Wednesday, 30 October 2013

#puisi Bacakan Aku



Aku hanya tak memiliki hiburan lainnya
Jadi aku mengintip kisah-kisah terdahulu
Dan aku terjebak di dalamnya, akhirnya
Selalu butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa kembali

Dia dibacakannya buku-buku
Kadang tawa, kadang air mata diujungnya
Mungkin pikirnya dia hanya sendiri
Hingga pergi meninggalkan pembaca seorang diri

Matilah dalam hidup yang terlalu hidup
Langkah dan napas yang dirusak kepala dan rasa
Kalian melihatnya berjuang dengan dirinya
Kalian bungkam padahal mengenalnya

Dan halaman-halaman kusam menguak
Dibacakannya lagi untuk sekedar mengingat masa
Pendengar renyuh dengan tangis dan memori yang membasah di mata
Dia tidak sendiri

"Tidak ada surat?"
"Tidak."

Hanya suara mengantarkannya dengan rela
Hanyalah masa yang hampir terlupa
Paksakan sendi-sendi melangkah
Jiwa yang naik tinggalkan raga

Aku mengerti, Ini bukanlah hal besar
Tapi sejarah tak cukup menahun, namun selamanya
Biarkannya hanyut hingga melaut kapan menepi
Dan ada surat yang tersirat untuk selamanya

Jakarta, 30 Okt 2013 5.30 p.m

Saturday, 19 October 2013

MovieReview: Stoker(2013)

Dari google
Hai, sobat pengunjung setia blog Uyo Yahya. Ada yang suka dengan film phsycological thriller?  Yang kejam-kejam gitu dan sedikit bumbu misteri? Kalau memang kalian suka maka Stoker, sebuah film produksi produksi 2013 yang patut kalian tonton.

Diperankan oleh Mia Wasikowska(India Stoker), Nicole Kidman(Evelyn Stoker) dan Matthew Goode (Charlie Stoker) film ini berhasil membuat saya terperangah dari awal sampai akhir cerita. Tak dapat dipungkiri acting ketiganya memang benar-benar patut diacungi jempol. Terutama tentu saja si pemeran utama India, Mia Wasikowska yang juga pernah berperan sebagai Alice di Alice In The Wonderland bersama Johny Depp.

Film ini bercerita mengenai India, gadis remaja yang baru saja ditinggal oleh Ayahnya tepat saat ulang tahunnya yang ke-18. India adalah gadis yang pintar, mampu mendengar apa yang tidak didengar oleh orang lain, melihat apa yang tidak dilihat yang lain dan mampu merasakan bahaya yang sedang mengintainya. Namun, perlu ditekankan bahwa semua kemampuannya ini masih sebatas karena ketertarikannya akan hal-hal kecil yang diabaikan oleh orang-orang di sekitarnya, tidak sampai menyentuh ke magic.

Sepeninggal ayahnya, Richard Stoker, India tinggal berdua dengan ibunya Evelyn. Mereka mempunyai hubungan yang dingin. Ini dikarenakan India memang lebih sering menghabiskan waktu bersama Richard daripada dengan Ibunya. Mungkin suasana diantara mereka akan mencair dengan seiring waktu bila saja, Charlie, Paman India yang mengaku menghabiskan waktunya mengelilingi dunia, tidak datang merusak segalanya.

Charlie merupakan sosok pria yang mapan dan menawan. Bahkan Evelyn pun jatuh hati kepadanya. Namun siapa sangka bahwa keterbukaan Charlie terhadap Evelyn hanyalah alat yang digunakannya untuk memancing sifat liar India.

India merasa kacau dengan keadaan bahwa Ayahnya baru saja meninggal, namun ibunya telah dengan mudahnya jatuh hati pada pria baru yang tak lain adalah Pamannya. India berlari menembus kegelapan malam, meninggalkan rumah jauh di belakangnya hingga Ia bertemu dengan Whip, teman sekolahnya.

India mulai meneritakan tentang keadaanya kepada Whip. Hanya saja dengan kata-kata kiasan yang membuat Whip penasaran. Rupanya India memang terbakar api cemburu melihat kedekatan Ibu dan Pamannya. Dia, dengan emosi yang ada, seakan menarik Whip untuk menciumnya. Keadaan semakin kacau saat India menggigit lidah Whip dan tersadar dengan apa yang sedang Ia lakukan. Berkeinginan untuk pulang ke rumah, Namun Whip menolak. Berusaha  melepaskan cengkraman Whip, namun Ia malah terjatuh.

