Wednesday, 31 July 2013

Draft Lagi #2

Akhirnya aku bisa menggeledah ruang kerja Paman Ian. Tidak banyak yang bisa aku temukan disana. Pertama lukisan itu benar-benar sama dengan sisa-sisa bangunan kuno di hutan kota, lalu ada secarik kertas setengah terbakar terselip di buku kesukaannya-tulisannya hampir memudar.

"Apa yang kau temukan?" Tanya Bibi Lutessa malam selanjutnya, seperti biasa di ruangan hangatnya.

Dengan hati-hati aku mulai bicara, menjaga agar yang kutemukan tidak terlalu membuatnya penasaran.
"Hanya secarik kertas usang yang terbakar,"  aku memberikannya kertas itu yang langsung diamatinya.
"Tidak banyak membantu," lanjutku. "Tapi, mungkin akan ku simpan."

"Menyimpannya?" Dahinya mengkerut menyelidiki.
"Benda apa pun yang terlihat terabaikan akan menjadi berharga saat kita bahkan tidak bisa melihatnya lagi," berhasil, kuharap kalimat ini membuatnya pusing dan menganggapku terlalu mengada-ada.

Dia memejamkan matanya untuk berpikir. Kursi goyangnya sedikit berayun. Ah, posisi kertas itu ada di tangannya. Kuharap ini tidak seperti yang sedang kubayangkan. Dia akan menganggap ini hal sepele seperti bagaimana dia biasanya bersikap dan membiarkanku pergi dengan kertas itu.

"Kupikir lebih baik bila aku yang akan menyimpannya," pandangan matanya meneliti mimikku, "bagaimana menurutmu?"
"Aku yang menemukannya."

Tadi itu tindakan spontan yang benar-benar diluar dugaan bahwa aku akan mampu melakukannya, menghianatinya. Aku melangkah dengan cepat mendekatinya dan secara kasar merebut kertas Paman Ian dari tangannya yang lemah, mungkin akan menguat seandainya dia tahu aku akan merebutnya secara paksa. Maafkan aku Bibi Lutessa, terimakasih telah mau bekerja sama.

***

Wednesday, 24 July 2013

Yang Ku Nanti?

Lewat tulisan sederhana yang berisi daftar-daftar nama yang masing-masing dari kita kenal aku juga menemukan namamu, kau juga melihat namaku. Tapi pasti ada yang berbeda. Hanya nama, menurutmu. Ah, nama itu, menurutku.

Aku sedang dalam suasana yang baik dan cenderung hangat, bahkan bisa membayangkan akan bagaimana aku bersikap di hadapanmu nanti. Aku bahkan mereka-reka kalimat sapaan seperti apa yang akan kulontarkan nanti. Tapi itu terjadi senbelum potret-potret digital itu kubuka. Terbahak dada ini melihat banyak juga orang yang mengelilingiku dan mereka semua tersenyum, tertawa. Efeknya seketika menular ke dadaku, aku tertawa dalam kesendirian di ruangan kerjaku. Aku sungguh ingin berdoa agar kebahagiaan itu bertahan lama untuk setidaknya beberapa menit bila saja ku tahu potret-potret bagianmu adalah pengganti bahakku.

Lalu, aku dihadapkan pada daftar nama-nama itu. Duar...hening. Aku harus mengumpulkan kepingan-kepingan akal sehatku.

Sunday, 21 July 2013

Mantap, Mereka Mendukungku

Jadi aku merasa masih muda dengan umur 20 tahun ini. Otakku masih mampu menerima banyak input dari hal-hal baru yang kutemui, didasari rasa suka atau tidak. Yeah, untuk yang pernah membaca postingan Gue Amfibi (Ambivert) mungkin sudah sedikit mengenal seperti apa orang dibalik blog ini, 'mahluk' tidak jelas seperti apa yang dengan rajin, kalau mau dibilang rajin, menulis artikel-artikel mengenai hidupnya di blog ini. Egois ya, kapan membuat artikel yang benar-benar bermanfaat, tulisannya tentang diri-sendiri.

Kembali ke laptop dan tema kita di malam ini talk about dukungan. Aih, tukul pisan.Mari sedikit membahas tentang amfibi(baca: ambivert), sedikit mengingatkan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang mewarisi tipe ekstrovert dan introvert. Kadang meledak-ledak, kadang terccenung-murung; terkadang "Hey, ini aku!", di lain kesempatan 'Just leave me alone'.

Beranjak dari introvert sejati yang menahan banyak ide dan perasaan, tidak diungkapkan, dipendam, membusuk. Melakukan gerilya untuk mendapat pengakuan dari mereka yang banyak bicara dan berhasil menemukan jati diri yang tidak mudah ditebak. Bahkan tak bisa disangkal, aku pun merasa takut. Haha. Waktu itu aku bahkan bisa lebih cerewet dari saudara tiri saya yang tidak jahat, mudah-mudahan, Elsa.

Dua minggu sebelum Ramadhan Ibu berkunjung ke Tangerang, ke rumah kakak. Waktu itu sedang khitanan keponakan dan saat suasana rumah lenggang, ehm, sedikit berbicara serius dengannya.

