Monday, 23 September 2013

Pengalaman Mistis Yang Pertama

Yep, kali ini saya akan membagikan cerita tentang pengalaman mistis saya yang pertama. Seperti apa-apa yang pertama kesannya memang paling berbeda dan kecupan di memorinya juga sangat kuat. Apalagi pengalaman pertama mengenai dunia mistis ini saya alami waktu masih kecil. Jadi sampai sekarang pun masih sangat kental di ingatan tentang detail kejadiannya.

Waktu itu saya masih kelas 3 SD. Sekitar jam sembilan pagi saya sudah pulang dari sekolah dan tiba di rumah. Tentu saya pulang cepat karena hari itu memang hari pembagian raport. Rumah waktu itu lenggang, tak ada siapa-siapa dan pintu dapur pun tidak terkunci. Saya masuk, menutup pintu di belakang saya dan langsung menuju ke kamar saya.

Raport tidak langsung saya lempar kemana saja. Itu memang bukan kebiasaan saya pula. Sepuluh menit saya berdiri di depan lemari pakaian sambil memindai nilai-nilai yang cukup bagus, lebih malah. Sedang asyik-asyiknya membaca nilai raport saya mendengar ada yang membuka pintu dapur. Dari dalam kamar saya tidak bisa melihat siapa yang masuk.

"Udah pulang, yo?"
"Udah, mak." Jawab saya kala itu.
"Ranking berapa?"
"Satu, mak." Jawab saya lagi sambil menyimpan raport ke dalam lemari dan berniat menghampiri Emak saya kala itu saking senangnya mendapat peringkat ranking satu untuk pertama kali dalam hidup saya. Arghhh...

Tapi saat tiba di dapur saya tidak menemukan siapa-siapa dan pintu dapur dalam keadaan tertutup? Jengjreng.

Saya terpaku untuk beberapa saat yang disebut sebentar. Antara heran dan tidak percaya. Lalu tak lama setelah itu Emak saya datang, membuka pintu dan bertanya:

"Udah pulang, yo?"
"Udah, mak." Jawab saya agak menilai apa Emak saya memang harus mengulangi pertanyaanya.
"Ranking berapa?"
"Satu, mak. Bukannya emak tadi udah tahu?"
"Haha... Becanda kamu. Emak baru aja nyampe dan nanya kamu masa udah tahu. Kalau udah tahu ya gak perlu nanya." Jelasnya ringan."Boleh emak lihat raportmu? Penasaran."
"Tapi tadi mak aku..."

Lalu saya menceritakan kejadian yang barusan saya alami kepada Emak saya. Tapi, tanggapannya cuman "Kamu pasti lagi ngelamun."

Karena memang waktu itu masih kecil, gampang sekali aku menerima bahwa itu adalah cuman lamunan saja. Tapi toh sampai sekarang saya masih mempertanyakan siapa yang berbincang dengan saya kala itu.

Ini ceritaku, mana ceritamu?


Saturday, 21 September 2013

Emak, Abah...Anak Kecil Itu!

Emak Abah, your last child lagi kangen. Disini anak kalian ini kalau makan mesti beli ke warteg, ke warung pecel lele atau ayam, itu pun kalau lagi semangat dan lagi nggak labil ekonomi. Kalau nggak ya cukup deh jalan ke depan kosan dan pesan satu porsi mie ayam, atau indomie makanan anak kos.

Anakmu ini lagi pengen banget mencicipi masakanmu yang tiap kali nempel di lidah rasanya gak ada duanya di dunia ini, Farah Quinn pun kalah. Itu tuh yang pentingnya, gratis. Dan anakmu yang sudah "twenty one my age" ini lagi kangen suasana pagi yang seperti ini:

"Yo, bangun... Tempe-tahu kesukaanmu sudah siap di meja. Mumpung masih hangat. Sambel ijo-nya juga."
Lalu si anak kurus ini akan bangun dari ranjangnya. Berjalan limpung menyeret-nyeret kakinya, udah kayak zombie, ke dapur mencari itu makanan yang baru disebut.

Emak Abah, bahkan untuk tempe ama tahu pun sekarang susah dicari di warung. Maksudnya susah nyari yang harganya murah. As we know petani kedelai memang sedang tidak beruntung dengan tanaman mereka musim ini. Jadi harga kedelai melambung jauh terbang tinggi bersama Anggun C Sasmi. "Naik" aja gitu, simple. Lebay banget sih. Siapa? Eloooo...

Mak, Bah...Lapar... Untung ada Roma Malkist Abon...Hm...

