Thursday, 27 February 2014

#puisi Kemarilah

Tinggalkan wajah-wajah semu itu
Palingkan pada bersitan-bersitan yang seakan bersemburat
Mereka memberi tanda, mereka menyambut bangga
Kemarilah, rebahlah di bumi pengharapan

Lepaskan penat dan dahaga di batas antara jeruji dan udara
Seharusnya kau mampu lebih cepat
Karena mereka sekali lagi memberi tanda, seakan tak sabar
Kemarilah, menetaplah di bumi berpelitur warna

Atas jiwa yang kian tak terusik
Dalam malam badai dan siang terik
Terlebih kekuatanmu di labirin-labirin waktu dan permainan emosi
Karena tertakdir untuk mereka menanti
Hati-hati yang hanya terlihat rapuh

Kemarilah,
Kau di batas kekangan dan kebebasan
Berjalanlah,
Terus ikuti lentera-lentera yang hanya sebatas redup
Berlarilah, kemarilah...

Didedikasikan untuk EIS, rekan yang selalu kuat... :)

Saturday, 22 February 2014

#puisi Hinanya

Banyak tertulis dalam kalimat rumit
Ketidakpuasan, penuntutan atasnya
Tersaji untuk dibaca secara terbuka
Tanpa tabir penghalang, pun kesemuan

Karena keterbatasan cakupannya
Dan sedikit rasa malu yang terikat dengannya
Tiap kali kelu dan diurungkan
Parahnya bahwa ini bahaya

Tapi seperti memakan spesiesmu sendiri
Tampak kepuasan yang sedetik kemudian redup
Tetap berpagutan kebisuan
Aku bungkam

Dan di kedalamannya berserakan bak tak berpenghuni
Dimana gerangan mereka?
Menunggu untuk sang pemegang titah?
Atau berjalan jauh dan akan semakin jauh?

Tidak seharusnya aku membuang waktu

Friday, 21 February 2014

SongReview: Christina Aguilera - Hurt

Setelah cukup produktif(mungkin) dengan menelurkan tiga puisi sederhana di awal bulan Februari ini akhirnya saya mengalami kebosanan and this is it postingan Review Lagu Jadul: Christina Aguilera - Hurt.

Seems like it was yesterday when I saw your face...

Langsung saja dengan mendengar lirik pertama lagu ini membuat pikiran saya terbang ke masa lalu. Yesterday I saw your face. Ini merupakan lirik yang mungkin biasa, banyak diadopsi lagu-lagu lainnya. Namun dengan pembawaan yang pas dari si penyanyinya dan dipadukan dengan denting piano yang indah, hal ini secara otomatis menciptakan efek yang langsung membuat pendengar mampu menikmati cerita yang akan diungkapkan lagu ini.

Secara singkat lagu ini menceritakan pengalaman hidup seseorang yang mengakui seberapa menyesalnya dia telah meninggalkan pujaan hatinya, menyalahkan segalanya pada seseorang tersebut hingga pada saat sekarang ini barulah dia sadar bahwa dengan melakukan hal-hal yang menyakiti pujaannya adalah tindakan menyakiti dirinya sendiri.

You told me how proud you were but I walked away
If only I knew what I know today

Benar-benar tindakan bodoh untuk meninggalkan orang yang benar-benar merasa beruntung telah memiliki kita di sisinya. Dan saya orang bodoh itu.

Kayaknya kalau dijelaskan perlirik bakalan panjang, panjang banget dan pastinya seperti membasuh luka lama dengan air garam. Well, saya stop sampai disini saja lah...See you everyone...




Friday, 14 February 2014

#puisi Refleksi

Matahari tepat di kepala
Goresan sejarah dari tinta seribu meleleh lalu menguap
Mengaburkan memori-memori jauh sebelum sempat terkuak
Hampir mencapai permukaan, sebelum alzheimer menitah

Embun dan kebekuan ditantang
Dengan tubuh tipis dan dada yang datar
Karena cahaya di titik terjauh sumber gairahnya
Abaikan mulut-mulut besar dan para pemain sosial

Tapi,
Hanya seperti tetesan pelepas dahaga
Ah,
Hanya butiran salju di sahara

Lalu, masa itu adalah era hijrah
Dari ketinggian ke dataran rendah
Menyapa gravitasi dan rasa keberpijakan kaki di bumi
Namun jiwanya yang terlalu sepi

Bertanya pada keresahannya
Ada penyelesaiankah di sana?
Kapan kau meningalkanku?

Yang tersisa hanya metafora dan perumpamaan
Aku adalah pencipta teori dunia di kepalaku
Tepat dibawah matahari, di atas poros dunia
Dan refleksi, tinggalkan baikmu

Wednesday, 5 February 2014

#puisi Beku

Tanpa sandaran andalannya
Yang memudar tiap kali melintas di ingatan
Dia selalu tahu detik-detik berikutnya
Geram, emosi, lalu sunyi, senyap

Pria yang mendayung dengan hati-hati,
Pria lain yang terlalu mengekang kebrutalan,
Dan wanita di antaranya mengunci monster

Seperti biasa khalayak terpincut ketidakwarasan
Tergoda kesempurnaan yang tiada
Mencampakkan pria lain dan wanita

Sangat dingin, bahkan jika sekutuku api neraka
Hanya akan berkeretak di detik sebelum ketiadaan
Beku

Rintih gigil ini akan terkenang
Di batas biru dan jingga, di pucuk-pucuk harapan yang tinggallah cerita

Bahwa waktu adalah sementara
Dan sepi akan terus membeku
Kendati aku mencair, tapi sendiri

Saturday, 1 February 2014

#puisi Malam-malam

Didengarkan nyanyian sunyi
Mengundang kisah-kisah belati
Dalam kerumitan pikiran manusia
Bagaimana bisa diabsahkan logika?

Dalam kurun seribu-sepuluh ribu tahun
Tak akan cukup, tak akan pernah
Kita dipermainkan penat dan sejuk
Mengkoalisikan keduanya malah petaka

Menyayup menggelitik jiwa
Terpanggil dari kejauhan tak terjamah
Dalam lisan, telepati dan teknologi
Dilindas dengan sesadar-sadarnya, sempurna

Ketakutan yang merindukan penasaran
Butakah di sana yang selalu lebih bisa melihat
Ataukah kematian memilihnya, lebih kejam dia yang memilih?

Tak apalah, toh di jantung, memori dan aliran darahnya terinfeksi sudah
Tak ada pengampunan, begitu pun bagi si pengaku
Mil-mil itu mengalahkan keseimbangannya
Hingga malam-malam terus mengekor

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...