Sunday, 24 March 2013

Soto Sohib


Hoah…weekend! Rencana apa yang sudah sobat buat untuk weekend kali ini? Gue sih rencana mau ke Grogol, ke kosan kakak gue. Apa pun yang akan sobat lakukan hari ini semoga diberikan kelancaran. Aamiin.

Minggu ini tiga hari gue belajar pemrograman di bootcamp. Dan selama itu pula logika pemrograman gue gak jalan dengan baik. Emang gak pernah sukses menjalankan satu tugas pemrograman real selesai dengan tangan sendiri sih. Terakhir bikin program anak-ayam-turun-sepuluh-mati-satu-tinggal-sembilan aja, panjang banget ini judul, gue nyontek script pascal punya temen sekelas. Harus gimana lagi, orang otak gue(dulu, mudah2an sekarang agak bagusan. Aamiin.) mentok logikanya, temen sekelas juga pada nyontek. Jadi kita melakukan aksi nyontek bersama. Bukan cuman aksi cuci tangan lifebuoy yang bisa dilakukan berjamaah. Nyontek pun bisa.

Tepat sebelum nulis ini postingan gue baru aja nyampe dari masjid abis sholat maghrib. Dan pas gue buka pintu kamar, pada tahu gak bau apa yang gue cium dari kamar gue yang selalu berantakan ini? Keringat? Bukan. Rokok? Maaf, gue bukan perokok. OK, daripada penasaran gue kasih tahu deh…Gue…mh…gue… Gue nyium bau yang segerrr banget, menggugah selera deh pokoknya, nerbangin khayalan lo ampe ke langit ke tujuh-ketemu bidadari-eh, ternyata mimpi. 

Ini adalah bau jeruk limau dan jeruk nipis dari kuah soto dalam piring, yang teronggok di pojokan, yang sebelum ke masjid gue makan dulu itu soto. Tersisa sedikit kuah dan ternyata selama gue tinggal aromanya mendominasi udara di kamar gue. Jadi pas gue masuk kamar gue berasa lagi shooting iklan pengharum ruangan. Blower tepat nerbangin ujung rambut gue sambil bergumam…“Mh… harum jeruk nipis dan limau.” Terus abis itu agak konyol sendiri, nyadar kalo … Kedua jenis jeruk ini lebih cocok untuk aroma sabun pencuci piring…

Lalu, bagaimana nasib si kuah soto? Berasa gak tega dengan kesendiriannya akhirnya gue sikat abis tuh sisa makanan gue. Belum lama kok, baru ditinggal ke masjid aja. Musuh bodoh mana yang bakalan naburin racun di itu makanan sisa. Tahu dong dia kalo itu makanan gak bakalan lagi diembat. Lalat juga kayanya lewat-lewat aja tuh. But, hey please. Gue nulis lalat bukan berarti kamar gue jadi lalu lintas sehari-hari itu mahluk-mahluk kotor ya. Hanya sedikit dramatisir.

Balik lagi ke kuah soto, pas gue makan itu kuah soto, bentar kalo kuah soto dimakan apa diminum ya, kalo diminum lah tuh soto bukan sirup atau minuman sejenis lainnya. Bisa juga mungkin ya termasuk minuman, rasanya yang asem seger karena kandungan jeruk nipis bisa jadi alasan kuat kuah soto dimasukin dalam kategori minuman. Tapi kalo dimakan juga bukan seutuhnya makanan. Bingung kan? Sama, gue juga.

Jadi lupa nih gue mau ngomongin apa, keburu dilema dengan pengkategorian kuah soto sebagai minuman atau makanan. Akhirnya gue dapet kalimat yang cocok nih… Pas gue “abisin” itu kuah soto gue langsung inget sama salah satu sohib tergokil gue waktu STM. 3 tahun gue sebangku ama ini mahluk yang idungnya kayak idung orang arab. Dia bukan cuman temen gue di sekolah tapi juga di kosan, kadang di rumah, kadang di mimpi(Nah lo…). Siapa dia? Jeng jreng… Nih gue kasih tahu, plus namanya gue kasih link ke akun facebooknya, DeZul.

Lebih spesifik kanapa gue langsung inget ini orang, semuanya terjadi di kosan, selalu di kosan. Si DeZul ini paling suka makan bareng-bareng. Makan apa pun itu. Nasi warteg kah, ayam bakar kah, makanan manusia ampe makanan anj*ng pun dia pengennya dimakan sama-sama. Solidaritasnya tinggi banget ni orang. Yang gue inget adalah kalo makan mie, apa pun varian rasanya, itu mie selalu abis ampe kuah2nya pun tak bersisa. Padahal setahu gue cuman nasi aja yang bakalan nangis kalo disisain di piring. Entahlah mungkin orang terdekatnya ada yang memberi tahu kalo kuah makanan gak diabisin akibatnya bakalan lebih parah daripada yang dilakuin nasi, mungkin sama nangis tapi nangisnya bisa ampe banjir air mata darah.