Mau?
Emak Abah, Jakarta memang kota tempat kalian bertemu, memadu kasih, lalu lahirlah kakak-kakakku dan aku. Aku tahu kenapa kalian menjual gubuk kecil di gang di sudut Jakarta bahkan sebelum aku lahir dan memilih membangun rumah di Tasikmalaya sana. Benar, udara di sini panas, tingkat polusi udara tinggi, kontroversi hati apalagi, termasuk konspirasi moral. 

Untunglah aku besar di Tasik, agamaku Insyaalloh cukup kuat. Dan masa kanak-kanak dan remaja yang masih di koridor aman. Aku melihat anak-anak di sini bahkan balita pun sudah mengenal kata-kata kotor dan candaan yang merendahkan tidak mengenal siapa yang mereka ajak biacara.

Emak Abah, masa tadi pagi anakmu yang rajin menabung di warung ini diginiin:

"Kayak Mas." Jawab seekor anak kecil mungil di hadapanku yang sama-sama sedang menyantap bubur ayam pagi ini setelah ku bertanya, "Emang setan bentuknya kayak gimana?". Setelah sebelumnya itu seekor anak lagi nyeritain cerita serem yang gak serem. Yaitulah ya gak ngerti saya juga, serem tapi gak serem. 

Emak Abah, gak sopan banget kan mereka?!

Emak Abah, disini aku juga harus beres-beres kamar sendiri, nyuci baju sendiri... Tuh, kan udah numpuk lagi. Ya udah deh nyuci dulu....

Monday, 16 September 2013

Aku Ingin Hidup Damai, Membaca Buku

Aku ingin hidup damai, membaca buku
Ya, suatu hari aku akan benar-benar menjalani hidupku dengan jalan yang aku inginkan. Aku ingin hidup damai, membaca buku. Kalimat ini pertama saya baca dari status facebooknya Mba Elsawati Dewi. Awalnya aku pikir kalimat itu terkesan biasa karena memang menjadi hal yang telah lama ingin kulakukan juga. Tapi sayangnya semua orang, termasuk si penulis blog ini harus terbentur dengan realita.

Bahwa hidup tidak bisa hanya dijalani dengan hal-hal yang benar-benar kita ingin lakukan. Dan bahwa hidup tidak akan seimbang bila kita hanya melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan. Baik-buruk, bahagia-sedih, kesempatan-kesempitan, well semua itu memang telah ditulis bahkan sebelum kita terlahir di dunia. Takt ada yang mengetahui persis apa yang akan terjadi besok, bahkan di detik terakhir saya mengakhiri kalimat ini.

Dan diawal saat memulai kalimat terakhir di paragraf sebelumnya aku masih bingung akan membahas apa. Cukup mengejutkan karena "Collaboration of reality and idealism" miliknya kang Rizki Fajar Bachtiar tiba-tiba seperti meminta perlakuan di kepalaku. Oh, tentu saja, aku sedang berbicara tentang "hidup". Sementara kolaborasi dari realita dan idealisme, aku yakin aku tidak akan bertahan lebih dari dua jam untuk bisa satu ruangan dengan orang-orang seperti ini. Mereka terlalu otak kiri, menurutku. Tapi aku sendiri tidak bisa menghindari realita.

Jadi aku akan melakukan hal-hal biasa yang biasa dilakukan orang-orang biasa dan menyimpan "Aku ingin hidup damai, membaca buku" sebagai tujuan hidup selain yang utama, Akhirat. Dengan catatan menyelipkan sedikit misi-misi arah hidupku ke dalam realita secara perlahan namun pasti dan istiqomah, Aku yakin akhir itu tidak akan benar-benar ada di akhir. Aku yakin aku memang sedang berada di jalur dan arah yang benar.

Saturday, 14 September 2013

#puisi Gemerisik

Gemerisik
Dari kanan lalu kiri
Bayangan itu
Memudar sebelum bisa kukenali

Tenggelamkanlah lagi dalam dimensimu
Rayu aku yang telah mengeras cukup lama
Lelehkan beku yang dingin dengan surya di matamu
Aku selalu lebih dari siap

Gemerisik
Tidak adakah jalan yang lebih baik, selain
Memilih membuat jiwa ini terjaga
Lalu bangkit dan bertanya-tanya

Runtuhkan tembok itu bila memang perlu
Sejajarkan benteng-benteng itu dengan bumi
Biarlah aku membacamu
Kendati mengira-ngira

Gemerisik
Pekakan indera-inderaku
Biar kubaca adanya dirimu
Di kanan dan kiriku

Saturday, 7 September 2013

Lagu Classic dan Ballad Enak Buat Tidur

Waduh ya judul postingannya, out of the box deh...#hasem

Di suatu malam yang hening di kosan my sister saya bertanya seperti ini: 

"Tati, nahanya geus gede mah sare teh teu bisa jam 8-jam 9?"

