Friday, 17 April 2015

Media Melamban? Tanya Kenapa

Media. dari wealthdaily.com
Saya semakin dewasa dengan semakin rajinnya memperhatikan apa yang terjadi di sekitar saya. #cie. OK, katakanlah seperti itu. Sebagai masyarakat penyandang usia produktif, maka saya berharap bahwa akses, kebenaran, dan kecepatan dari sebuah informasi tidaklah lagi menjadi sebuah masalah. Alangkah indahnya bila memang seperti itu. Tapi...

Media melamban. Kenapa? 
Saya mulai menyadari hal ini ketika pagi hari saya nonton acara berita pagi di salah satu TV swasta. Di segmen terakhir beritanya membahas salah satu film Hollywood yang akan tayang di bulan ini, katanya. Melihat trailernya membuat saya berdecak kagum, must-watched nih, sebelum salah satu teman kantor nyeletuk:

"Ah gue udah nonton?"
"Really?" Saya memastikan. "Dimana?"
"21 lah. Orang rilis bulan lalu kok."
"What the..."

Saya langsung melihat logo channel tv yang ada di pojok kanan atas. Oh, pantaslah channel yang satu ini kan sudah kehilangan kepercayaan di mata masyarakat. Segalanya dimulai sejak negara api menyerang.

See? Untuk berita yang ringan seperti update movie terbaru aja mereka telat. Apa sih yang dilakukan media ini? Udah telat, salah pula tanggal perilisannya. Ngapain sih mereka? Mereka melayani siapa sih? Bukannya pers itu milik semua orang? PR berat memang bagi pihak pers untuk mengembalikan kepercayaan khalayak.

Yeah, di atas itu merupakan contoh untuk kecepatan media dalam menyampaikan berita yang memang melamban. Terlihat seperti kehilangan jati dirinya sendiri. Seperti digerakan oleh pihak-pihak tertentu.

Hanya itu saja? Masih ada lagi.
Kesal dengan channel tv tersebut saya buka salah satu aplikasi warta berita di smartphone saya. Headline "Elektabilitas Presiden Joko Widodo Jauh Meninggalkan Prabowo." berhasil menangkap mata saya yang langsung connected ke "Ini tahun berapa sih? 2015 kan? Lihat beritanya ini tanggal berapa. Bener kok tanggal sekarang. Berita ini maksudnya apa ya. OMG. Please move on, masyarakat udah gak percaya survey-surveyan lagi. Sama dengan jargon bapak presiden kita butuh 'kerja, kerja dan kerja' untuk saat ini. Pemilu udah lewat kali."

Saya coba cek ke teman saya: "Eh situs 'anu' masih satu group sama channel tv 'anu' ya?"

"Yep, bener."
"Siapa pemiliknya? Bapak ntu ya? Dia di kubu ini ya?"
"Exactly, bro."

SAMPAH!

Application Uninstalled.

Akses, kecepatan serta keautentikan dari sebuah berita nampaknya mulai memudar. Untuk mengupdate pengetahuan tentang isu-isu sosial saat ini kita dituntun untuk lebih teliti. Melihat asal berita dan pihak pers mana yang membuat berita perlu dijadikan pertanyaan kritis saat membaca, mendengar dan menyimak berita di era ini.

Salam,

-uy-

44 comments:

  1. frase dimulai sejak negara api menyerang. ini saya belum paham negara mana.. hehe tulalit ya saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba tanya ke Agree, Mas. Mungkin dia tahu.

      Delete
    2. hahaha, iya nanti saya tanyain kalo inget

      Delete
    3. Kalau nda inget berarti nanti saya yang ingetin
      Lalu yang inget sama saya siapa donk

      Delete
    4. Etdah...pengen banget diingetin, Kang Asep...

      Delete
  2. sekarang harus jelas kita nonton apa di kubu mana ya Mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mesti jeli. Repot jadinya.

      Delete
    2. tapi kan kita punya jajan klepon buat kompensasi dong

      Delete
    3. Terserah mas zach lah apa pun....

      Delete
    4. Saya kubu mana yah. emmmm. asl jgn ahiranya ran aja

      Delete
    5. Kubuat kau mati, amng adul... bukan ran kan akhirannya..

