Friday, 16 May 2014

Abah In Memory

Jum'at, 9 Mei 2014 Ayah saya meninggal dunia di usianya yang genap menginjak 70 tahun. Tentu saya sedih. Rasanya seperti mimpi saat pertama kali mendengar kabar dari kakak di Tasikmalaya sana. Bahkan hingga saat ini pun saya masih belum percaya. Entah karena ajaran agama yang menerangkan bahwa di empat puluh hari pertama ruh masih ada di sekitar kita atau pun pemikiran saya sendiri yang merasa bahwa beliau ada di suatu tempat, mengawasi entah dari jauh atau dekat.

Tapi toh kenyataanya beliau tidak ada. Secara fisik tubuhnya telah satu minggu tertindih tanah merah di kuburan dan tidak lagi bersama kami. Meski spiritnya masih terasa di atmosfer rumah, namun berpisahnya ruh dengan raga yang disebut mati; beberapa kali tahlilan di rumah; air mata Ibu, sanak saudara, dan yang merasa kehilangan; lalu kebiasaan melihat ke arah kamarnya dan tak menemukan apa-apa, membuktikan bahwa beliau tidak lagi di bumi ini.

Yang paling membuat saya merasa sedih sekaligus bahagia adalah bahwa beliau sama sekali tidak menyampaikan kata-kata perpisahan. Memang tidak mutlak diperlukan. Saya sendiri telah hapal, ini yang membuat saya bahagia, apa yang selalu didawamkannya kepada saya dan kakak-kakak saya: Sholat. Hanya itu. Maka, kendati beliau tidak merangkai kata dalam keterbataan lidah saat syakaratul maut, saya sudah tahu apa yang diinginkannya. Semoga saya selalu istiqomah. Aamiin.

Teruntuk Abah di sana, saya tahu Alloh telah mentakdirkan hari Jum'at sebagai hari kepergianmu. Jum'at adalah hari yang baik di agama kita. Meski saya tidak melihat bahkan untuk yang terakhir kalinya, karena keagungan hari Jum'at sebagai hari kepergiamu tak akan agung lagi bila menunggu kami yang merantau dan akan datang larut - dengan kemungkinan bila menunggu kami jasadmu akan dikuburkan di hari Sabtu, bukan Jum'at yang agung, kami ikhlas.

Kematian hanyalah gerbang yang akan membawa manusia pada perjalanan selanjutnya. Perjalanan yang lebih panjang dimana bila ditakdirkan, semoga ditakdirkan, aamiin, kita akan bertemu di tempat yang lebih indah. Aamiin.

Diambil tepat 40 hari sebelum kepergian beliau

In Memory, Abdul Muin.
Such a quiet, patient, smart, polite, wise, and great man.


Salam,
-uy-

NP: Bangga mewarisi warna kulit dan sebagian kecil kebrilianannya.

7 comments:

  1. Budaya kita mengajarkan untuk turut berduka cita saat kerabat atau orang terdekat kita pergi. Walaupun rasa belasungkawa tersebut ternyata untuk orang yang ditanggalkan. Saya juga turut berduka cita. Semoga di terima di sisi-Nya.

    Posting ini mengingatkan saya beberapa tahun yang lalu. Kepergian kakek tercinta. Rasa kehilangan benar-benar nyata rasanya. Saya sering menonton tv dan menyaksikan adegan sedih keluarga yang di tinggal mati. Awalnya saya merasa itu terlalu berlebihan. Ternyata, saat kita mengalaminya sendiri itu rasanya sangat sakit. Kita melihat tubuh orang yang sehari-hari ada bersama kita tetapi tubuh itu sama sekali sudah menjadi asing. Dia hanya bisa diam dan kaku.

    Rasa kehilangan menetap bahkan sampai berbulan-bulan. Kadang saya bahkan merasa berang kepada Tuhan. Tapi, apa yang terjadi maka terjadilah.

    Beruntung sekali Uyo karena mendapat kesempatan langka merekam adegan harmonis tepat 40 hari sebelum kepergiannya. Semoga yang meninggalkan damai dan yang ditinggalkan tetap semangat. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, Mas Mikayl...

      Ya, saya pun merasakan sakit yang teramat. Ada berang juga, tapi untungnya tidak pernah mencuat ke permukaan. Kebiasaan ditinggalkan dan meninggalkan sejak kecil hingga sekarang menjadi sebuah latihan untuk bisa sendiri, mandiri...dan itu membuat saya tidak terlalu terpuruk.

      Ya, memang beruntung bisa untuk terakhir kalinya merekam keharmonisan 40 hari sebelum kepergian beliau. Seandainya saya tahu...tapi ya sudahlah.

      Aamiin.

      Sekali lagi, terimakasih...

      Delete
  2. Semua makhluk hidup yang ada dialam semesta ini pasti semua akan mengalami kematian, jadi kita serahkan semua takdir kita kepada-NYA.

    Semoga amal ibadah Abah Mas Uyo diterima disisi Tuhan, dan semoga Mas Uyo yang ditinggal Abbah tetap semangat dalam urusan dunia dan akhirat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeah, saya yakin akan kembalinya semua hal kepada sang pencipta.

      Aamiin. Terimakasih, Mas Boku.

      Semangat!

      Delete
  3. Just visited your page. Simply love the template. Btw deep condolences to you & family (one more) :)

    ReplyDelete

Blog Uyo Yahya menerima segala macam komentar yang memenuhi kriteria "Bebas tapi Sopan". Mangga, silahkan...

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...