Sunday, 17 August 2014

#puisi Gembala Kata

Terdampar, hanya sedikit tidak percaya bahwa rawa-rawa ini pijakanku
Tersesat, petuahnya hebat kendati membuat terlena dan kini terpaku
Pada peta duniamu-duniaku, pada pedati tak berkusir, pada pesan tak beralamat
Aku tertipu oleh benteng api yang tak menghalangi apa pun

Rasanya ingin meledak, namun lebih baik menyelusupkannya agar lebih dahsyat
Sekarang! Sabar, saat mulut-mulut itu lupa dengan perkataan yang mereka gembalakam, itu waktu yang tepat.
Selalu lebih manis, kau adalah petani madu.
Kau pelayan terhebat! Sajikan mereka kemurnian.

Aku tak remuk karena kau tak begitu kuat, kau melemah
Dan aku masih berjuang, menelusup, mencapai puncak, merebut kedamaianku
Kedinginan yang bahkan sempat menghianati, aku menjemputnya kembali
Maaf, kehangatan. Aku bersandiwara tepat di bawah hidungmu.

Aku tak terpuruk karena kau berjaya di matamu, kau tersungkur
Kan ku abaikan, merah darah di ujung napasmu
Mengalah untuk menang, mereka gembalaan yang setia
Aku tepat!

5 comments:

  1. nah, ini untuk pengetahuan saya. cara penulisan mas Uyo sangat unik dan ekspresif. mengalah untuk menang, demikian bukan maknanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. persis apa yang dikatakan pak zach sayapun demikian menerka makna kedalaman untaian kata di gembala nya.

      Delete

Blog Uyo Yahya menerima segala macam komentar yang memenuhi kriteria "Bebas tapi Sopan". Mangga, silahkan...

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...