Wednesday, 29 April 2015

Menemukan "Aliran"

Menemukan Aliran - Aliran? Apa nih? Aliran sesat? Saya kira itulah yang muncul di benak para blogger saat membaca judul postingan ini. Be calm, bukan kok bukan aliran sesat yang tidak jelas. Aliran di sini dimaksudkan untuk sensasi yang berjalan pada diri kita saat kita melakukan suatu kegiatan. Aliran adalah apa yang membuat kita menempatkan tujuan bukan pada hasil, namun pada prosesnya sendiri.

Aliran tidak mengenal waktu. dari heraldsun.com.au

Pendekatan aliran saya temukan di buku psikologi yang cukup fenomenal karya Susan Cain - The Quiet. Buku yang belum tamat saya baca ini merupakan kumpulan penelitian, observasi dan kontemplasi penulisnya sendiri bagi para Introvert - jenis orang yang secara psikologi mendapatkan energi dari dalam dirinya sendiri. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di Gue Amfibi (Ambivert).

Aliran dapat kita temukan bila memang apa yang kita lakukan adalah hal yang kita suka. Contohnya seorang engineer sangat menyukai kegiatan mengutak-atik mesin di gudang rumahnya. Dia lupa akan waktu dan tidak memperdulikan gangguan di sekelilingnya. Ini disebabkan karena aliran sedang menjalarinya. Tentu tidak terlihat karena memang seperti yang saya tuliskan di atas, ini adalah sensasi.

Bagaimana hubungan "Aliran" dengan Passion?

Kalau untuk istilah passion saya yakin ini lebih familiar di telinga kita dari pada aliran. Dalam pemahaman saya, saya menempatkan passion adalah wadah dari aliran-aliran. Passion mewakili aliran-aliran sejenis sebagai pemersatu yang merekatkan dan akan lebih sempurna bila dilengkapi dengan bakat.

Passion, wadah bagi aliran-aliran. created by Uyo Yahya
Mengingat aliran adalah pengejaran terhadap "rasa" dari kegiatan itu sendiri, maka saya menyimpulkan aliran adalah bagian praktik dari passion. OK, bisa saja seseorang mempunyai passion sebagai pekerja sosial, namun dia jarang melakukan kegiatan sosial, maka dia hanya memiliki passion itu sendiri tanpa merasakan alirannya.

Saya mengenal seorang mantan tour guide yang mempunyai pekerjaan sebagai engineer di salah satu company service coorporate di Jakarta. Dia mempunyai passion untuk selalu touch - bersentuhan dengan alam. Kegiatan mendaki gunung - mengunjungi suku-suku pedalaman yang masih ada: Baduy, Dayak; sangat menariknya. Terbukti dia masih melakukan hal-hal tersebut hingga sekarang kendati dia bekerja sebagai seorang engineer.

Saya berasumsi bahwa OK dia bahkan pernah bertahun-tahun menjadi seorang tour guide, membantu turis-turis untuk bisa menikmati Indonesia, tidak hanya tempat wisata terkenalnya namun juga suku-suku pedalaman Ia perkenalkan, pekerjaan ini benar-benar memberikannya kesempatan untuk selalu bersinggungan - bersentuhan dengan alam, banyak sekali aliran yang dia dapatkan dari sini, lalu apa yang membuatnya berbelok arah menjadi seorang engineer? Apa dia mulai tidak menyukai apa yang dia lakukan sebagai tour guide?

Site engineer. dari shutterstock.com

Ternyata tidak sama sekali. Pekerjaan sebagai engineer di kantor pusat ini memberikannya kesempatan, bahkan sering, untuk selalu melakukan kunjungan ke cabang lainnya di Indonesia, bahkan mancanegara. Saya melihat bahwa beliau tahu akan adanya kemungkinan besar bahwa dia akan lebih banyak mengunjungi tempat-tempat baru bila ia bekerja di perusahaan berskala International ini. Ini adalah bukti bahwa beliau masih melakukan pengejaran terhadap aliran - sensasi yang telah lama dirasakannya, bahwa Ia bahagia dengan apa yang dilakukannya.

Passion akan membawa kita untuk merasakan aliran yang tidak dapat dibendung. Aliran ini akan meleburkan waktu dan menjadi dinding tebal untuk menghalangi banyak gangguan. Seseorang akan berjam-jam bergulat dengan kegiatan menulisnya, mengutak-atik mesin, blogging, berbisnis, apa pun itu saat dia dibanjiri aliran yang tepat.