Whip hampir menyentuh India sesaat sebelum sabuk hitam melingkar di di lehernya yang terus ditarik ke belakang, Hingga ia mati di hadapan India.

India pulang ke rumah dengan Charlie di depannya mengankat mayat Whip di pundak. Charlie membuat kuburan untuk Whip dan memberi India giliran untuk menguburnya.

Kejadian ini menjadi jawaban bahwa kematian asisten rumah tangga Stoker, yang kepalanya ditemukan India di kotak Freezer di gudang bawah, lalu Bibi nya yang tidak kembali lagi ke Rumah, memang telah dibunuh oleh Pamannya, Charlie. Dan yang lebih mencengangkan Charlie secara terbuka menceritakan detail bagaimana Ia membunuh kakaknya, Richard, ayah India. Juga termasuk ketika saat masih kecil dia membunuh adik terkecilnya dengan menguburnya hidup-hidup yang membuatnya dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, bukan berkeliling dunia.

Charlie berniat membawa India ke New York. India bersedia, toh Dia juga telah ikut membunuh Whip dan memberikan keterangan palsu mengenai kepergian ...

Dikit lagi selesai nih... Tapi udah ah, nanti kalian tidak penasaran. Donlod aja ya di ganool.com.

Dan saya juga sedang tergila-gila dengan sountrack film ini, Emily Wells - Become The Color


Saturday, 12 October 2013

Mr. Renzo R, The Taxi Driver

Perhatian! Baca Artikel Ini Hingga Tuntas. Yang Asal Baca, Kalau Saya Jadi Anda Saya Bahkan Tidak Tahu Harus Komentar Apa.

gambar dari google
Siapa Mr. Renzo R? As you can see lah on the title above, He's only a taxi driver. But, there's something special about him. I knew it.

Jadi begini cceritanya. Hari ini Jum'at, 11 Oktober 2013 seperti yang telah terschedule saya ada pekerjaan di Gedung pusat salah satu bank BUMN tersebesar di Indonesia, di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat.
Tadi pagi saya berangkat dengan mood yang sedang tidak bagus. Alhasil perkerjaan yang dipaksa diselesaikan pukul 19.00 pun hasilnya tidak memuaskan dan malah menambah suasana yang tidak enak di dalam diri saya. Penyebab kontroversi hati ini adalah bahwa saya masih harus ke gedung ini besok hari Sabtu, dimana hari Sabtu saya harus ngampus. Dilema prioritas jadinya. Namun saya putuskan untuk masuk kuliah dengan nanti pagi telpon dulu ke bos saya.

Seharusnya keluar dari Gedung tersebut saya langsung stop taxi di depan, tapi tiba-tiba saya berkeinginan untuk berkunjung dulu ke kosan kakak saya, Tati, yang ada di Grogol. Kebetulah di sana juga ada teman sekaligus pacar kakak saya yang satu lagi, Yayang. berkunjunglah saya dengan niatan mau curhat tentang kontroversi prioritas ini.

Tidak lama saya di Grogol, hanya sampai pukul 9.30. Saya berjalan dari gang kosan Kakak saya, berhenti di ujung gang dan melihat ada Taxi Blue Bird yang kelihatannya kosong sedang melaju dengan pelan dari lawan arah dan akan belok ke arah kemana saya akan pulang. Dia tampaknya terjebak di pertigaan, saya sedikit tidak sabar lalu langsung saja berjalan dengan "Naik dari depan aja deh, lama yang ini." dalam hati.

Tapi, ternyata Taxi yang tadi sudah sekitar 5 meter di belakang saya yang sedang berjalan lalu berhenti dan melambaikan tangan memberi isyarat stop. Saya masuk, meminta untuk set AC ke temperature paling kecil, sementara lagu dari radionya saya nikmati.

"Pak, bisa tolong diset ke temperatur yang paling kecil AC-nya?"

"Baik, Pak," jawabnya sopan.

Taxi keluar dari kawasan Tawakal dan melaju ke Gandaria City melalui Senayan, tujuan dan jalur yang telah saya sebutkan pada si Taxi Driver.

Pikiran saya masih mumet dengan keadaan dalam diri saya, masih hal yang tadi. Saya mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat kemacetan. Nampaknya saya diperhatikan oleh Pak Supir. Terbukti dari topik pembicaraan yang Ia lontarkan untuk sekedar break the ice. Topik apalagi kalau bukan macet? Jakarta.

Yeah, pembicaraan barusan mengenai jam pulang kerja dan kemacetan cukup membuat kami agak dekat. 
Saya suka bagaimana Dia bicara, supel, lugas dan berisi.

