Showing posts with label Cerbung. Show all posts
Showing posts with label Cerbung. Show all posts

Thursday, 8 May 2014

Orange Juice (lanjutan 1...)

dari google
"Aku hanya menganggap diriku lebih beruntung dari si Jake Kerempeng."

Suara yang tidak familiar di telingaku. Reflek wajahku menoleh ke sumber suara, di sebelah kiri. Dia berdiri sementara aku terduduk yang membuatku harus menengadah ke atas menatapnya. Wajah yang tidak terlalu asing, tapi jelas perkataannya barusan merupakan sejenis pembuka ceramah yang membosankan.

"Sudah tidak mempan lagi," tegasku mencoba menguasai diri. "Semua kritik dari wajah-wajah kecewa di casting mencibir dengan kalimat pembuka seperti yang baru saja terlontar dari mulutmu, Derek."

Derek Eleven, salah satu kandidat yang dulu akan memerankan Jaime. Dia gagal mendapatkan peran utama itu karena, tentu saja, aku yang memutuskan. Alasan utamanya adalah sifat sombong tidak bisa diterima oleh hampir semua yang terlibat di project film perdanaku. Kesempurnaan mulai dari hal-hal terkecil menjadi poin penting untuk mendapatkan kualitas bagus. Apalagi untuk aspek pemeran utama, tentu aku tidak akan mengacaukannya.

"Well, jadi apa selanjutnya?"
Tanyanya menunjukan kepedulian yang dibuat-buat. Dia duduk di depanku tanpa dipersilahkan. Wajahnya yang memandang kasihan ke arahku sungguh menghina. Aku membuang muka.

"Kau bukan siapa-siapa di sini. Jake tetap akan bermain di sequel kedua. Sebaiknya kau menurunkan dirimu dari menara kesombonganmu. Itu tidak akan pernah baik untuk bisnis di dunia hiburan."

Aku beringsut membereskan barang-barangku. Sayang sekali lima belas menit terbuang begitu saja, apalagi kopi yang ku pesan baru kuhisap dua kali, dan masih penuh. Tapi untuk kebaikan aku harus meninggalkan orang sejenis Derek secepat mungkin.

"Permisi."

Cepat-cepat menyebrangi ruangan kedai menuju pintu keluar sebelum Derek menyaut.

"Kau meninggalkan sebuah catatan kecil, Nona. Hey, coba kulihat."

***

Ini merupakan lanjutan dari postingan cerpen Orange Juice yang saya posting bulan Mei 2013. Setahun menimbun ide ini, akhirnya ada kesempatan untuk dikeluarkan. 

Salam,
-uy-

Saturday, 12 October 2013

Mr. Renzo R, The Taxi Driver

Perhatian! Baca Artikel Ini Hingga Tuntas. Yang Asal Baca, Kalau Saya Jadi Anda Saya Bahkan Tidak Tahu Harus Komentar Apa.

gambar dari google
Siapa Mr. Renzo R? As you can see lah on the title above, He's only a taxi driver. But, there's something special about him. I knew it.

Jadi begini cceritanya. Hari ini Jum'at, 11 Oktober 2013 seperti yang telah terschedule saya ada pekerjaan di Gedung pusat salah satu bank BUMN tersebesar di Indonesia, di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat.
Tadi pagi saya berangkat dengan mood yang sedang tidak bagus. Alhasil perkerjaan yang dipaksa diselesaikan pukul 19.00 pun hasilnya tidak memuaskan dan malah menambah suasana yang tidak enak di dalam diri saya. Penyebab kontroversi hati ini adalah bahwa saya masih harus ke gedung ini besok hari Sabtu, dimana hari Sabtu saya harus ngampus. Dilema prioritas jadinya. Namun saya putuskan untuk masuk kuliah dengan nanti pagi telpon dulu ke bos saya.

Seharusnya keluar dari Gedung tersebut saya langsung stop taxi di depan, tapi tiba-tiba saya berkeinginan untuk berkunjung dulu ke kosan kakak saya, Tati, yang ada di Grogol. Kebetulah di sana juga ada teman sekaligus pacar kakak saya yang satu lagi, Yayang. berkunjunglah saya dengan niatan mau curhat tentang kontroversi prioritas ini.