      Delete
  3. haduh itu parah banget ya,penyampaian beritanya telat banget,kalau sudah telat banget nmending gak usah di update ya tuh berita kasian masyrakat yang gak tau jadi tertipu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba defa...masyarakat yang hanya menggunakan tv sebagai sumber informasi nya pasti kecewa.

      Delete
  4. liat media sekarang sangat subjektif, mending nonton wayang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jelas ya bang wayang mah mengajarkan nilai kehidupan.

      Delete
  5. Mendingan nonton unyil jalan-jalan ke pabrik ini-itu.
    Akakakakakk...
    Kalo nggak nonton Animal planet ajah,
    kira-kira hampir tingkah hewan-hewan itu mirip kok seperti yang di gedung beratap ijo itu..
    Eh.. lho kok?? O_o

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, mba Ain ya...

      Iya malah mending nonton yang kayak unyil gtu...lebih memberi pengetahuan.

      Delete
    2. saya suka. kemarin habis nonton yang buat sepada motor itu. yang di ingris. weh mantep

      Delete
    3. Seru yak :D hehehhe
      Waktu itu nonton yang ke pabrik coklat.
      bikin ngiler -_- hahahhah

      Delete
    4. Oh, chocolate..Favourite.

      Delete
  6. semoga semua kembali netral, jadi kita sebagai penonton enak juga ngelihatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. enakan makan kepiting rebus ih

      Delete
    2. hm....kepiting...maulah wey

      Delete
    3. kalo sayamh enakny ayam goreng kang

      Delete
    4. ayam kepiting goreng rebus
      mau?

      Delete
  7. Kalo sayah karena anak sih mas. nak seringnya nonton boboiboy jadi ya ikut aja deh daripada ngamuk. :D

    ReplyDelete
  8. indeed

    money politic dalam media itu kejam
    lebih kejam dari negar api

    pernah ikut seminar kepenulisan pers yg mendatangkan jurnalis terkenal
    dia sendiri bilang, "Media zaman sekarang itu orientasi nya bukan lagi menyebrkan informasi, tapi uang. rating belakangan. makanya terkadang informasi yg sebenarnya penting dan harus segera disebarkan nggak mereka sebarkan lantaran ada topik lain yang harus mereka sebarkan duluan demi uang"

    see?
    we live in the place like that

    ReplyDelete
    Replies
    1. God, how cruel money politic is.

      Mungkin itu alasan kenapa saya selalu pesimis bila melihat berita-berita sekarang ini. Fakta yang diberikan Aul aja itu udah cukup membuat saya memandang rendah pada pers. This is idiotic.

      Delete
  9. Banyak orang dengan begitu mudahnya termakan suatu berita yang masih diragukan keakuratannya, padahal berita-berita yang berseliweran disana masih perlu disaring.. Sungguh kenyataan dunia yang ironis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ironically, kita masih betah aja hidup. hahaha...

      Sebenarnya selain karena politik apa persaingan lembaga/instansi pers juga menjadi penyebabnya?
      Jadi hayang riset. etdah....

      Delete
    2. kita betah hidup dalam dunia persaingan
      kita hebat dong ya

      Delete
  10. intinya semua itu bisnis. dan mana yang laku jual. memojokalan lawan itu yang lebih utama. biaya sedikit tapi pendapatan iklan gede.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pokonya bisnis aja ya. duit

      Delete
    2. duit itu yang bisa buat beli-beli

      Delete
  11. mereka memang gak bisa idealis mas,hingga akhirnya gak peduli sama realistis, lalu jadi apatis hahahaha

    ReplyDelete
  12. media sekarang di gerakkan oleh yang punya kepentingan sepertinya, kadang kalau berpikir hampir semua media ya cerita2nya itu2 aja

    ReplyDelete
  13. banyak banget sekarang berita yang hoak, kalo kata bahasa gaulnya mah, alias gosip aja, harunya berita di media itu lebih aktual dan terpercaya, jangan membuat masyarakat menjadi bingung

    ReplyDelete
  14. Media zaman sekarang kebanyakan ngejer trafik en sensasi.. Uda ngga jauh beda sama acara gosip :(

    ReplyDelete

Blog Uyo Yahya menerima segala macam komentar yang memenuhi kriteria "Bebas tapi Sopan". Mangga, silahkan...

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...