Lalu saya lihat Dia tampak sibuk mencari saluran radio yang memutar musik yang pas dengan penghujung hari seperti ini. Lalu berhenti di channel dimana terdengar seorang penyiar sedang sedang sibuk mewawancarai bintang tamu talkshow-nya. Entahlah topik apa yang sedang mereka bahas karena Pak Sopir keburu mengungkapkan rasa kagumnya terhadap suara sang penyiar.

"Ini, de, yang sedang siaran ini namanya Bu Siska," Jelasnya dengan tangan menunjuk radio di dashboard depan. Sementara saya mendengarkan dengan jeli suara Bu Siska dan sedikit 'Hore! Dipanggil Ade! Tadi kan manggilnya Pak.'"Orangnya cakap, dan suaranya bagus. Dia tinggalnya di Kalibata. Pulang kerjanya sekitar jam satu malam."

 "Wiss... Tahu semuanya Bapak ini tentang beliau. Pengagum ya, Pak? Ngomong-ngomong Radio apa ini, Pak?"

"Ini Radio Sonora, de. Pendirinya adalah pendiri kompas gramedia. Saya pernah mengantar beliau pulang beberapa kali kesempatan, dan satu kesempatan di Thamrin beliau menumpang Taxi saya dan menyiarkan keadaan jalan Thamrin di jam-jam macet melalui telpon genggamnya. Beliau sangat mencintai pekerjaanya"
Setiap kalimat yang diucapkannya memang terkesan biasa. Tapi kalian harus lihat cara Dia berbicara dengan duduk di kursi kemudi dan tangan yang sibuk menyetir dan memetakan setiap opininya. Seharusnya terselip rasa takut mengingat, Hello, Dia sedang menyetir. Tapi the way he talk is so awesome and inspire me.

"Hmm... Saya syirik lho Pak dengan orang yang mencintai pekerjaanya."

"Kalau Bapak boleh tahu apa alasannya, De?"

"Tak tahulah, Pak. Pokoknya saya Insyaalloh capable dengan perkejaan ini. Tapi saya tidak 'mencintai'."

"Memang harus seperti itu, De. Kita kan hidup ingin bahagia dan faktor yang fundamental ya pekerjaan untuk survive kehidupan kita itu mesti sesuatu yang kita cintai. Jadi dalam menjalaninya pun kita enjoy, tidak ada beban. Tidak ada penolakan terhadap apa yang ada di tangan kita."

Saya mengangguk-angguk di kursi belakang, memperhatikan dan menyerap setiap perkataanya.

"Ada tiga hal sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan semua orang, termasuk kamu De, supaya bisa lebih bahagia dengan kehidupan ini."

"Apa saja itu, Pak?" Tanya saya, tak ingin hanya Dia yang menguasai pembicaraan, meskipun itu sudah terjadi jauh sebelum saya tersadar saat ini.

"Pertama, kita harus mensyukuri apa yang kita punya dulu, apa yang ada di hadapan kita. Dengan bersyukur dengan landasan menerima apa yang Tuhan berikan maka kita akan melaju pada point yang kedua yaitu Mulailah mencintai. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi di depan bahwa dengan mampu mencintai pekerjaan kita akan bisa lebih bahagia dalam hidup ini. Dan yang ketiga adalah option yang bilamana kamu bisa melakukan point yang pertama, yaitu bersyukur, tapi mentok tidak bisa melanjutkan ke tahap percintaan."

"Aisshhh... Percintaan, Pak?" Sontak saya terkejut dan menggelegak dengan istilah yang dipakainya. Dia mengangguk mengisyaratkan bahwa saya tidak salah dengar. "Ok, Baik Pak. "

"Yang ketiga ya, De. Usahakan jangan dibenci. Apa pun pekerjaan kamu, apa pun jabatan kamu, apa pun itu usahakan jangan pernah kamu benci. Karena bila demikian kamu bahkan sama dengan menolak apa yang Tuhan berikan. Bahkan untuk hasil yang bagus yang kamu hasilkan pun tak akan ada nilainya bila kamu benci dan pada akhirnya menjauhkan kebaikan-kebaikan yang sepatutnya kamu dapatkan andai saja kamu jauh-jauh dari kata 'Membenci'."

Untuk kesekian kalinya saya tertegun, menerawang dan menyerap isi kalimatnya. Dan tidak ketinggalan kagum cara bicara, tangan yang sibuk dengan setir dan isyarat pembicaraan, dan tetap tenang dalam kemacetan.

"Kayanya saya mentok deh, Pak. Gak bisa sampai ke tahap percintaan."

