Wednesday, 16 July 2014

#puisi Menatap Bahaya

Aku melihat kanan yang eloknya berpelitur kerumitan,
Jalannya penuh belukar kedengkian,
Mahluk-mahluknya mencelakakan dengan cara mengerikan
Tak ku lihat adanya kesamaan dalam keindahannya

Sementara sisi yang lain, kiri
Aku hampir selalu melihatnya terbingkai permai
Semua penilaian indah dimilikinya
Tak ada cacat, hanya kisah-kisah yang menggiurkan

Persimpangan selalu menjadi bagian tersulit
Ya, aku melihatmu wahai kebaikan yang memilukan
Kau juga, sebaik-baiknya keinginanku yang lama menunggu dengan sabarnya
Jadi tunjukkan saja sebenar-benarnya kalian, bertelanjanglah

Teorinya selalu sama, kuno dan modern
Ironi kendati merupakan mahluk modern, namun kekunoan penuh kedamaian
Persetan dengan ideologi paling ideal masa kini
Rasanya menenangkan, prinsif melekat kuat dan aku menatap bahaya

#puisi Penyejuk Bahaya

Sekali lagi aku mengundang bagian paling dalam yang berbahaya
Pemikiran normal hanya selalu mengawasi
Dicobanya untuk merengkuh secepat mungkin, namun gagal
Sementara provokator keonaran bertepuk tangan menyemangati

Peperangan di luar tubuh selalu lebih mampu dikuasai
Aku payah dengan diriku sendiri
Memelihara si penyabar, di lain sisi menjaga si penggerogot si penyabar
Perselisihannya selalu tanpa ujung dan terlihat memang tak akan ada

Mulut-mulut kaum hitam-putih itu membuatku lelah
Dimengerti, namun dipersalahkan
Diabaikan pun tetaplah sama, bahkan memburuk
Maka wajar bila aku mengagumi bagaimana kepalaku mengolah pemikiran-pemikiran yang setiap detik, bahkan sepersekian detiknya selalu berubah

Pada saat-saat seperti ini maka si Penyabar akan menebalkan benteng pertahanan
Menghadang pikiran-pikiran setan mengelabui penentu lanjut dan berhenti
Tapi selalu saja aku ingin meloloskan hewan-hewan liar ini
Runtuhkan! Bumi hanguskan! Musnahkan! Enyahlah!

"Kemarilah," mata sejuk itu seakan berkata demikian. "Kendati lahar kau berikan padaku, Aku akan tetap memelukmu."

Monday, 14 July 2014

#puisi Mestinya Waktu

Katakan saja bahwa setiap perkara berbatas perkara
Seperti kebebasan terbentur kebebasan
Lalu aturan kawanan liar terkekang aturan rimba
Juga otonomi-otonomi tak bisa menutup mata negara

Lalu utarakan dengan lantang bahwa mimpi tak kan lebih lama dari kenyataan
Teriakan hingga serak, hari berbatas malam
Kehidupan dan kematian
Awal dan akhir

Mestinya waktu, sebagai pengacu yang sedari dulu
Tak lelahnya berdetik hingga menit, lalu jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dekade, abad, millenium
Ditekankan pada mata-mata tua yang kini terpejam
Agar diserapnya hingga dunia tahu
Mestinya waktu, sedari dulu

Karena nilai kehidupan pun mutlak diperhitungkan
Bumi, langit, bulan, matahari, atom, partikel
Mereka memegang perwaktu
Mestinya, sedari dulu, waktu

Friday, 4 July 2014

#puisi Irasional


Ya atau tidak, maka kau di ranah berbeda
Pemuja kebenaran hakiki, hamba keliaran diri
Banyak kemungkinan dan spekulasi, tempat ternyaman untukku
Demi kebaikan yang tepat, penakluk nafsu tabiat
Keyakinan telah berkuasa dan menanamkan: bahwa logika adalah tuntutan tak berujung
Semakin lama jam terbang, terhapuslah sebenar-benarnya medan perang
Coba kau sentuh bagian kesatuan manusia yang lain
Ada penggerak yang senantiasa memaki, meludah, menyeret
Dialah si pembaik
Disini kau bebas melukis peperangan, menebar bahak, bersiasat dalam cerita
Hal-hal yang tidak memerlukan uang dan kuasa
Karena irasional menundukan biasa, merujuk pada keluarbiasaan

Wednesday, 2 July 2014

#puisi Padang Emas


Melatari suasana penghujung hari
Baunya tak seharum parfum, namun layak dirindukan
Rasanya seperti terseret gravitasi yang tak wajar
Akhirnya direlakan landas di rerumputan
Aku ingin berlama-lama

Tak perlu banyak warna
Emas mewakili segalanya
Kemewahan, kematangan
Kehidupan mengecupku dengan sederhananya

Inginnya tak ada yang menemukan keberadaan padang emas ini
Tapi jelas mereka tahu, kalian juga
Namun hanya kekuningan di mata
Aku melihat dengan mata yang lain

Padang emas, sepanjang tahun adalah kerinduan akan sentuhan lembutmu
Setiap beranjak adalah kekhawatiran tak akan melihatmu
Bertandang, aku mengharapkan pelukan hangatmu
Padang emas, kali ini aku memetik damaimu

Tuesday, 1 July 2014

SongReview: Sia - Chandelier

Sia - Chandelier cover(dari google)
Well, selamat puasa bagi umat muslim yang menjalankan. Ini posting pertama di bulan Juli yang bertepatan dengan bulan Ramadhan juga. Idealnya ya posting mengenai topik-topik yang related to Ramadhan-lah ya. But, sorry...I like to break the ordinary.

Di SongReview kali ini saya punya lagu Chandelier dari Sia, musisi Australia yang dikenal dengan tangan dinginnya menciptakan lagu-lagu hits untuk musisi kenamaan seperti Madonna, Britney Spears, dan Rihanna. Seperti bosan dengan menelurkan karya untuk orang lain, Sia yang memang kelihatan pemalu ini, terlihat dari aksi panggungnya yang seringkali membelakangi penonton, memberanikan diri untuk menyanyikan sendiri lagu ciptaannya.

Sebelumnya Sia juga telah dikenal lewat hits kolaborasinya dengan DJ kondang David Guetta dalam Titanium dan She Wolf. Untuk lagu yang dinyanyikan penyanyi lain, sebut saja Diamonds-nya Rihanna adalah satu bukti yang membuatnya sebagai salah satu musisi pendatang baru yang tak dapat dipandang sebelah mata.

Back to the Chandelier. Lagu ini menceritakan tentang kehidupan kehidupan, luapan emosi dan kebiasaan wanita malam. Liriknya cukup membuat semangat bila dimasukkan dalam playlist musik pagi. Membeberkan langkah seperti apa yang akan dibuat seseorang untuk benar-benar menikmati kebebasan.

Pesan lagu ini cukup tergambarkan dari Music Video nya yang sederhana. Seorang penari wanita berusia 11 tahun yang menari-nari di beberapa ruangan di sebuah rumah. Koreografinya menerjemahkan setiap baris lirik dari lagu yang terkadang kalau didengarkan memang diset untuk penyanyi lain seperti Katy Perry atau pun Rihanna.

Yang saya bisa katakan mengenai lagu ini adalah layak untuk dikoleksi. Influensi musik reggae-nya juga mampu sedikit meninggalkan kesan layak diputar saat liburan di pantai sambil teriak-teriak gak jelas...haha.

Penasaran dengan lagu ini? Berikut music video dari Sia - Chandelier...


Salam,
uy

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...