Hey, DeZul…baca atau gak baca ini postingan maneh mesti nyaho urang kangeun. Sorry basa eta. Mendadak banyak permintaan k teu jadi, mendadak kudu ka Tangerang. Karena lo itu kuah soto gue abisin. Hehe…  Lo bisa kasih tahu gak kalo kuah soto itu termasuk makanan apa minuman?

De, jigana maneh jago nya pemrogramanna… Engke ajarkeunnya?!
PS:
-Bootcamp, training kerja yang udah gue jalanin dari 14 januari dan akan berakhir tanggal 12 April.


Thursday, 21 March 2013

Definisi Sukses



Intermezzo kehidupan gue di planet bumi: Alhamdulillah, sore ini gue bisa pulang cepat lagi. Semua ini berkat gue nebeng ama kang syukur pemilik blog pesona kehidupan. Dengan pulang lebih cepat dari biasanya sesampainya di kosan, seperti biasanya setelah makan dan mandi(lazimnya orang mandi dulu ya baru makan…), sekarang gue bisa nyempatin diri buat sholat berjamaah di masjid. Sesuatu banget. Mudah-mudahan jadi kebiasaan. Aamiin.

Postingan kali ini gue pengen ngomongin tentang definisi suskses. Apa itu sukses? Perlukah? Pentingkah? Apa hidup akan berhenti jika kita tidak sukses? Jawabannya adalah relative. Tergantung dari individu yang menjalani kehidupannya, bagaimana ia melakukan peran kehidupannya dan atau diikutsertakan atau tidakkah orang lain dalam pertanggungjawaban pencapaian kesuksesannya.

Setiap orang mempunyai definisi suskses tersendiri. Ada orang yang memang mengukur kesuksesan dari materi, jabatan, hubungan asmara, pendidikan, spiritual(religius)dan bahkan ada pula yang cukup bersyukur dengan kesuksesan yang hanya berupa ketenangan dalam kehidupannya.

Mereka yang mengukur kesuksesan dari materi menganggap mereka berhasil dengan misi hidupnya jika mereka mempunyai setidaknya apa yang bisa mengkategorikan diri mereka ke dalam orang-orang bermateri tinggi, seperti kepemilikan rumah mewah, kendaraan mewah atau pun accessories2 limited edition. Sah-sah saja. Mereka menganggap diri mereka sukses karena itulah yang mereka targetkan.

Begitu pula dengan mereka yang mengukur kesuksesan dengan jabatan, dia mendapatkan posisi yang lumayan penting dan besar pengaruhnya di instansi atau perusahaan. Dia sukses dengan misi hidupnya.
Mereka yang menjadikan asmara sebagai definisi kesuksesan, tentunya, mendapatkan hubungan yang romantic dan semakin kuat dengan kekasihnya adalah tingkatan yang mereka idam-idamkan. Suatu hari mereka berkeluarga dan dikaruniai keturunan baik itu adalah pencapain tertingginya.

Mereka yang mendefinisikan kesuksesan dengan pendidikan ialah mereka yang teramat menilai sesuatu dari bagaimana proses mendapatkan sesuatau tersebut. Gue sendiri termasuk dalam kelompok ini. Ini semua karena keluarga gue yang teramat memegang teguh asas pentingnya pendidikan bagi kehidupan. Perlu digarisbawahi bahwa pendidikan berbeda dengan pengajaran. Yang artinya pendidikan tidak selalu dilakukan di lingkungan formal.

Mereka yang mengukur kesuksesan dengan tingkatan spiritual atau religi adalah orang-orang yang menurut gue tingkat kereligiusannya emang tinggi. Mengesampingkan dunia adalah hal yang tidak bisa semua orang lakukan. Benar sih anggapan mereka bahwa dunia akan mengikuti setelah akhirat benar-benar dilakukan syariatnya. Gue sendiri pernah kok ngalaminnya waktu kecil. Saat diri ini, caelah, masih belum dihitung dosanya, rasa-rasanya setiap keinginan yang gue pengen capai itu bisa kesampaian. Itu aja sih.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang cukup sukses dengan ketenangan kehidupan. Wah,wah kayaknya semua orang mendambakan kesuksesan seperti ini. Adalah sebuah kehidupan yang menjadi primadona saat kita mempunyai apa yang kita inginkan ditambah lagi dengan ketenangan saat memilikinya. Tidak ada ketakutan akan orang-orang yang akan merebutnya, ketakutan bencana yang akan menghancurkan dan dibebaskannya diri kita dari perasaan ketakutan akan kehilangan. Everybody will love it.

