Monday, 8 September 2014

#puisi Terjebak di Dalam

dari google














Percayalah, tak ada yang bisa memilih bagaimana kita terlahir dan dari mana
Tapi memiliki kesempatan untuk menentukan arah, itu lebih dari cukup
Percayalah! Dengan sedikit penekanan pada pelipis
Berharap kontak fisik akan sedikit membantu penyerapannya

Bagaimana dengan mereka yang terbiasa menunduk demi ketenangan ramai di atas ketenangannya?
Tiadakah kesempatan, atau memang hukumnya seperti itu, tak ada amandemen?
Lalu, bagaimana dengan khawatiranku tentang mereka yang terjebak dan tenggelam dalam lautan pemikiran yang rumit?
Padahal jatah kebahagiaan berbanding lurus penderitaan

Percayalah, berbagai cara kuno bahkan tercanggih pun tak ada yang mampu
Rasanya memang terpisah dari dunia ini, dan hanya dengan memegang rasa rindu akan pikiran waras yang coba dipertahankan
Meski dengan payah pernah sekali diungkapkan, tapi hanya seringai dan penolakan bodoh
Kasihan, seandainya dunia nyata semudah khayalan
Mereka tetap terjebak dalam malam yang menjadi siang dan siang menjadi malam

Ketakutan akan kepayahan yang berlebih, ketidakwarasan akan bagaimana mengelola pola pikir
Aku khawatir akan mereka yang setia sedari aku menyadari
Mohon, berhentilah!
Kalian hanya terlalu idealis
Pedulilah akan inangmu, dia butuh istirahat dalam tenang

Wednesday, 3 September 2014

#puisi Terbaik dari yang Terburuk

Rugi, tentu saja. Waktu terluangkan untuk hati-hati yang teramat diyakini
Dalam pengharapan indah dan abadi, dalam nyata semuanya ada, tapi kemarin, bukan hari ini
Menyesal, seandainya tahu maka sedari awal kan diangkat jangkar
Pasti hanya karena kain sutra dan kilau emas, silau jadinya

Kini bukan geraian gemulai di pundak, ada desis ular-ular
Apa karena amarah mereka mendesis semangat?
Ah, memalukan sekali untuk mengakuinya
Cinta, sekali lagi aku hilang dalam pusaran pikiran tentang sebab-akibat kekandasan

Untunglah telah dibentengi panglima perang terbaik
Tak ada rasa yang menyelinap kendati pertama menyayat, perih, kadang terdengar rintih
Terkadang juga, mengadopsi formula energi menenangkanku dengan cara yang logis
Aku mencari umpan terbaik, hiu-bukan pari yang tertarik

Yang terbaik adalah melihat dari banyak sisi
Dari bijaksana, kesederhanaan, kerendah hatian, keberkahan
Maka biasanya membakar diri untuk sendiri dan dirimu-dirinya
Dan teguklah darah saringan yang bening kembali

Tuesday, 2 September 2014

#puisi Dunia Di Kepala III

dari google


















Pagi yang biasa, terhentak tersibak cahaya
Letih yang terasa, selalu setengah mati tak pernah cukup
Oh, dengan harus mengandalkan badan dan kepala
Menebar siasat mengusir benih-benih sesal

Dan manusia pertama yang kutemui, selamat, meremukan pagiku
Menggoyah pikiran terbaik, berbalik memburuk dan menjadi yang terburuk
Terimakasih untuk menyadarkan bahwa umatku musuh terhebatku
Sementara itu, kaki yang diseret menemukan kesegaran
Berbalut serat-serat terlusuh

Di kepalaku bukit-bukit hijau yang terhampar
Langit biru tak berawan, kendati ada, menjauh dengan melihat tokoh pertama
Di pijakku adalah basah embun sisa fajar
Dan saat ku menoleh, adalah singa besar menyeringai, aku menghampiri dan memeluk

Masih di kepalaku, ribuan mahluk tercipta dengan sendirinya
Setiap detik, persekian detik dan setiap mata terpejam-terbuka
Apa hanya di kepalaku? Musik terdamai yang pernah tercipta berdendang tak henti-henti,
dari perairan, daratan, dan udara, pun bumi...

Ada sebagian mahluk,
Tidak lebih dari lima persen populasi dunia
Memelihara, mengembangkan, melestarikan dunia di kepala
Penasaran? Kau hanya perlu meluangkan waktu untuk ketidakwarasan

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...