Monday, 11 August 2014

#puisi Masih Mahluk Tuhan

Kerap kali dalam dada seperti digumamkan: Ini elok tanpa batas
Sering, saat berselimut gairah, ketika terlumpuhkan lelah: Goresan kecil tak kan membekas jelas
Bak porselen-porselen cina, manequin-manequin jelita
Bagaimana seandainya bersua, matilah tak bersuara; dalam kepala

Butakan saja mata ini dari macam keindahan yang lain
Ini lebih dari ketujuh warna pelangi
Dan aromanya, kendati bukan melati
Tapi mewakili harmonisme alam bumi

Seakan rela mengenyahkan kemurnian yang kuyakin kan lebih bersemi
Melupakan padang emas siap panen, karena pesona memabukan ini
Aku bertaruh kaulah penjelajah yang menepis beribu lelah
Untukku, pujaan?

Masih mahluk-Nya, kekurangan yang sempurna
Masih untuk-Nya, pemilik sempurna

Redamlah lengkingan jiwa ini, ini hampir membuncah
Pasunglah musafir tak berarah ini, dia kan tersungkur dalam genangan kesedihan
Rajamlah, ciptakan kedamaian pada mahluk Tuhan pemuja yang masih mahluk Tuhan

2 comments:

  1. Indahnya bait bait Puisi ini. Rekaman persitiwa di alam semesta terpancar dari bait bait Puisi yang layak dibaca oleh setiap pengunjung yang hadir di sini Alam akan bersinar terang dengan cinta dan kasih sayang ALLAH SWT buat kita seuanya. Salam hangat dari Pontianak Kalimantan Barat

    ReplyDelete
  2. adem kang puisinya :) kita memang makhluk tuhan yang jauh dri kesempurnaan.

    ReplyDelete

Blog Uyo Yahya menerima segala macam komentar yang memenuhi kriteria "Bebas tapi Sopan". Mangga, silahkan...

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...