Tapi dalam pejalanan hidup mencapai impian dan kesuksesan ini, menurut seorang filosof yang namanya gue lupa siapa-maklum gue denger namanya dari film Cinta Suci Zahrana lebaran kemarin, “Akan ada masa dimana manusia bahkan tidak memperhitungkan kesuksesan apa yang telah didapatnya.”

Sobat semua, share dong apa definisi sukses kalian di komen… Salam.

Tuesday, 19 March 2013

Ide-ide itu…


Sebagai pecinta dunia khayalan gue sangat menghargai yang namanya ide. Sebisa mungkin jika memang memungkinkan, selagi dapet ide, pengennya gue dekap itu pikiran-pikiran cemerlang sampai mereka benar-benar tak sedikitpun berkurang kualitas dan jumlahnya. Pengennya bisa menuliskan apa yang tiba-tiba muncul di kepala ke dalam media yang ada pada saat itu juga. Alangkah indahnya hidup jika keadaannya seperti itu.

Tapi, hidup di kota besar ini, ide kerap kali terbang tanpa menoleh sedikitpun pada si empunya. Mereka menjauh seiring mood yang gampang sekali berubah layaknya cuaca ekstrem di negeri kita. Tahu kan perusak mood nomor satu di Jakarta? M.A.C.E.T huruf besar, underline, italic pula. Yang sering terjadi di setiap sore pulang dari tempat kerja: gue duduk, kalau emang lagi beruntung, di dalam kopaja, menikmati situasi di dalam bis dan ibukota sore hari sementara pikiran gue sibuk komat-kamit merangkai kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang gue lihat, rasa dan alami pada saat itu juga-memabandingkannya dengan suasana-suasana lain dalam kehidupan sebelumnya.

Yeah, itulah apa yang udah gue niatkan dalam hati untuk ditulis dalam blog ini sesampainya di kosan. Tapi, fuih, semuanya menguap seiring lalu lintas yang kian padat dan sudah dapat dipastikan berujung pada kemacetan. Rasanya ide-ide muak terhadap suasana bising, panas cenderung pengap dan kegiatan membuang-buang waktu di jalanan macet. Mereka seakan berpikiran lebih baik menghinggapi kepala-kepala yang dengan cepat mengalirkan mereka ke dalam sebuah tulisan daripada duduk betah di kepala gue yang sering kali menunda, bahkan terlalu sering, membuat mereka bosan.

Another thing in my daily, akhirnya salah satu temen satu kerja gue, Freddy, ngasih gue copyan installer adobe photoshop cs4. Hore!!! Gue bisa bikin editan-editan amatiran bodoh lagi yang kalau dilihat, diteliti dan ditelaah hasilnya tidak kalah dari mereka yang udah professional(lebih baik jangan percaya, tapi kalo terlanjur percaya, terserahlah…).

Oh, ya, weekend kemarin gue habisin di rumah kakak gue yang di tangerang. Kebetulan emak ama abah kemarin lagi disana juga jadi gak maulah gue ketinggalan kumpul-kumpul ama my lovely family. Yang gue sadari adalah: abah gue udah tua, keriput dan renta. Iba gue ngeliatnya. Berbanding terbalik dengan emak gue yang makin bulet dengan gumpalan lemak di tubuhnya, dia semakin tua tapi kulitnya gak terlalu keriput, kenceng karena lemak kali ya. Hari ini mereka udah pulang lagi ke tasik. Jadi kangen, lagi…


Thursday, 14 March 2013

Me vs Math


Hoammm…gak gantuk sih. Tapi tadi, tepat jam 11.30 PM, seekor uyoyahya terbangun dari tidur nyenyaknya karena ketukan pintu dari sang Ibu kos yang mau nagih uang kosan. Oh, shit! Kelihatannya gue kayak anak kosan yang emang sering telat bayar atau bahkan nunggak dan cenderung hidup dalam ketakutan tagihan uang Kos. But, it is big NO!

Uyo: buka pintu, “Iya bu?”
Ibu kos: wajah senyum mau nerima uang, “sekarang de tanggal 13.”
Uyo: beripikir keras dan menemukan jawaban, “Udah kok bu kemarin.”
Ibu: ekspresi kaget kayak gunung galunggung dikabarkan meletus lagi, “kemarin? Ama siapa?”
Uyo: “Ama si teh Dede(pengurus kosan)” kali ini gue gak terlalu mikir keras.

