious? That’s the fact.

Bagaimana dengan karir? Oh, yang ini saya sudah “mulai” egois. Tahapan selanjutnya adalah saya harus mencapai keegoisan tentang karir hingga mencapai persentase sempurna, 100. Seperti yang tertuang di Kamu bisa,yo…saya masih harus menundukkan kepala untuk saat ini. Menunggu sampai tibanya waktu mengikuti intuisi hati. Rasanya tidak sabar ingin merasakan sensasi seratus persen itu. Sebentar, kenapa terpikir iklan Mizone ya?

Untuk hal ketiga yang wajar bila kita egois di dalamnya yaitu uang…huh…Everybody already did it, I know. Bahkan urursan uang dengan saudara pun egois itu perlu, tapi tidak harus. Tapi secara umum memang perlu. Berbicara tentang teori uang saya tidak bisa berkata banyak juga. Rasanya terlalu percaya diri bila seorang yang masih terlalu muda seperti saya berbicara teori tentang uang. Bekerja menjemput uang pun masih bisa dikatakan tidak lama.

Jodoh. Karir. Uang. Hal yang wajar bila kita egois di dalamnya.

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...