"Tati, kenapa ya kalau udah gede gak bisa tidur jam 8 atau jam 9?"

Kakak saya langsung tertawa dan terdiam sebentar. Lalu dijawabnya dengan santai.

"Moal bisa deui. Loba pikiran. Kabeh jelema ngalaman."

"Gak bakalan mungkin bisa lagi. Banyak pikiran. Dan semua orang dewasa mengalaminya."

Lalu saya terdiam dan langsung paham. Oh, iya...setiap malam sebelum tidur, sebagai orang dewasa, ehem, kita dihadapkan pada banyak pikiran. Duh, kerjaan ini belum selesai-belum bayar kosan nih-sepatu gue udah butut, mesti beli lagi- gajih bulan ini cukup gak ya? - gue mesti banyak nulis, tapi bahkan blog pun terabaikan - duh, ingat dia yang disana...dan ini dan itu...sampai larut dan baru tersadar bahwa waktu tidur berkurang dengan kebiasaan tersebut.

Untuk mengatasinya saya punya cara tersendiri supaya rasa kantuk segera datang mengalahkan pikiran-pikiran mumet. Selain berdo'a saya juga mendengarkan musik sebelum tidur. Playlist-nya tidak banyak, paling 10 lagu. Tapi genre-nya yang mostly classic or ballad, yang sayup-sayup memperberat massa bulu mata hingga nantinya tertutup.

Berikut playlist lagu pengantar tidur saya:

1. Josh Groban - Remember Me
2. Rihanna - Unfaithful
3. Lana Del Rey - Young and Beautiful
4. Josh Groban - Per Te
5. Taylor Swift - Safe and Sound
6. Adam Lambert - Mad World
7. Rihanna - Stay
8. Adam Lambert - Outlaws of Love
9. Obliviate (OST. Harry Potter 7)
10. Opick - Bila Waktu Telah Berakhir

Ada yang suka mendengarkan musik sebelum tidur? Atau langsung nyungseb aja?

Tuesday, 3 September 2013

Draft Lagi #4

Alhamdulillah di tengah padatnya schedule bulan ini. Cerbung tak berjudul dari postingan sebelumnya, Draft Lagi #3, sudah rampung. Selamat membaca.

"Maafkan aku, Lui." Ekspresinya dari hati. Tentu saja, dia temanku.
"Tak apa," ucapku, berusaha mengatur laju napas. "Orang-orang yang ditinggalkan normalnya berduka. Lutessa dan aku mampu lebih dari normal. Intinya kami tidak ingin berlama-lama."


Kesedihan memang bukan identitas yang biasa u keluargaku. Meskipun kami menyadari bahwa masing-masing menyibukan diri hanyalah cara untuk menepis duka dan menukas sepi tapi toh selama ini itulah jalan kesuksesan melewati banyak peristiwa di keluarga Vaughn. Tetap tenang, luapkan pemikiran yang ada, pilah dan kembalilah normal.

Aku pribadi cukup mewarisi watak itu dari Billy meskipun Paman Ian dan Bibi Lutessa sepakat bahwa darah keluarga Evans, keluarga Ibuku, lebih banyak di tubuhku. Warna rambut coklat tua dengan semburat merah dan bergelombang kuwarisi dari Sally, Ibuku, wajah oval dan kaki lenjang juga darinya, sementara Billy hanya mewariskan mata birunya padaku. Namun dari semuanya aku berani bertaruh bahwa komposisi Billy dan Sally seimbang, aku cerminan dari keduanya.

Jendela bis sudah terbebas dari embun yang tadi menyelimutinya. Pemandangan kesibukan mulai terlihat dimana-mana saat bis kami melintasi halaman sekolah. Itu dia, sinar matahari yang mengintip dari balik dedaunan pohon maple, favoritku. Daun merahnya dibiaskan dengan lembut oleh matahari dan hasilnya adalah orange dan merah muda sebagai warna tambahan.

Bis sudah lenggang, Rose dan aku terbiasa keluar setelah yang lain. Ini membebaskan kami dari paparazzi ulung kelas kami seperti Elizabeth Lerman dan Goergiana Malik. Semester lalu Aku dan Rose pernah muncul di halaman situs mereka. Waktu itu postingannya adalah foto dimana kami berdua sedang berselisih dan tanganku hampir menampar wajah Rose, pada kenyataanya seperti itu  tapi software editing memanipulasinya dengan baik. Sempurna, tanganku mendarat di wajah Rose. Dan hasil yang lebih penting kami tahu wilayah mana yang tidak pantas kami kunjungi.