Tidak lama saya di Grogol, hanya sampai pukul 9.30. Saya berjalan dari gang kosan Kakak saya, berhenti di ujung gang dan melihat ada Taxi Blue Bird yang kelihatannya kosong sedang melaju dengan pelan dari lawan arah dan akan belok ke arah kemana saya akan pulang. Dia tampaknya terjebak di pertigaan, saya sedikit tidak sabar lalu langsung saja berjalan dengan "Naik dari depan aja deh, lama yang ini." dalam hati.

Tapi, ternyata Taxi yang tadi sudah sekitar 5 meter di belakang saya yang sedang berjalan lalu berhenti dan melambaikan tangan memberi isyarat stop. Saya masuk, meminta untuk set AC ke temperature paling kecil, sementara lagu dari radionya saya nikmati.

"Pak, bisa tolong diset ke temperatur yang paling kecil AC-nya?"

"Baik, Pak," jawabnya sopan.

Taxi keluar dari kawasan Tawakal dan melaju ke Gandaria City melalui Senayan, tujuan dan jalur yang telah saya sebutkan pada si Taxi Driver.

Pikiran saya masih mumet dengan keadaan dalam diri saya, masih hal yang tadi. Saya mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat kemacetan. Nampaknya saya diperhatikan oleh Pak Supir. Terbukti dari topik pembicaraan yang Ia lontarkan untuk sekedar break the ice. Topik apalagi kalau bukan macet? Jakarta.

Yeah, pembicaraan barusan mengenai jam pulang kerja dan kemacetan cukup membuat kami agak dekat. 
Saya suka bagaimana Dia bicara, supel, lugas dan berisi.

Lalu saya lihat Dia tampak sibuk mencari saluran radio yang memutar musik yang pas dengan penghujung hari seperti ini. Lalu berhenti di channel dimana terdengar seorang penyiar sedang sedang sibuk mewawancarai bintang tamu talkshow-nya. Entahlah topik apa yang sedang mereka bahas karena Pak Sopir keburu mengungkapkan rasa kagumnya terhadap suara sang penyiar.

"Ini, de, yang sedang siaran ini namanya Bu Siska," Jelasnya dengan tangan menunjuk radio di dashboard depan. Sementara saya mendengarkan dengan jeli suara Bu Siska dan sedikit 'Hore! Dipanggil Ade! Tadi kan manggilnya Pak.'"Orangnya cakap, dan suaranya bagus. Dia tinggalnya di Kalibata. Pulang kerjanya sekitar jam satu malam."

 "Wiss... Tahu semuanya Bapak ini tentang beliau. Pengagum ya, Pak? Ngomong-ngomong Radio apa ini, Pak?"

"Ini Radio Sonora, de. Pendirinya adalah pendiri kompas gramedia. Saya pernah mengantar beliau pulang beberapa kali kesempatan, dan satu kesempatan di Thamrin beliau menumpang Taxi saya dan menyiarkan keadaan jalan Thamrin di jam-jam macet melalui telpon genggamnya. Beliau sangat mencintai pekerjaanya"
Setiap kalimat yang diucapkannya memang terkesan biasa. Tapi kalian harus lihat cara Dia berbicara dengan duduk di kursi kemudi dan tangan yang sibuk menyetir dan memetakan setiap opininya. Seharusnya terselip rasa takut mengingat, Hello, Dia sedang menyetir. Tapi the way he talk is so awesome and inspire me.

"Hmm... Saya syirik lho Pak dengan orang yang mencintai pekerjaanya."

"Kalau Bapak boleh tahu apa alasannya, De?"

"Tak tahulah, Pak. Pokoknya saya Insyaalloh capable dengan perkejaan ini. Tapi saya tidak 'mencintai'."

"Memang harus seperti itu, De. Kita kan hidup ingin bahagia dan faktor yang fundamental ya pekerjaan untuk survive kehidupan kita itu mesti sesuatu yang kita cintai. Jadi dalam menjalaninya pun kita enjoy, tidak ada beban. Tidak ada penolakan terhadap apa yang ada di tangan kita."

Saya mengangguk-angguk di kursi belakang, memperhatikan dan menyerap setiap perkataanya.

"Ada tiga hal sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan semua orang, termasuk kamu De, supaya bisa lebih bahagia dengan kehidupan ini."

