Wednesday, 5 June 2013

Menolak Pertanyaan

Diruntuti pertanyaan membuat saya agak Disturbia...
Saya menghargai orang yang ingin bertanya. Entah itu kepada diri saya pribadi atau ke orang lain. Bertanya membuat kita lebih percaya diri dalam melakukan hal yang kita tidak kuasai. Bertanya juga membuat orang lebih supel. Satu nilai tambah tersendiri untuk diri kita. Tapi, bagaimana dengan pertanyaan yang monoton, itu-itu saja dengan frekuensi yang bahkan bisa disebut sering?

Menurut saya menjadi penannya juga mesti memperhatikan situasi dan kondisi dari orang yang akan kita tanya. Lihat apa dia sedang sibuk atau tidak. Tentunya saya tidak perlu menjelaskan secara rinci situasi paling tepat untuk kita bertanya karena dalam hidup tidak ada situasi yang sama persis, kendati pun ada dapat dipastikan jumlahnya tidak banyak.

Sebagai pihak yang ditanya kita diharapkan untuk memberikan respon sesuai harapan penanya. Bertanya kembali kepada penanya tentang dalam ruang lingkup apa kita bicara, memberikan penegasan apa jawaban yang kita berikan sudah memenuhi apa yang diinginkan penanya atau belum, saya rasa keduanya perlu. Ini bisa membuat jawaban yang kita hasilkan memuaskan.

Bicara tentang pertanyaan yang sama, monoton, itu-itu saja, frequently-asked-question, jujur saya sedang mencari hal apa yang sepantasnya dilakukan untuk meresponnya. Pertanyaan seperti ini sangat mengganggu konsentrasi kerja saya. Tidakkah orang-orang berusaha untuk mencatat, setidaknya dalam ingatan mereka, tentang jawaban dari FAQ? Atau apakah ini terjadi karena otak mereka didoktrin untuk menolak hal-hal sepele, dengan kata lain memori sudah terlalu penuh dengan hal-hal penting sehingga yang sepele dikesampingkan?

Pertama kali ditanya alangkah baiknya kita berikan respon terbaik. Usahakan menyenangkan si penanya. Kalau jawaban dirasa tidak memuaskan, tegaskan saja bahwa "Oh, maaf hanya itu yang saya tahu". Lalu bagaimana bila kita diruntuti pertanyaan beruntun yang membuat kita kewalahan bahkan menghabiskan waktu? Menolak adalah jawabannya.

Lalu saya mulai berasumsi tentang cara menolak pertanyaan-pertanyaan sejenis. OK, ijinkan saya untuk sementara melepas bahasan tentang bertanya. Lebih spesifik saya ingin tahu bagaimana cara sobat menolak, apa pun itu. Karena yang saya alami adalah seperti ini:

Menolak secara tegas, terkadang orang tersinggung dengan tindakan ini. Menolak dengan halus, terkadang cara halus malah lebih menyakitkan. Saya ingin menolak, tapi tidak membuat orang merasa bahwa kita terlalu sombong bahkan untuk diajukan pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak.

Ada masukan? How to refuse frequently-asked-question?


Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...