Selamat menemukan Aliran!

Salam,

-uy-

Friday, 17 April 2015

Media Melamban? Tanya Kenapa

Media. dari wealthdaily.com
Saya semakin dewasa dengan semakin rajinnya memperhatikan apa yang terjadi di sekitar saya. #cie. OK, katakanlah seperti itu. Sebagai masyarakat penyandang usia produktif, maka saya berharap bahwa akses, kebenaran, dan kecepatan dari sebuah informasi tidaklah lagi menjadi sebuah masalah. Alangkah indahnya bila memang seperti itu. Tapi...

Media melamban. Kenapa? 
Saya mulai menyadari hal ini ketika pagi hari saya nonton acara berita pagi di salah satu TV swasta. Di segmen terakhir beritanya membahas salah satu film Hollywood yang akan tayang di bulan ini, katanya. Melihat trailernya membuat saya berdecak kagum, must-watched nih, sebelum salah satu teman kantor nyeletuk:

"Ah gue udah nonton?"
"Really?" Saya memastikan. "Dimana?"
"21 lah. Orang rilis bulan lalu kok."
"What the..."

Saya langsung melihat logo channel tv yang ada di pojok kanan atas. Oh, pantaslah channel yang satu ini kan sudah kehilangan kepercayaan di mata masyarakat. Segalanya dimulai sejak negara api menyerang.

See? Untuk berita yang ringan seperti update movie terbaru aja mereka telat. Apa sih yang dilakukan media ini? Udah telat, salah pula tanggal perilisannya. Ngapain sih mereka? Mereka melayani siapa sih? Bukannya pers itu milik semua orang? PR berat memang bagi pihak pers untuk mengembalikan kepercayaan khalayak.

Yeah, di atas itu merupakan contoh untuk kecepatan media dalam menyampaikan berita yang memang melamban. Terlihat seperti kehilangan jati dirinya sendiri. Seperti digerakan oleh pihak-pihak tertentu.

Hanya itu saja? Masih ada lagi.
Kesal dengan channel tv tersebut saya buka salah satu aplikasi warta berita di smartphone saya. Headline "Elektabilitas Presiden Joko Widodo Jauh Meninggalkan Prabowo." berhasil menangkap mata saya yang langsung connected ke "Ini tahun berapa sih? 2015 kan? Lihat beritanya ini tanggal berapa. Bener kok tanggal sekarang. Berita ini maksudnya apa ya. OMG. Please move on, masyarakat udah gak percaya survey-surveyan lagi. Sama dengan jargon bapak presiden kita butuh 'kerja, kerja dan kerja' untuk saat ini. Pemilu udah lewat kali."

Saya coba cek ke teman saya: "Eh situs 'anu' masih satu group sama channel tv 'anu' ya?"

"Yep, bener."
"Siapa pemiliknya? Bapak ntu ya? Dia di kubu ini ya?"
"Exactly, bro."

SAMPAH!

Application Uninstalled.

Akses, kecepatan serta keautentikan dari sebuah berita nampaknya mulai memudar. Untuk mengupdate pengetahuan tentang isu-isu sosial saat ini kita dituntun untuk lebih teliti. Melihat asal berita dan pihak pers mana yang membuat berita perlu dijadikan pertanyaan kritis saat membaca, mendengar dan menyimak berita di era ini.

Salam,

-uy-

Thursday, 2 April 2015

Plagiarism/Plagiat Menurut Saya

Plagiarism/Plagiat merupakan tindakan menyerupai, mengakui sebagian atau keseluruhan ide, pendapat atau pun karya seseorang sebagai karya sendiri. Plagiarism sangat merugikan pihak penemu original dari sebuah karya. Apalagi kalau misalkan karya yang dijiplak tersebut malah lebih laku secara komersial oleh si plagiator.

Plagiarism designhack.net
Sebuah karya tercetus dari spontanitas kerja yang kemudian diabadikan dalam bentuk tulisan berupa buku, lirik, melodi, atau apa pun itu, di bidang apa pun itu. Pengalaman yang mumpuni akan sebuah bidang mutlak diperlukan untuk membuat sebuah karya yang murni. Jalan pendidikan mungkin telah ditempuh para pelaku seni untuk menelurkan sebuah karya yang baik. Atau mungkin pula jam terbang yang telah sangat tinggi dari si artist lah yang membuatnya lihai dalam mengolah nada.