Udara pagi yang hangat menyentuh tubuhku saat berjalan menyebrangi halaman. Rose di sampingku, asyik bertexting dengan Lucas, adiknya yang baru masuk kelas satu tahun ini. Aku yakin wajahku memang memasang ekspressi biasa-biasa saja, terlihat dari wajah-wajah pengecek mood-mu di koridor sebelum loker. Seperti biasa arah mata mereka dari atas kebawah, atau sebaliknya.

Pagi ini dimulai dengan kelas sejarah Prof. Scott. Jujur aku tidak terlalu menyukai pelajaran ini. Sesuatu yang lumrah dan umum bila kita tidak memiliki kemampuan mengingat tanggal dengan baik, yang mana hal tersebut dibutuhkan di pelajaran hapalan yang satu ini. Terlebih lagi peristiwa yang memang tidak memiliki kaitan secara langsung dengan kehidupan yang kita jalani, lebih spesifiknya tidak teralami.

Jam berikutnya adalah Biologi. Klasifikasi mahluk hidup sudah dibahas tuntas di smester lalu. Smester ini akan membahas ke sistem kehidupan yang berlangsung di tubuh manusia. Tapi, tetap saja kita hanya akan membedah katak. Bukan manusia. Tidak akan mungkin. Lagi pula Prof. Kipps terlalu penakut, bahkan untuk memandang mata Kepala Sekolah Evershine, Prof. Aadesh.

Aku cukup puas dengan awal semester ini. Dua pelajaran awal yang membawa kami sampai waktu istirahat lumayan bisa kunikmati. Meskipun terselip kesialan saat Prof. Scott memintaku untuk menjelaskan sedikit sejarah yang aku ketahui mengenai pembentukan kota Lakeheaven. Seharusnya aku tidak menyebutkan nama keluarga Basilius sebagai salah satu pioneer karena lima tahun kemudian mereka membocorkan situasi pertahanan dan denah benteng Strongflame kepada penjajah, dengan kata lain mereka mata-mata.

"Kau yakin hanya ingin makan itu, Luina?" Bu Ora pegawai kafetaria menyadarkanku dari lamunan kelas sejarah.Oh, ya, itu, hanya ada kentang dan jagung di piringku.

"Bisa tambahkan daging cincangnya?" Jawabku setelah mengecek menu-menu di hadapanku.
"Tentu saja," Ia menambahkan dua sendok daging cincang merah yang ku pesan. "Kau perlu banyak makanan. Aku lihat tubuhmu melangsing."
"Oh, terimakasih." Jawabku, sedikit termenung menyadari ada yang menyisakan sedikit perhatiannya untukku. Bahkan dari Bu Ora. Kami tidak pernah terlibat percakapan seperti ini sebelumnya.

Aku baru saja akan meninggalkan antrian setelah membayar pesananku dan ingin menuju ke tempat dimana Rose sudah terduduk dengan makanannya di antara meja-meja yang ramai di kafetaria sebelum tangan Bu Ora menarik tanganku, dengan lembut pastinya. 

"Aku kenal dekat dengan Pamanmu. Ian Vaughn." Itu kalimat verifikasi dari tindakannya. Aku menatap wajahnya untuk beberapa saat yang bisa dibilang sebentar. Antrian di belakangku mulai ramai.

"Oke, terimakasih. Tapi kau bisa lihat." Aku memiringkan kepala ke arah antrian dan tersenyum.

Tanganku terbebas dari pegangannya dan apalagi yang aku tunggu, perutku sudah keroncongan. Rose melambai dengan raut wajah tidak sabar. Dua meja dari antrian dan aku mendapatkan kursiku.

"Ada apa dengan Ibu pegawai kafetaria?" Sudah jelas dia akan menanyakan yang barusan.
"Hanya ucapan belasungkawa." Jawabku lumayan lugas, sedikit tidak sabar dengan kentang di hadapanku.
"Oh, begitu. OK."

Rose kembali menikmati makanannya yang hampir habis. Dia sedang dalam keadaan yang baik. Lahapnya. 

"Eh, kenapa tadi kau menyebut nama Basilius? Semua orang tahu dia itu penghianat Lakeheaven." Topik berubah ke hal yang entah mengapa lumayan mengusik pikiranku. 
"Kupikir aku tadi menyebutkan Clementius," aku mencoba membela sesuatu yang sudah jelas hasil akhir bagi pembicaraan ini. Aku akan kalah.

"Oh, Rose...Benteng Strongflame!" 

Aku yakin suaraku cukup keras. Orang-orang di radius tiga meja dari tempatku memandang sinis. Kami memang baru membahas Basilius. Tapi kepalaku lebih cepat dan sudah sampai ke bagian Strongflame. Lukisan di ruang kerja Paman Ian dan sisa-sisa bangunan di hutan kota, itu Strongflame.

"Luina, barusan itu cukup membuatku ingin meninggalkan meja ini. Tapi aku temanmu."

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...