"Apa saja itu, Pak?" Tanya saya, tak ingin hanya Dia yang menguasai pembicaraan, meskipun itu sudah terjadi jauh sebelum saya tersadar saat ini.

"Pertama, kita harus mensyukuri apa yang kita punya dulu, apa yang ada di hadapan kita. Dengan bersyukur dengan landasan menerima apa yang Tuhan berikan maka kita akan melaju pada point yang kedua yaitu Mulailah mencintai. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi di depan bahwa dengan mampu mencintai pekerjaan kita akan bisa lebih bahagia dalam hidup ini. Dan yang ketiga adalah option yang bilamana kamu bisa melakukan point yang pertama, yaitu bersyukur, tapi mentok tidak bisa melanjutkan ke tahap percintaan."

"Aisshhh... Percintaan, Pak?" Sontak saya terkejut dan menggelegak dengan istilah yang dipakainya. Dia mengangguk mengisyaratkan bahwa saya tidak salah dengar. "Ok, Baik Pak. "

"Yang ketiga ya, De. Usahakan jangan dibenci. Apa pun pekerjaan kamu, apa pun jabatan kamu, apa pun itu usahakan jangan pernah kamu benci. Karena bila demikian kamu bahkan sama dengan menolak apa yang Tuhan berikan. Bahkan untuk hasil yang bagus yang kamu hasilkan pun tak akan ada nilainya bila kamu benci dan pada akhirnya menjauhkan kebaikan-kebaikan yang sepatutnya kamu dapatkan andai saja kamu jauh-jauh dari kata 'Membenci'."

Untuk kesekian kalinya saya tertegun, menerawang dan menyerap isi kalimatnya. Dan tidak ketinggalan kagum cara bicara, tangan yang sibuk dengan setir dan isyarat pembicaraan, dan tetap tenang dalam kemacetan.

"Kayanya saya mentok deh, Pak. Gak bisa sampai ke tahap percintaan."

"Berarti jangan dibenci!" Tegasnya.

"Gak benci, Pak. Tapi, alhamdulillah saya masih bisa berpikir dan memutuskan untuk mengambil bidang yang saya suka plus cinta, Pak. Saya IT, tapi kuliah Sastra. Salahkah, Pak?"

"Itu keputusan yang bagus, setidaknya kamu sedang mengarah ke jalan yang kamu inginkan. Intinya jadilah diri kita sendiri!"

Sumpah! Selama dua puluh satu tahun hidup saya baru pertama kali berjumpa dengan orang tua yang mau berbicara tentang kehidupan kepada kaum yang lebih muda. Saya memuji keterbukaanya untuk berbagi dengan saya, saya yang baru naik taksinya beberapa menit lalu, saya yang tadi bad mood namun kini seperti menemukan sumber semangat.

"Kamu masih muda De, meskipun masih muda mesti ingat, bolehlah semangatmu membara, tubuhmu masih kuat, tapi jangan terlalu mati-matian kamu eksploitasi tenagamu hanya untuk mengejar harta. Apalah arti semua yang kamu dapatkan itu kalau nantinya hanya akan dipakai untuk mengobati penyakit akibat kerjamu yang mati-matian itu."

"Exactly, Pak! Saya pernah membaca artikel yang persis kata-katanya seperti yang Bapak sebutkan barusan. Saya iseng copy-paste kalimat tersebut untuk dijadikan status facebook, eh dikomentari sama teman-teman saya yang kerjanya bisa disebut mati-matian, Pak. Mereka gak setuju, Pak. Katanya biasa aja dan enak-enak aja."

"Sekarang? Lah, nanti?" Celetuknya memancing saya tertawa paham.

"Wah, Iya ya Pak." Paham.

"Ngomong-ngomong Bapak membuat kalimat barusan dari pemikiran Bapak sendiri, lho. Jadi kalau kamu membaca artikel yang sama persis kata-katanya seperti itu. Saya yakin si pembuat artikel itu cerdas."

Perhatian pemirsa, posisi masih sama seperti tadi. Beliau ada di kursi kemudi dan saya di kursi penumpang belakang.


To be continued...

Tuesday, 3 September 2013

Draft Lagi #4

Alhamdulillah di tengah padatnya schedule bulan ini. Cerbung tak berjudul dari postingan sebelumnya, Draft Lagi #3, sudah rampung. Selamat membaca.