Bagaimana Plagiarism Terjadi?

Mari sedikit menelaah apa yang terjadi pada si plagiator dalam menghasilkan karyanya. Sederhana, dia awalnya hanya sebagai penikmat karya orang lain, mengapresiasinya dengan sangat baik, lalu bergejolak untuk membuat hal yang niatnya mungkin ingin berbeda, tapi fakta berbicaralain. Periode waktu setelah anda membaca sebuah karya adalah waktu dimana anda masih hidup di dunia yang ada dalam karya tersebut. Anda masih dalam pengaruh euphoria yang akan membahayakan diri anda. Saking melekatnya efek dari sebuah karya bahkan ada frase yang menyebutkan "Anda adalah tokoh utama dari cerita yang terakhir Anda baca." Pelepasan euphoria ini memang memerlukan waktu yang tidak sebentar. Membaca karya lain besar kemungkinan akan menghapus euphoria ini yang mana dunia anda berganti dengan dunia lain dari karya yang sedang anda baca.

Anda adalah tokoh utama dari cerita terakhir yang Anda baca.
authordinaarco.wordpress.com
Maka dari itu apa yang anda lihat, anda sentuh dan anda rasakan akan mengadaptasi dari apa yang dilihat, disentuh dan dirasakan oleh si pemeran utama dalam karya yang telah anda baca. Anda menggunakan perspektif dari tokoh khayalan itu. Anda akan menulis dengan gaya bahasa dan rasa yang sama, menilai orang dari aspek yang sama, dan merasa Anda adalah tokoh dalam cerita tersebut. Lalu bagaimana jika di cerita si tokoh utamanya melakukan bunuh diri? Cukup berbahaya bukan.

Kita ambil satu contoh yaitu "menulis dengan gaya bahasa yang sama". Disinilah letak Anda telah teracuni oleh pemikiran orang lain. Ketidaksadaran ini akan melahirkan karya yang tujuh puluh hingga sembilan puluh persen sama, persis. Plagiarism.

Proses plagiarism di atas merupakan plagiarism yang tanpa disadari. Untuk plagiarism yang disengaja, well sepertinya itu ada tindak kesengajaan tersendiri dari pelaku. Idealnya pekerja seni selalu muncul dengan ide murni mereka. Mereka yang sengaja melakukan penjiplakan perlu dipertanyakan tingkat apresiasi dan kesensitifan mereka sebagai penggiat seni. 

Plagiarism Saat Ini
Ada banyak tindakan plagiarism yang terjadi di era globalisasi ini. Dua contoh berikut adalah tindakan penjiplakan yang terjadi di dunia musik tanah air dan juga mancanegara.
1. Lagu "Pusing Pala Barbie" menjiplak "All About That Bass"
Pusing Pala Barbie merupakan lagu yang dibawakan oleh grup vokal dangdut Putri Bahar. Lagu yang sedang populer di Indonesia ini memiliki kesamaan yang mencapai sembilan puluh sembilan persen dengan lagu dari seorang pencipta lagu, produser sekaligus penyanyi Meghan Trainor bertitle All About That Bass. Yang paling disayangkan adalah bahwa para member Putri Bahar ini mengaku tidak tahu-menahu bahwa ada lagu "All About That Bass" yang sedang sangat laku-lakunya di akhir 2014 kemarin.

2. Lagu "Awak Kat Mana" vs "Diva"
Lagu Awak Kat Mana merupakan lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi berkebangsaan Malaysia yang dirilis pada tahun 2014. Intro lagu ini memliki kemiripan dengan lagu Beyonce yang lebih populer terlebih dahulu di tahun 2009. Lagu Awak Kat Mana yang dibawakan oleh Taufik Batisah ini mendapatkan banyak pernghargaan di ajang award Anugerah Planet Muzik, sebuah ajang penghargaan musik nusantara, didalamnya Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Plagiarisme merupakan tindakan yang melanggar etika. Suatu pelangaran yang mencuri ide orang lain untuk dijadikan karya sendiri. Hal ini merugikan banyak pihak selain korban plagiat juga si pelaku plagiarism nya sendiri, plagiator. Berkaryalah di bidang yang anda senangi dan pakailah "rasa" saat anda menciptakan sesuatu yang baru. Pertahankan originalitas karena disitulah identitas kita yang sebenarnya.

Salam,

-uy-


Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...