Saturday, 24 August 2013

Musik, Blog dan Buku

Musik adalah penyemangat pagiku, pembawa lelap dan si tukang ngebangunin(alarm). Awalnya aku menolak dengan segala jenis musik. Rock, euh apa ini? Pop, hadeuh kok sedih bawaanya. Dangdut, please deh aku gak bisa goyang. Dance, Club, R&B, Rap...Semuanya tak cukup enak ditelingaku. Sampai mereka(my bro and sista) menginfluentasiku dengan berbagai jenis musik yang masing-masing mereka senangi. 

Dan hasilnya aku menyukai Rock dengan group band Linkin Park. Masa-masa SD kelas 6 aku benar-benar menyukai lagu-lagu Linkin Park. Pas banget buat pagi-pagi sesudah mandi, sebelum berangkat ke sekolah. Pop, lumayanlah banyak konsumsi lokal sama interlokal. OMG, Britney Spears, Damn I love her. Dangdut? Yang lagi musim aja deh. Dance, Club, R&B, Rap...ouh, Rihanna, Ke$ha, Beyonce, David Guetta, Pitbull, Enrique Iglesias...and many more. Eits, ketinggalan satu untuk Classic/Opera, I love Josh Groban.

Josh Groban
Itulah ya sedikit substansi musik dalam hidup saya. Go on...

Blog. Pretty Damn, I love it. Berterimakasih sekali dengan perusahaan tempat kerjaku dulu di Tasikmalaya yang mengkudukan karyawannya melihara blog. Dan inilah hasilnya Blog Uyo Yahya. paling fantastis sejagad raya, dunia-akherat, aamiin. 

Dengan nge-blog aku mampu bersosialisasi dengan lebih baik dan yang paling utama bisa menyalurkan hobby menulis. Ya, hobby menulis walau pun postingan tidak selalu mengundang banyak komentar, tapi dalam hati ini cukup puas. Puas rasanya, walaupun setidaknya cuman dikomen "wah bermanfaat sekali...". Apalagi yang suka ngasih pendapat dan kritik, disyukuri pisan.

Kedepannya mudah-mudahan blog ini tidak akan mati, dan akan menjadi media pribadi untuk mengungkapkan segala resah hati, gelisah akan kehidupan ini. Tidak ketinggalan juga untuk mencatat momen-momen bahagianya.

Paling fantastis sejagad raya, dunia-akherat. Aamiin
Buku. Ini adalah setumpuk kata, kalimat, paragraf, kisah dan pemaparan kisah yang mampu membawa diri ini masuk entah ke negeri khayalan yang mana saja dan terserah bagaimana aku akan membawanya. Bebas, benar-benar bebas. Seperti di alam mimpi yang sebenarnya kita diberikan hak lebih untuk memasukkan siapa saja yang boleh masuk ke mimpi kita. Sederhana, eksekusi memori dan individu yang tidak ingin di munculkan dalam mimpi dari kehidupan kita dan pertahankan, pegang erat memoru dan individu yang selalu ingin kita bawa dalam kenyataan, pun mimpi.

Tentang buku yang saya sukai, bahkan sudah dalam tahap mencintai, dan tergila-gila...of course, Harry Potter, menyusul Twilight, Charlie Bone, Davinci Code, Evermore and so on... Influens yang paling dirasakan, yang masih terasa "cumbuannya" di otak adalah Harry Potter. Lalu para pencuri hati yang lainnya, Evermore, YOU SUCK.

Influens ter-ah...

That's all lah ya Musik, Blog dan Buku dalam kehidupan pemilik blog Uyo Yahya, paling fantastis, sejagad raya, dunia-akherat. Aamiin.

Thursday, 22 August 2013

Draft Lagi #3

Saya tidak menyangka bahwa Cerbung (Cerita Bersambung) dari postingan Draft Lagi yang belum diberi judul resmi ini akan berkembang sejauh ini. Banyak ide yang meletup-letup di kepala dan saya harus bijak memilihnya. Semoga kalian suka lanjutan dari Draft Lagi #2 berikut...