"Uyo pengen kuliah."
"Baguslah," responnya.
"Tapi jurusannya," jeda, tapi tidak sampai satu menit, "bukan IT lagi."
"Lalu apa?"

Aku membuka file ebook berbahasa inggris dan mulai membaca satu paragraf lalu mengungkapkan entah bagaimana aku mampu mengerti seluruh paragraf itu. Maksudku, alami. Tanpa pernah mengambil kursus. Hanya dicekoki banyak lagu bahasa inggris oleh kakak-kakakku dari jaman boyzone, backstreetboys, westlife dan britney spears.

"Sastra Inggris," jawabku mantap. "Tidak masalah, 'kan?"
"Yang penting Uyo bisa dan 'suka'."
I love you, mom.

Masih di hari yang sama aku ungkapkan keinginan itu kepada salah satu kakakku dan dia menyatakan respon yang tidak berbeda.

"Yang penting kita suka, itu akan lebih mudah. Jadi, udah mulai nabung?"
"Belum."
"Yaudah, nabung dulu dan kerja yang bener."
"Siip!"

Tidak ada yang istimewa, mungkin. Tapi itu berlaku bagi orang yang tidak ada sedikit pun unsur keintrovert-an. Mengungkapkan keinginan yang benar-benar besar dan disetujui oleh mereka, Oh, it's a big, I meant really-really a big, bigger, the biggest achive I've ever reached...

Pernah kalian bayangkan orang yang teramat menyukai dunia membaca harus berhadapan dengan sesuatu yang teknikal? Ironi. Tapi ini hidup. Kita hanya dituntut untuk bisa menjalani skenario Tuhan dan tentu saja berusaha bila menginginkan perubahan.

Saturday, 20 July 2013

Draft Lagi

Selalu, aku memilih malam sebagai waktu yang tepat untuk bisa berbicara dengannya. Aku cukup terkejut dengan banyak hal yang bisa kuungkapkan. Mulai dari sekolah, teman-teman hingga hal tidak penting seperti vas bunga di samping pintu depan yang kutemukan telah pecah pagi tadi, dan yang pentingnya aku mulai terbuka tentang keanehan-keanehan yang kurasakan akhir-akhir ini, di kota ini.

Di hutan kota ada sisa bangunan kuno, hanya bongkahan-bongkahan tembok dari batu dengan tekstur yang kasar. Aku hanya sedang mengalihkan perhatianku dari kesedihan mengenai kepergian Paman Ian, membiarkan kakiku entah kemana dia akan melangkah, tersandung lalu terkejut menemukan sisa-sisa bangunan tua. Awalnya tak ada yang menarik, tapi aku menemukan kesamaan arsitekturnya, kendati sulit untuk pertama kali meyakinkan diriku bahwa ini sama dengan lukisan yang ada di ruang kerja Paman Ian.

"Dia memang menggali segalanya mengenai kota ini," jelas Bibi Lutessa, "Pamanmu, Ian."
"Aku hanya tidak mengerti," kalimatku mengambang sebelum, "Seandainya pihak Polisi setidaknya mengijinkanku untuk menggeledah ruang kerjanya."
"Dan aku tidak mengerti dengan kata 'menggeledah'?" Aku tidak mendapat kejelasan dari maksud ucapannya, terkesan mencari tahu apa yang ingin kutahu.

Kecanggungan menyeruak di antara kami dan aku tak bisa memecahkan kedinginan ini, jadi kuputuskan untuk beristirahat.

"Tapi, bila saja kau lebih terbuka padaku tentang apa yang sedang kau lakukan dengan semua ini," mengejutkan. Aku berbalik memastikan bahwa ini awal dari perubahan pikirannya. "Aku mungkin bisa mengaturnya."

***


Monday, 15 July 2013

Apa Yang Terjadi

Banyak kata-kata yang dulu tertahan di sini. Lalu ada juga keraguan yang lebih memegang kendali. Takut, gamang dan juga yang lainnya seakan memang mereka mengadakan voting. Padahal hanya perkara sederhana untuk menjawab ya atau tidak.

Dan si bijaksana yang diharapkan kehadirannya tersandung batu gelisah buah karya si penakut. Pecahlah sudah peperangan antara kebaikan dan keburukan. Derita, dendam dan kewaspadaan yang mendekati gila hanyalah warisan yang tidak diharapkan oleh kegagalan.

Sementara di pihak pemenang, rasa sudah tak ada. Hanya lahir yang dibanggakan tanpa melihat sisi makna. Arti diabaikan, tanpa tahu mereka marakit boomerang di setiap hari sepanjang tahun, kuharap hanya tahunan, tak ada dekade, bahkan millenium. Jangan ada.

Lalu hal-hal aneh pun terjadi. Khatulistiwa yang bergeser, namun hanya ilusi para pemimpi-sepersekian detik jeda kehidupan, mustahil-malam yang lebih terang daripada siang, kau hanya terlalu lama terlelap-lalu dia datang kembali, mimpi yang terlalu mengobsesi, karena saat ku selesaikan tulisan ini, dia hanya ada di halaman sebelumnya.

