Monday, 30 March 2015

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individu melakukan presentasi dengant topik yang telah di bagikan kepada masing-masing kelompok di awal pertemuan. Saya, bersama dua sahabat saya, Eka dan Mutia - biasanya berempat dengan Riki yang sedang ambil cuti, satu kelompok dan kami mempresentasikan materi Rhetoric, Poetic, and Poetry.

Kebetulan saya ambil bagian untuk menjelaskan bagian pertama, yaitu Rhetoric. Rhetoric atau Retorika merupakan seni untuk mengubah pikiran manusia. Terhadap objek apa si subjek mesti merubah pikirannya sendiri jenisnya bebas. Rhetoric disebut juga sebagai seni merayu. 

Retorika: Etika, Logika, Emosi
Menurut Aristotle, Rhetoric terdiri dari tiga pilar utamanya: Ethos, Logos, Phatos. Ethos atau etika fokus pada bagaimana etika baik yang terlihat dari bagaimana kita berbicara, menyapa, berekspressi, berpakaian, dan bertingkah laku akan mampu merubah pemikiran orang-orang atau audience terhadap diri kita. Sementara Logos, yang berarti logika, mempunyai konsentrasi pada semakin terperinci dan semakin teratur mengungkapkan suatu hal yang sarat logika, maka rasa kagum adalah hal yang tidak dapat dibendung para audience terhadap Anda. Lain halnya dengan Ethos dan Logos, Phatos, pilar terakhir dari seni merubah pikiran manusia ini lebih kepada koneksi emosi antara anda sebagai pembicara atau pusat perhatian dengan audience anda. Saat anda memiliki pengalaman emosional yang sama dengan lawan bicara anda, percayalah Anda bahkan telah menyentuh tepat di sebuah titik yang memberikan keleluasaan untuk merubah jalan pemikiran seseorang. Penggabungan dari tiga aspek Retorika: Etika, Logika dan Emosi merupakan wild card ticket untuk bisa merubah jalan pemikiran individu lain. Sentuhlah dia tepat di hatinya, Dia kan jadi milikmu selamanya...hahaha

Apa hubungan Retorika dan Sastra?
Sastra yang pada dasarnya merupakan segala hal yang berkaitan dengan karya tulis membutuhkan suatu keahlian persuasif sebagai penentu nilai dari karya sastra itu sendiri. Sebuah karya sastra selalu dinilai dari perubahan apa yang terjadi pada masyarakat umum setelah karya tersebut diterbitkan dan dinikmati. Gaya retorika akan bisa membuat pemikiran seseorang berubah dengan cepat melalui ribuat kalimat yang terkandung dalam sebuah novel. Saya percaya bahwa kalimat "Dedaunan pun melambai seakan mengucapkan salam perpisahan terakhir kepadaku." mampu menciptakan suasana perpisahan yang detail imajinasinya boleh saja terserah Anda, tapi sebagai pembaca Anda akan dituntun untuk mengikuti gambaran seperti apa yang ingin disampaikan oleh si penulis.

Retorika, sebuah seni untuk memperlamban, mengajak untuk melihat dari sudut pandang lain atau bahkan merubah pemikiran manusia lain, merupakan hal penting dalam dunia sastra. Semua karya digubah untuk bisa menyampaikan pesan yang ingin disampaikan penulis. Retorika itu sendiri fungsionalitas nya universal. Bisa diimplementasikan di semua aspek kehidupan: marketing, dakwah, kampanye parpol, dsb.

Bagaimana hubungan Retorika dengan Puitis? Akan saya bahas di postingan berikutnya.

Salam,

-uy-

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...