Friday, 21 March 2014

#puisi Lena, Lara

Bila ingin kumemproklamirkan
Maka jiwa yang seakan mampu terbaca penyebabnya
Tapi sebagian memimpikan keabadian
Dipendamlah serapat-rapatnya, tak segaris sinar menyelinap masuk

Karena lena memabukan
Berbagai energi dan cahaya dipendarkan
Dan karena jarak yang sepersekian mili
Air murni ini kotor, menyebarkan infeksi pada sang inang

Rasanya seperti kau hanya akan selalu tersenyum
Layaknya Dia adalah pelindungmu
Tak mengenal ruang dan waktu
Tapi karena bumi dan bulan menganalogikan
Kelumpuhan dirayakan

Lagipula resah mengundang lara
Telah lama tak ada di ingatan, tapi sekali lagi mencuat ke permukaan
Mungkin menyapa kekejian yang semakin nyata
Atau mungkin menegaskan teritori palung gelap

Perkata ini menyayup ke kejauhan
Samar-samar bak melantunkan nyanyian
Dari dalam, dari sunyi
Perlahan membuka lena dan lara
Berkisah di telinga

#puisi Rekaman

Diputarkan kembali pada masa-masa pelayaran yang gelisah
Menghempas karang, menantang lautan, menghujam badai
Dalam kesiagaan dan kepayahan
Tetap dengan terpaksa dikeraskan

Inginnya mengerti sikap-sikap kebangsawanan
Tapi oposisi lebih menyenangkan dan menarik perhatian
Maka lenyaplah pelita diri yang murni
Berganti perangai baru, harapan elok namun membelok

Satu rekaman yang abadi bahwa sebelum badai terbesar aku melihat tanda-tanda
Daun-daun gugur yang resah dibuai angin, seakan memberat enggan beterbangan
Kolega-kolega yang seakan sumringah mendapati kepanikan ini
Dan diri layaknya meramalkan garis-garis tangan

Seketika itu pertahanan utama diperkuat
Mantra dan petuah bertahan dalam dua purnama
Selebihnya seakan sepenjuru pikiran telah memberi fakta lemah, benteng baja itu tembus
Pasukan troya bergeliat bak terbangun dari tidur panjang namun terlalu bersemangat

Penakluk, tak kau dayagunakan hamba
Untuk sekedar menerima titah
Bakti adalah harga mati
Tapi kau dibutakan mata dan ketidaksiapan
Aku pun tak melihat burung-burung penanda oasis

Penakluk, skenario ini murni milik-Nya
Kita dalam tingkatan yang sama
Aku kalah untuk kemenangan yang lainnya
Kau pun kuhapus demi kemenanganmu

Bila terlalu banyak tanya di kepala
Dan ribuan kalimat interogasi yang menuntut jawaban
Carilah suasana dimana dedaunan kering tertiup pelan dan semburat jingga sore menembus coklat tua yang lapuk
Rekamannya disana...

Tuesday, 18 March 2014

Kangen Emak Pisan!

Sudah delapan bulan semenjak lebaran Idul Fitri saya belum mudik lagi ke Tasikmalaya. Rasanya seperti puasa yang seharusnya maghrib berbuka ini malah belum pasti kapan berbukanya. Rasanya itu kangen pisan, euy. Kangen dengan suasana rumah yang hangat, halaman yang asri dipagari pepohonan bambu yang ujung-ujungnya bergemerisik tiap kali angin berhembus, juga aroma tanah kering sore hari dan canda tawa anak-anak kecil yang bermain dengan permainan tradisional.

Yang paling kangen ya tentu kangen emak... Rasanya 8 bulan tidak berjumpa seperti mengikis semangat diri sendiri setiap harinya. Alternatif mengurangi rasa kangen biasanya cukup dengan telpon di hari minggu. Tapi tidak untuk kali ini. Saya sudah tidak tahan. Seandainya setiap hari adalah awal bulan mungkin detik dimana saya merasakan rindu yang teramat sagat, di detik selanjutnya saya sudah memutuskan bahwa saya akan mudik sekarang juga. But, you know lah nasib karyawan.

Maka saya memutuskan tanggal 29 Maret untuk mudik. Lumayan hari seninnya tanggal 31 libur juga. Dan agak sedikit ragu sih apa mungkin waktu dua hari itu cukup untuk melepas rasa kangen terhadap kampung halaman dan segala yang ada di sana, termasuk sahabat-sahabat saya? Kalau untuk berjumpa emak sih disyukuri aja bakalan seharian penuh take quality time with her, ah. Untuk bertemu sahabat-sahabat sepertinya tidak ada waktu. Aduh padahal udah ada rencana dengan Mba Elsawati Dewi.
Jadi gak enak.