Saturday, 13 July 2013

Unhandled

Aku telah mencoba, kupikir ini telah maksimal, tapi tidak. Memang ada hal-hal yang mahluk sebiasa diriku tak bisa kendalikan. Waktu.

Bagaimana pagi dalam waktu yang teramat singkat telah berubah menjadi petang, malam menjadi siang, dingin menjadi hangat dan beberapa manusia yang terlena, berubah.

Aku menarik pikiranku dari peredaran. Tapi selalu mudah untuk ditemukan yang lainnya. Ada bagian diri ini yang tidak bisa untuk tidak menarik perhatian mahluk lain. Mereka pikir itu unik, tapi bagiku cukup mengganggu.

Oh, aku telah banyak berkutat dengan diriku sendiri. Mendikte hal-hal yang harus dan tidak untuk dilakukan, tapi semuanya seperti hanya dalam waktu sepersekian detik hilang saat ku berhadapan langsung dengan mereka.

Dan aku lagi-lagi melewatkan banyak kesempatan, ah.

Monday, 8 July 2013

Surat dari Hogswart

Hampir sepuluh tahun aku menunggu semenjak ulang tahunku yang ke sebelas, tapi surat dari Hogswart tak kunjung datang. Aku tidak pernah melihat burung hantu di halaman, bahkan kotorannya pun tidak.

Sial, Rowling benar-benar menginfluensi pikiranku. I'm 20, tapi masih berpikiran bahwa kemungkinan datangnya surat pertama dari Hogswart itu masih ada. Liarnya pemikiran ini. Jadi sekarang ini tengah malam dan aku ingin mengunjungi hutan terlarang. Mungkin disana akan ada centaurus, atau unicorn, atau bahkan you-know-who. Dan ini semua hanya kebohongan.

Lalu, mungkin, disana aku akan menyukai Quidditch. Jauh bertolak belakang dengan kehidupanku di sini. Aku tidak menyukai olahraga permainan. Tubuhku ramping, jadi cocok untuk jadi seorang seeker. Ramping itu berarti ringan, tentu saja.

Dan yang tidak kalah penting aku akan memaksa Topi Seleksi untuk menempatkanku di Ravenclaw. Tapi jika dia benar-benar memiliki metode kerja yang baik, tentu aku tidak perlu memaksa. Facebook quiz memang menempatkanku disana.

Ada suara aneh yang mengetuk pintu. Mungkinkah? Aku tidak ingin membuang waktu. Jadi langsung kubuka dan yang datang hanya realita kehidupan yang dingin menusuk tulang rusukku. Tentu saja, ini malam hari dan angin lembah memang seperti ini.

Jangan terlalu serius. Ini hanya ungkapan ekspresi khayalanku yang terlalu liar. Tapi, kegilaan ini membuatku bahagia.

Saturday, 6 July 2013

Draft

Tak ada yang tahu, karena aku tidak pernah berpikiran bahwa pun mereka tahu akan merubah keadaan. Kecuali Larry yang kerap kali ke ruanganku, tentu saja, tanpa sepengetahuanku sebelumnya. Terakhir dia membuka file-file notepad di komputer dan kuharap isinya tidak akan melekat terlalu lama di kepalanya.

Dan aku masih belum menemukan mengapa kematian Kepala Sekolah Morning Bright seakan bukan hal yang mengejutkan bagiku. Aku menghormatinya, tipe manusia tulus di jaman sekarang ini. Aku mengikuti upacara pemakamannya, meneteskan air mata, kembali ke rumah, berpikir tentang kematian dan terakhir itu hal yang menyenangkan.

Terlalu banyak pemikiran yang berseliweran di kepalaku. Mulai dari topik apa yang akan kubawakan di acara SatNight di radio Augsburg, tentang pendidikanku, Ibu dan mantan suaminya, maksudku Willy Ayahku, dan yang paling mengocok perutku, Jaime tidak lagi sendiri. Ini hanya tentang aku dan kelihaian memilah mana yang lebih penting untuk dipikirkan saat ini. Aku harus menentukan prioritas.

SatNight di Augsburg harus selalu menarik. Ini satu-satunya pekerjaan yang kupunya sekarang dan lumayan menyenangkan kendati harus berpura-pura ceria di telinga para pendengar. Tapi aku tiba-tiba diserang kebencian terhadap kepura-puraan. Setelah sembilan tahun bertetangga, bersekolah dan bergaul bersama dengan Parker, baru di pesta kemarin aku mendapatinya berciuman dengan salah satu anggota keluarga Malkovich.

Aku seharusnya tidak membesar-besarkan masalah ini. Tapi, aku sempat berpikiran bahwa mungkin Parker akan menjadi pilihan terakhirku saat telah banyak pria mengecewakanku. Itu memang tidak adil untuknya. Tapi Parker dengan Malkovich lebih tidak adil lagi untukku.

Apa ini? Biasa, hanya draft di kepala.

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...