Monday, 13 October 2014

#puisi Seribu Mimik

Aku ingin lebih dekat seakan kami bercumbu
Mengecupnya kendati pahit getir di lidah kelu
Aku ingin menarik semua mata layaknya biduan menyanyi merdu
Mengundang banyak rasa penasaran akan kehadiranku

Selalu berhasil,
Mata ini melirik apa saja yang bisa memantulkan diri
Tak kutemukan kesombongan di relung sanubari
Aku sambar sumber cahaya untuk sedikit menerangi, meyakini
Masih rendah hati, terpeliharalah dan teruslah tinggi

Menggelikan untuk menerima kenyataan berjodoh dengan si penambang dingin
Tapi, menolak atau tidak, kami tetap dalam satu tujuan terpimpin
Sadarkah kau bahwa Aku menyangsikan masa-masa kuda liar yang kau alami, mungkin
Aku bertaruh tak beda dengan halaman-halaman kusam buku tua, terasing di sudut lemari, berdebu karena tak tersentuh angin

Aku ingin mengurung diri, menikmati gelap
Membiarkan bahwa sunyi mematikan keramaian dan itu cara sederhana mendapatkan kedamaian
Aku ingin, dengan bebasnya, mengatur mimik seperti mereka
Tak mengenal lelah karena sebaik-murahnya penarik kebaikan

Wednesday, 1 October 2014

#puisi Untuk Kehilangan

Tak ada yang akan bisa mengerti, kendati telah menyelami dalam
Tak peduli dengan masa yang panjang atau pun sepayah-payahnya perjuangan
Tetap teguh tak goyah karena badai, tak akan mengerti
Terlalu rumit, bukan hanya ini dan itu, lebih, selalu lebih

Kalian beranggapan hanya pada titik temu benturan
Padahal jauh sebelum waktu, aku melihat berikut diriku yang ada di ketidakberaturan
Bukan tak pernah dilantangkan pada langit, pada horizon menawan
Satu kali, namun selalu penolakan yang halus hingga aku mengacuhkan

Hanya seandainya, Tapi Dia menyayangi hamba berdosa ini, aku tahu Tuhanku
Lain kali lebih baik dituliskan agar mereka percaya
Bukan untuk memenuhi nafsu kesempurnaanku, namun rasa lelah akan petunjuk-petunjuk-Mu kadang mengundang ketidakwarasan
Menyimpannya dengan baik adalah kesepatan daku dan Engkau

Aku akan menyusul untuk melihat senyum hangatmu
Berlari meski di penghujung hari dengan sendi-sendi yang melemah
Kau akan terkejut lagi seperti di kelanjutan hari kemarin
Aku akan diam dan menikmati setiap detiknya sebelum mimpi itu berakhir

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...