Sunday, 20 April 2014

#puisi Teruntuk Gelap

Langkah ini diharapkan menuju terang, tapi terang bersekutu
Maka kutujukan pada sang asal, kecewa kudapatinya dengan terang
Kudaki hingga puncak tertinggi, harapan memandang dan mengerti
Sekali lagi berubah-ubah, terang dan gelap

Kami menjalankan hukum alam
Akan selalu seperti itu, bahkan sejak kau terlalu polos hingga sekarang
Aku melihat kelemahanmu, kau dunia yang terperangkap
Beruntunglah karena aku dan terang adalah sekutu abadi
Begitu pula dalam menemani manusia, selamanya

Lalu bagaimana dengan para bangsawan yang melenggang penuh keanggunan
Tiada gelap yang terlihat di sutra dan perangainya, hanya penuh dengan terang
Aku membaca, seakan mampu, apa jawabanmu
Tapi berhati-hatilah karena ribuan jaringan di kepalaku selalu menuntut lebih
Tak pernah ada kesempatan yang terbengkalai lalu menghilang diterpa ingatan dan keduniawian

Mereka pun layaknya engkau, dunia yang terperangkap
Hanya saja kau istimewa, mahluk langka
Dan sekutu-sekutu dunia merangkai skenario yang tentunya istimewa, berbeda
Kau melihat dari sudut berbeda, kau mengerti bahkan sebelum penutur mengakhiri setiap kalimatnya
Kau hanya lahir dengan keistimewaanmu, dan itu cukup

Apa nama untuk kesediaan manusia menunggu? Sabar.
Baiklah, maka aku sedikit lebih bijak untuk mengatakan bahwa Ia pun tak sendirian
Adalah tergesa yang mendampinginya
Dan mahluk kecil ini terjangkit keduanya
Ah, memang tak akan ada yang pernah luput
Kendati tidak hari ini, besok mungkin

Kami benar-benar tidak berhak atas penjelasan yang akan selalu melebar ini
Karena melihat mata mungilmu adalah membuka banyak rahasia dan pemikiran milenium
Kendati kayak kebaikan, tapi kami ragu akan keseimbangan suasana sempit
Kau selalu lebih tahu, Raja dunia yang terperangkap

#puisi Senja, Kau Kini

Senja, mestinya berpelitur jingga yang menawan
Dilengkapi kecenderungan langit yang menggelap
Disambut dengan pemikiran bersih
Dinanti dengan catatan-catatan indah

Senja, dulu kau diwarnai
Langit gelap disingkirkan, sengaja berlama-lama denganmu
Wajah kemenangan menyambut semburatmu
Aku terduduk dengan pena dan kertas

Senja, kini kau kuhindari
Aku membiru ingin bermanja dengan surya yang gagah dan menghangatkan
Mengalirkan energi daripadamu yang mengantarkan gundah
Terkulai tubuh ini menerima tajam yang melembut

Senja, kau memori
Dimana aku melarikan diri dan menemuimu, bahkan mengadu
Kau tampak berbeda
Apa aku yang berubah?

Katakan kau menanti cerita hari ini, esok atau pun lusa
Katakan kau akan menjemput jinggamu, menawanku kembali
Jiwa adalah kebebasan untuk memilih
Tapi tubuh adalah pembatas
Maka apa daya, kau pun hanya hamba

Sunday, 13 April 2014

#puisi Hilang III

Kan masih ada dingin dan sedikit kehangatan
Hijau yang tenang dan biru yang penuh misteri
Langit mengawasi dan bumi merekam jejak
Pena tetap mengalir dan tangan setia menulis

Mendung datang mengkhawatirkan
Cerah menyusul menyengat badan
Luas melapangkan, keterbatasan menaklukan
Hitam menawan asa, putih mengembalikan

Petuah-petuah berkeliaran di kepala
Satu per satu menekankan kewarasan
Lalu kehilangan membentuk setan
Busur yang menegang mengancam pilihan

Pencarian ini hanya harus berhenti
Lalu dimulai di lain hari
Seperti warna-warna yang lama bersemi
Mereka memberikan gelap di beberapa saat 

#puisi Hilang II

Kerikil-kerikil menusuk dingin
Secepat mungkin kaki melangkah
Selanjutnya rumput yang basah
Membusuk menjijikan
Dan mendung disusuli hujan mengucilkanku

Dalam kehijauan yang menggelap
Tergenang bara dan membekukan-melelehkan
Rintik yang mengecil menggema menjemput kesadaran
Itu matahari, tidak jelas, atau apalah
Hanya saja menghangatkan

Dipaksa untuk mengerti
Yang hilang kan menguatkan
Biarkan sementara menepi
Redamkan ketidakjelasan


#puisi Hilang I

Menulismu lagi dalam puisi
Menyentuhmu lagi kendati meraba-raba
Membaikanmu meski memperburuk
Menerkamu walau salah
Dingin, sebagian diriku memeluk

Kepalaku terjebak pada lirik "Apa kabarmu? Kabarku baik-baik saja."
Lalu jemariku merespon dan bertindak
Menyeruak seketika layaknya terbuka
Di balik cahaya kemerahan, itu dirimu

Seperti laskar meneguk kemenangan
Aku berlari beringsut tak tenang
Layaknya malam menyambut pagi
Tak sabar mataku terbuka...dan kau hilang


Tuesday, 8 April 2014

#puisi Mungkin Iblis

Setiap langkahnya adalah kegelapan
Kendati tersenyum namun bersiaplah kan menerkam
Kan mencengkeram, menghujam tajam menyembur segar
Itu dia darah merah deras

Tiap ucapnya adalah pengekangan
Terlihat berpetuah dibaliknya sampah
Kan menenggelamkan, mencekik hingga suara memekik
Itu dia yang bengis

Lalu ingkar salah satu perangai
Hari ini meloloskanmu kemudian menjebakmu
Mungkin kau terbebas, lihat saja nanti
Ainulyaqin, sekilas terlintas

Mungkin gila,
Mungkin abnormal,
Mungkin hantu,
Mungkin setan,
Mungkin Iblis, cocok!

Jebakan, penjara, ranjau, fitnah...
Aku menyimpan banyak kata-kata kotor untuk si pemukul dada
Si lantang yang berlebihan menentang batas, batas antara malam dan siang

Iblis!

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...