"Berarti jangan dibenci!" Tegasnya.

"Gak benci, Pak. Tapi, alhamdulillah saya masih bisa berpikir dan memutuskan untuk mengambil bidang yang saya suka plus cinta, Pak. Saya IT, tapi kuliah Sastra. Salahkah, Pak?"

"Itu keputusan yang bagus, setidaknya kamu sedang mengarah ke jalan yang kamu inginkan. Intinya jadilah diri kita sendiri!"

Sumpah! Selama dua puluh satu tahun hidup saya baru pertama kali berjumpa dengan orang tua yang mau berbicara tentang kehidupan kepada kaum yang lebih muda. Saya memuji keterbukaanya untuk berbagi dengan saya, saya yang baru naik taksinya beberapa menit lalu, saya yang tadi bad mood namun kini seperti menemukan sumber semangat.

"Kamu masih muda De, meskipun masih muda mesti ingat, bolehlah semangatmu membara, tubuhmu masih kuat, tapi jangan terlalu mati-matian kamu eksploitasi tenagamu hanya untuk mengejar harta. Apalah arti semua yang kamu dapatkan itu kalau nantinya hanya akan dipakai untuk mengobati penyakit akibat kerjamu yang mati-matian itu."

"Exactly, Pak! Saya pernah membaca artikel yang persis kata-katanya seperti yang Bapak sebutkan barusan. Saya iseng copy-paste kalimat tersebut untuk dijadikan status facebook, eh dikomentari sama teman-teman saya yang kerjanya bisa disebut mati-matian, Pak. Mereka gak setuju, Pak. Katanya biasa aja dan enak-enak aja."

"Sekarang? Lah, nanti?" Celetuknya memancing saya tertawa paham.

"Wah, Iya ya Pak." Paham.

"Ngomong-ngomong Bapak membuat kalimat barusan dari pemikiran Bapak sendiri, lho. Jadi kalau kamu membaca artikel yang sama persis kata-katanya seperti itu. Saya yakin si pembuat artikel itu cerdas."

Perhatian pemirsa, posisi masih sama seperti tadi. Beliau ada di kursi kemudi dan saya di kursi penumpang belakang.


To be continued...

Sunday, 6 October 2013

Apa harus telanjang?

Halo sobat setia pengunjung blog Uyo Yahya. Apa kalian ada yang sudah coba nonton video klip nya Miley Cyrus yang terbaru, Wrecking Ball? Kalau belum, bergegaslah ke youtube.com sebelum video klip tersebut diblokir di Indonesia.

Pasti pada bertanya-tanya mengapa saya yakin video klip tersebut bakalan diblokir. Hal serupa pernah terjadi pada video klip Britney Spears - I'm A Slave 4 U, dan juga miliknya Paris Hilton - entah apa judulnya. Pertanyaannya masih sama "Kenapa diblokir?"

Jawabannya adalah: Terlalu Hot!

Yang paling hot sekarang memang Wrecking Ball-nya Miley Cyrus. Kalau dicermati dengan kacamata hati yang benar maka kualitas kekreatifannya memang rendah. Memamerkan lekuk tubuh benar-benar polos untuk menaikkan popularitas memang kerap kali dilakukan oleh selebriti hollywood. Kebanyakan yang melakukannya adalah yang masih muda di dunia tarik suara di sana, dan tentu saja yang kepopulerannya belum setenar sebelum mereka nekad bertelanjang di video klipnya.

Rata-rata dari artis terkait memang menyatakan bahwa mereka hanya ingin menjadi diri mereka yang sebenarnya. Oh, jadi jelek sekali ya kalau ternyata diri mereka yang sebenarnya itu gemar mengundang lawan jenis. Kesannya sih, maaf, murah!

Kalau saya dengarkan dengan jeli suara Miley Cyrus itu sudah OK, kok. Dan jumlah penggemarnya juga lumayan. Serta kepopulerannya juga, pastinya, di atas kepopuleran artis sekelas Nikita Mirzani. But, why? Sungguh disayangkan...

Dan cerita lagu itu juga lumayan bagus tapi mengapa dihancurkan dengan visualisasinya, ya.

Dan saya merasa sangat kecewa setelah salah satu penyanyi favorit saya, Rihanna, juga melakukan hal yang sama di video klip terbarunya, Pour It Up. Tidak terlalu populer, mungkin kebanting sama Wrecking Ball.

Pernah merasa kecewa dengan artis yang teman-teman sukai? Share dong di komen. Terimakasih.

Salam,

Uyo Yahya

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...