Seketika itu lewat mas-mas yang kamarnya hadap-hadapan ama kamar gue. Si Ibu langsung ngajak itu mas-mas dalam percakapan kita.

Ibu kos: “Tuh kan a, katanya si mas ini(gue) udah bayar ke si Dede. Tapi si Dede bilang belum katanya.”
Mas-mas: “Justru itu kan bu saya udah bilang sama Ibu mendingan kita bayar kosan langsung ke Ibu aja deh.”

OK obrolan ini selanjutnya lebih mengarah ke kebiadaban pengurus kosan yang kurang bagus management keuangannya. Dan dari obrolan ini juga gue tahu ternyata yang bikin gue agak sedikit gak betah disini itu bukan dari penghuninya. Penghuninya ramah-ramah, sama lagi kebanyakan orang sunda kawas abi. Hihi… Bukan, bukan mereka yang bikin gue suka kabur ke tempat teteh gue di grogol atau di Tangerang. Tapi si pengurus kosan yang emang kadang kayak orang yang haus duit gitu kalau lihat gue yang tampangnya berduit. Mau nimpuk pake uang? Silahkan, diterima dengan senang hati.

Dan ya, selain dari management keuangan kosan yang brutal, saya juga telah mendengar banyak kabar miring tentang si pengurus dan keluarganya yang tinggal di lantai dasar ini kosan. FYI, gue penghuni lantai ke tiga, lantai paling atas dengan kamar paling ujung. Muahaha… Apanya yang serem?

Karena terbangun dari tidur nyenyaknya akhirnya si malang uyoyahya tidak bisa kembali ke alam tidurnya lagi secara cepat dan dia mengidap insomnia akut. Berpikir tentang apa yang barusan terjadi dan tiba-tiba dari urusan uang nyambung ke masa kecil dan remaja di bangku sekolahan yang mempunyai sedikit masalah dengan, aduh gimana ya gue nyebutnya, horror. Tapi gue inget kata-kata Hermione: Ketakutan pada nama hanya akan membuatmu lebih takut pada individu tersebut. OK, gue ungkapkan, gue punya masalah sama “MATEMATIKA”.
Me vs Math
Memang dari dulu, seandainya gue tahu dari dulu, ada yang harus dirubah dari mindset pendidikan di Indonesia, so nasionalis, terutama untuk gue pribadi. Kayanya udah tahu otak mentok di matematika kenapa mesti dibela-belain ampe mewek-mewek bawang kalo gak bisa. FYI, aduh gue malu bilangnya, jaman duduk di bangku SD gue suka nangis kalo ada soal matematika yang gak bisa gue kerjain. Bahkan ampe insomnia ampe jam 10 malam. Jam 10 malam bagi anak SD itu insomnia. Dan kebiasaan mewek karena soal matematika kebawa ampe bangku SMP juga. Bangku STM juga kadang sih, tapi gak gue tunjukin. Anak STM mewek karena soal matematika? Iya, masbulloh!?

Sebenarnya jaman SD-SMP itu gak parah-parah banget, cemerlang malah. Hanya saja gue bisa ngerjain matematika waktu itu karena factor posisi duduk di bangku depan yang rasa malu kalo gak bisa ngerjain soal itu lebih tinggi dari mereka yang duduknya di bangku belakang. Dan ketergantungan karena posisi duduk ini akhirnya imbas ke masa STM gue karena masa itu gue kebagian kursi di jajaran ke tiga paling kiri. Dan Oo Em Jii, ini posisi yang benar-benar menguntungkan untuk bisa nyontek, terutama pelajaran hitungan semisal mate, fisika ama kimia; dan ngocol selama pelajaran.

Mungkin ini yang namanya Good Boy Gone Bad. Hihi…Dari anak baik yang perfeksionis berevolusi jadi yang paling agresif kalo ngobrolin hal yang dia suka. Sungguh perubahan yang gak gue duga. Oh, masa remaja.

Back to mindset about education. Kenapa kita bersikukuh untuk bidang yang gak kita minati dan bahkan kenapa kita mesti mendapatkan nilai sempurna untuk hal yang gak cocok dengan otak kita. Gue udah sering baca-baca tentang tipe-tipe kecerdasan tiap individu dan dari situ gue menyadari kalo gue ini tipe linguistic. Orang dengan tipe kecerdasan dalam berbahasa. And it was a fatal thing that’s why I don’t know it since early.