Aku menyesali tindakanku malam tadi. Rasa canggung yang tadinya mulai melebur di antara kami berdua mulai menguat kembali. Bodohnya aku membiarkan instinct liarku menyeruak hanya untuk mengambil kertas setengah terbakar itu. Tapi lebih dari itu memang seharusnya akulah yang memlikinya, hanya aku.

"Tidur nyenyak?" Bibi Lutessa bertanya padaku disela-sela sarapan pagi ini.
"Tidak juga," aku jawab tanpa melihat matanya.

Selebihnya hanyalah suara denting dari peralatan makan yang kami pakai dan pemberitaan tentang kematian Paman Ian yang masih menjadi headline news televisi lokal meskipun Ia telah pergi dua minggu yang lalu. Yang kuheran apa mereka tidak menimbang bagaimana perasaan kami, bila memang Bibi Lutessa juga masih berduka, sebagai satu-satunya keluarganya? 

Mereka seenaknya membuat fakta bahwa penyebab kematian ditutup-tutupi karena polisi masih meragukan hipotesa yang mereka punya-padahal sudah jelas Ia memiliki jantung yang lemah di riwayat kesehatannya, belum lagi ada yang sebagian mengira Paman memang telah lama diincar setelah keberhasilannya mengungkap kasus korupsi besar-besaran pada masa Walikota Lynwood dan masih banyak lagi opini-opini tidak jelas yang berkembang di sekitarku.

Klakson mobil sekolah Evershine yang telah dua kali dibunyikan bagaikan penyelamat pagiku. Setengah gelas susu berhasil aku habiskan sebelum bunyi ketiga terdengar, yang bila memang sudah terdengar berarti mereka meninggalkanku. Tas sekolah kusambar dari kursi disebelahku lalu melangkah pergi meninggalkan Bibi Lutessa yang masih menikmati sarapannya. 

Apa aku keponakan yang baik, meninggalkannya tanpa "Sampai jumpa!"? Itu akan terlalu berlebihan terlebih mungkin dia memang masih berduka. Bila dipandang secara rasional, Paman Ian, Bibi Lutessa dan mendiang Ayahku Billy memang dibesarkan bersama di rumah ini. Dan dia telah kehilangan kedua kakak laki-lakinya, dia pewaris satu-satunya dari group perusahaan Vaughn, akan sulit baginya mengurusi segalanya sendirian, dan aku membiarkannya merasa sendirian. Tapi ekspresi datarnya memang terkesan "yang lalu biarlah berlalu".

Itu dia klaskson ke tiga yang berhasil mempercepat langkahku sesaat sebelum kulihat wajah Pak Gulliver yang memerah di kursi kemudi.

"Semoga harimu menyenangkan, nak." Sapanya saat aku telah memasuki pintu bis. "Berharaplah masih ada satu bangku untukmu di sana," tambahnya dengan sedikit gerakan kepala menunjukkan letak kursi penumpang.

Aku sedikit menelitinya sebelum mengucapkan, "Terimakasih, Pa Gulliver." Tidak biasanya dia seramah itu.

Bis cukup penuh namun aku berhasil menemukan kursi tempat biasa aku duduk, di sana baris kedua terakhir dari belakang, bagian yang paling dekat dengan jendela tepatnya. Aku juga melihat Rose telah terduduk di sebelah kursiku . Dia tampak salah tingkah, senyum dan ekspressi bertanya-tanya yang berlebihan. Aku hanya tersenyum dan berharap dia hanya akan mengingatkanku tentang beberapa tugas sekolah, tidak lebih dari itu dan memang biasanya hanya seperti itu. 

Akhirnya aku berhasil mengenyahkan tubuhku dikursi bis yang tidak bisa dibilang empuk. Bis melaju dan aku sungguh berharap embun yang melapisi bagian terluar kaca jendela yang hanya akan menjadi pusat perhatianku sampai tiba di sekolah. Tapi, aku punya Rose. Akan sangat keterlaluan bila mengabaikannya. Jadi kuputuskan untuk mengobrol dengannya sebelum...