Tapi, mudah-mudahan bisa deh. Lihat sikon aja entar. Aamiin...

See ya, everyone...

Monday, 17 March 2014

Lost In Paradise

Well, Hello insan blogger semuanya...

gambar dari google
Saya ragu apakah masih ada dari Anda yang mengingat saya...dikarenakan saya akhir-akhir ini jarang sekali melakukan blogwalking. Sibuk kerja, tentunya itu yang menjadi alasan utama. Padahal udah kayak bikin perjanjian dengan diri sendiri bahwa sesibuk apa pun untuk menulis/posting di blog tetep harus dijalanin. Tapi, ya apa dayakulah...hamba hanya manusia biasa...

Lost In Paradise? Meminjam dari salah satu judul lagu-nya Rihanna di album unapalogetic. Lost in Paradise, Hilang/Tersesat di Firdaus(Surga). Seperti itulah yang saya rasakan sekarang ini. Lebih spesifik saya merasa bahwa blogger adalah surga dimana saya bisa melakukan kegiatan menulis dengan menyenangkan. "Bisa" bikin postingan sederhana pun sudah membuat saya bahagia, apalagi didatangi oleh Anda-anda semua...plus dengan komentar yang membangun membuat saya merasa "I belong here...". Terimakasih :D.

Kembali ke notebook(laptop punyanya Tukul). Blog sebagai surga menulis dan Lost perasaan hilang, nyasar, tidak tahu arah, harus bagaimana karena lambat laun feel menulis saya seperti ikut-ikutan menghilang. Tapi saya 100 % bahwa passion saya adalah di bidang linguistik seperti ini. Tidak untuk yang lainnya. Meski sedikit keterampilan bidang lain pun merupakan nilai tambah.

Paragraf di atas sungguh tidak padu.

Ya, sudahlah...Ya, Alloh beri saya cahaya-Mu di lorong yang gelap ini...Aamiin.

Sunday, 9 March 2014

#puisi Dunia di Kepala

Pada banyak masa siaga dan lengah
Mengalir dalam ribuan kapiler darah
Yang murni meyakinkan, buruk meragukan
Kuasa tertinggi mungkin jauh di sana
Ah, analogi yang salah

Jadi kisah-kisah itu berlarian, melemah dan hampir hilang
Dan disadari bahwa tidak hanya waktu yang bersalah
Penguasa mampu menuduh siapa
Tapi logika adalah identitas

Ada pun gejolak-gejolak yang diabaikan
Meletup-letup bila saja pemegang titah terbebaskan
Untuk kembali membakar ragu
Dan membangun dunia di kepala

Hal luar biasa yang tersisa, dunia kompleks yang terancam punah
Harus ada pengharapan akan perlindungan
Karena hidup akan selalu berdampingan dengannya, dunia di kepala

Monday, 3 March 2014

#puisi Dialah di Hati

Kendati waktu mencekik kesempatan
Dan senja adalah batasan
Di barat-timur, utara jua selatan
Tapi bagi-Nya tiada halangan

Dan bila manusia-manusia terlalu jauh
Terlelap dalam balutan dunia nan elok
Bahkan terlalu sering melahap kesalahan
Adalah mudah memisahkan kepada dari badan, untuk-Nya

Meski telah ribuan mil kau tempuh
Menyibukkan diri hanya untuk menghindar
Dia di titik terdekat dalam dirimu
Dialah di hati

Karena setiap kepala mengepalai tubuh yang terlahir untuk kebaikan
Maka, seberapa picik setan merangkulmu
Adalah Dia yang tetap kau rindu
Dialah di siang-malammu, pagi-soremu, ruang-waktumu, hidup-matimu
Dialah di hati...

Sunday, 2 March 2014

#puisi Hujan Kali Ini

Menulismu seperti menjamahmu
Menyentuh wajah, mata, hidungmu
Menerjemahkanmu layaknya memahami bahasa tingkat tinggi
Sering kali gagal, beberapa berhasil

Mengundangmu dalam hujan
Biasanya menyenangkan dan menginspirasi
Membangkitkanmu dalam dingin
Kerap kali menjadi identitas kalimat-kalimatku

Tapi waktu telah berperan
Aku kehilangan kemampuan untuk selalu menghidupkanmu dalam mimpi, hujan, dan dingin
Dan setiap rintik hujan hanya akan terus mengaburkanmu

Kiranya aku berhasil bertahan hidup tanpa harus menjadi parasit yang dulu kerap kali termenung lama...mencarimu
Hujan kali ini memperlakukanku layaknya normal
Hujan kali ini...menyingkirkanmu dengan anggunnya

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...