OK, sampai sini aja update-an tengah malam tentang mahluk penuntut waktu tidur banyak yang sekarang terjangkit insomnia. Dari kawasan Tanah Kusir II, Jakarta Selatan, saya uyoyahya melaporkan. Salam.



Wednesday, 6 March 2013

Take and Give

How’s it going, buddy? So far I’m good here. Gak terasa kita udah ada di awal bulan ketiga tahun 2013, yang nampaknya udah gak layak lagi untuk menyandang nama tahun baru. Lihat, bagaimana waktu berjalan begitu cepatnya sedangkan kita masih di tempat yang sama. Do the same thing and so flat.

Kita mesti dan perlu banget buat ngelurusin kembali target kita yang telah dirancang sebelum tahun ini tiba. Karena dapat dipastikan semangat mencapai cita-cita untuk satu tahun ke depan ini hanya muncul di awal-awal saja. Menginjak satu, dua, tiga bulan pasti udah pada gak inget lagi dah dengan apa yang telah dicanangkan sebagai pedoman hidup di tahun baru.

Hola, bicara panjang lebar gini apa hubungannya dengan judul posting? Ok, now let me to wash your brain. Halach. Take and give adalah salah satu formula kehidupan yang popular(gak yakin juga sih) dilihat dari bahwa sebenarnya telah diimplementasikan oleh semua orang di dunia ini. Hanya saja kebanyakan tanpa sadar. So, simple: Take and Give: Menerima dan Memberi.

Pada kehidupan yang kita dijalani selalu ada proses menerima dan memberi. Namun mana yang harus kita utamakan? Tentu, sobat yang pikirannya jernih, atau yang so-soan mencoba menjernih-jernihkan pikirannya akan lebih memilih memberi. Itu wajar dan benar. Kita tidak akan memanen bila tidak menuai. Setiap revenue atau pemasukan yang kita dapat pasti diawali dengan pengorbanan, entah materi, pikiran atau pun waktu. Dan sadari dan yakinilah bahwa setiap apa yang telah kita berikan untuk kehidupan kita, pribadi mau pun terhadap orang lain manfaatnya akan kembali lagi kepada diri kita di kemudian hari.

Gak usah muluk-muluk bantuin orang over banget, sampe ngorbanin pikiran, materi dan waktu,bahkan lupa dengan urusan kita sendiri. Buat yang simple aja, senyuman misalnya. Murah dan menyehatkan. Hanya tinggal tarik bibir 2 senti kanan dan kiri(silahkan ukur sendiri). Dan rasakan bahwa kehidupan anda akan lebih menyenangkan dengan banyaknya wajah-wajah yang memberikan seyumannya kepada anda setiap hari. Mulai pagi ampe sore.

Dan tentu saja, saat anda terlihat tidak senyum seperti biasanya, dalam hal ini mungkin anda sedang mempunyai masalah, orang-orang yang terbiasa tersenyum kepada anda akan mempertanyakan mengapa senyuman anda tidak senormal biasanya. Lihat, ini berarti orang-orang di lingkungan anda mulai memperhatikan hanya dengan satu tindakan kecil memberikan senyuman. Dan bahkan bila semua orang di lingkungan kita sudah terbiasa tersenyum, bahkan mungkin saling sapa, maka dijamin anda bahkan tidak sempat menunjukkan kesedihan anda di hari itu. Karena gak mungkinlah kita memberi wajah masam pada mereka yang tersenyum hangat kepada kita. Terkecuali kalau masalah yang sedang anda hadapi memang sudah overlimit.

Take and Give, baiknya diseimbangkan. Sewajarnyalah kita mendahulukan memberi sebelum menerima. Karena rumusnya adalah melakukan kewajiban sebelum mendapatkan hak. Masih pada inget kan materi PKn kelas 3 SD, Hak dan Kewajiban? Yang gak inget buka-buka aja lagi catetan-catetan di bangku sekolah dasarnya. Dijamin gak bakal kesampaian tuh buka-buka buku jaman SD, karena bahkan keberadaannya dipertanyakan. Muahaha. Sama kok gue juga. Pokoknya yang inget dari materi itu adalah:  
  1. Kewajiban adalah hal yang mesti dilakukan individu sebelum mendapatkan hak
  2. Hak adalah hal yang didapatkan oleh individu setelah melakukan kewajiban
Asli, gue kalo pelajaran hapalan emang paling jago(padahal kalimatnya cuman diputar-putar). Ngitung-ngitung? Ke laut deh.
Sekian sob update-an gue kali ini. Semoga kita bisa melakukan take and give dengan seimbang. Aamiin.
Apa yang Anda pikirkan mengenai orang lain adalah
apa yang orang lain pikirkan mengenai Anda. Salam

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...