"Kita punya essay yang harus dikerjakan selama liburan musim panas kemarin dengan kriteria yang telah dibeberkan Professor Wan di blognya. Tapi ada satu hal yang harus selalu kita perhatikan, lagi-lagi dia menyelipkan teka-teki di akhir postingannya. Ah, ini membuatku lebih penasaran padanya. Apa kau..."

Hey, Rose aku baru saja setengah menoleh, pekikku dalam hati.

"Sudah, sudah aku selesaikan di minggu pertama libur." Aku menyukai Rose, dia tipe cewek yang lumayan tidak karuan, terkadang menggebu-gebu, lalu menjadi penyendiri, setelah itu ceria dan seterusnya seperti itu. Lumayan aneh, tapi dia satu-satunya teman yang kupunya di Lakeheaven. Aku suka rambut hitam lurusnya, mengingatkanku pada rambut asli Nicki Minaj. Tapi percayalah, Dia tidak sejelek itu. Hanya saja dia kurang percaya diri.

"Tapi Luina, minggu pertama itu Pamanmu meninggal." Nadanya tampak hati-hati.

"Itu tidak menjadi halangan, aku mengerjakannya di dua hari pertama sebelum...," kuharap aku bisa menyelesaikan kalimat ini dengan lancar. "kau tahulah, Rose."

To be continued...

Saturday, 17 August 2013

Wanita

Aku setengah berhasil melalui hari ini. Ada kegamangan yang akhirnya mengantarkanku padamu, ketidakjelasan yang menyenangkan, beberapa hal terkuak tanpa sedikitpun usaha lebih membawaku pada kebingungan yang aneh. Aku tidak tahu cara merasa, seakan menolak pun bahkan aku tahu bagaimana caranya, lalu rasa kesal, lega dan sesuatu yang ingin membuncah ada di dadaku.

Apalagi tentang wanita cerdas yang dulu ku tahu, kini tak lagi ku tahu. Bersandiwara, lalu menutupnya lagi dengan sandiwara, seterusnya seperti itu. Aku tahu tanganku cukup kuat untuk menolongnya, tapi tadi itu terlalu cepat dan aku tak siap, aku masih dibentengi pemikiran bahwa kau tetap cerdas, dan kau lenyap, wanita.

Masih selalu dingin yang mengantarku pulang dari kehidupan sekitarmu. Aku harap bisa menjauh tapi benda-benda mutakhir ini membuat aku tak bisa menolak untuk sekedar mengetahui kabarmu. Mereka secara terus-menerus tanpa diminta memantau dan melaporkan apa yang kau ucapkan pagi ini, menu sarapanmu, pekerjaan, makan siang, rasa kantuk dan perjalanan pulangmu, serta bahasa dalam yang lebih halus mengenai bahagia, sedih, senyum, seringai, menangis dan tertawa.

Wednesday, 14 August 2013

#puisi Matahari

Aku putuskan menjemput pagi
Melayaninya dari hati namun tetap hati-hati
Matahari yang hebat, kami telah sejak dulu saling memahami dengan melihat
Yang tidak hanya mengaburkan batas hitam dan putih

Lurus-berliku, atas-bawah, kesempatan-kesempitan
Dari ujung barat dan juga timur
Kita mencari cahaya hangatnya
Matahari, setiap saat
Matahari, diantara dingin dan dingin
Matahari, terjebak selamanya
Matahari, matahari

Dimana singa melihatmu terlalu menggoda
Dimana tikus memandangmu adalah ketakutan
Tetap kau mencari dan mengadu
Itu dia yang agung
Menggolakkan yang beku, mendingikan mereka yang sok tahu

Matahari, raja di siangnya
Matahari, menembus hujan-hujan terderas
Mengeringkan tubuhku, hangat hingga tulang tempat tidak adanya bongkahan pejantan

Di puncak-terendah, di kesegaran yang layu
Matahari, menembus lapisan dan dugaan hidup
Ajaib menaklukan mahluk-mahluk ciptaan tangan-Nya

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...