"Maafkan aku, Lui." Ekspresinya dari hati. Tentu saja, dia temanku.
"Tak apa," ucapku, berusaha mengatur laju napas. "Orang-orang yang ditinggalkan normalnya berduka. Lutessa dan aku mampu lebih dari normal. Intinya kami tidak ingin berlama-lama."


Kesedihan memang bukan identitas yang biasa u keluargaku. Meskipun kami menyadari bahwa masing-masing menyibukan diri hanyalah cara untuk menepis duka dan menukas sepi tapi toh selama ini itulah jalan kesuksesan melewati banyak peristiwa di keluarga Vaughn. Tetap tenang, luapkan pemikiran yang ada, pilah dan kembalilah normal.

Aku pribadi cukup mewarisi watak itu dari Billy meskipun Paman Ian dan Bibi Lutessa sepakat bahwa darah keluarga Evans, keluarga Ibuku, lebih banyak di tubuhku. Warna rambut coklat tua dengan semburat merah dan bergelombang kuwarisi dari Sally, Ibuku, wajah oval dan kaki lenjang juga darinya, sementara Billy hanya mewariskan mata birunya padaku. Namun dari semuanya aku berani bertaruh bahwa komposisi Billy dan Sally seimbang, aku cerminan dari keduanya.

Jendela bis sudah terbebas dari embun yang tadi menyelimutinya. Pemandangan kesibukan mulai terlihat dimana-mana saat bis kami melintasi halaman sekolah. Itu dia, sinar matahari yang mengintip dari balik dedaunan pohon maple, favoritku. Daun merahnya dibiaskan dengan lembut oleh matahari dan hasilnya adalah orange dan merah muda sebagai warna tambahan.

Bis sudah lenggang, Rose dan aku terbiasa keluar setelah yang lain. Ini membebaskan kami dari paparazzi ulung kelas kami seperti Elizabeth Lerman dan Goergiana Malik. Semester lalu Aku dan Rose pernah muncul di halaman situs mereka. Waktu itu postingannya adalah foto dimana kami berdua sedang berselisih dan tanganku hampir menampar wajah Rose, pada kenyataanya seperti itu  tapi software editing memanipulasinya dengan baik. Sempurna, tanganku mendarat di wajah Rose. Dan hasil yang lebih penting kami tahu wilayah mana yang tidak pantas kami kunjungi.

Udara pagi yang hangat menyentuh tubuhku saat berjalan menyebrangi halaman. Rose di sampingku, asyik bertexting dengan Lucas, adiknya yang baru masuk kelas satu tahun ini. Aku yakin wajahku memang memasang ekspressi biasa-biasa saja, terlihat dari wajah-wajah pengecek mood-mu di koridor sebelum loker. Seperti biasa arah mata mereka dari atas kebawah, atau sebaliknya.

Pagi ini dimulai dengan kelas sejarah Prof. Scott. Jujur aku tidak terlalu menyukai pelajaran ini. Sesuatu yang lumrah dan umum bila kita tidak memiliki kemampuan mengingat tanggal dengan baik, yang mana hal tersebut dibutuhkan di pelajaran hapalan yang satu ini. Terlebih lagi peristiwa yang memang tidak memiliki kaitan secara langsung dengan kehidupan yang kita jalani, lebih spesifiknya tidak teralami.

Jam berikutnya adalah Biologi. Klasifikasi mahluk hidup sudah dibahas tuntas di smester lalu. Smester ini akan membahas ke sistem kehidupan yang berlangsung di tubuh manusia. Tapi, tetap saja kita hanya akan membedah katak. Bukan manusia. Tidak akan mungkin. Lagi pula Prof. Kipps terlalu penakut, bahkan untuk memandang mata Kepala Sekolah Evershine, Prof. Aadesh.

Aku cukup puas dengan awal semester ini. Dua pelajaran awal yang membawa kami sampai waktu istirahat lumayan bisa kunikmati. Meskipun terselip kesialan saat Prof. Scott memintaku untuk menjelaskan sedikit sejarah yang aku ketahui mengenai pembentukan kota Lakeheaven. Seharusnya aku tidak menyebutkan nama keluarga Basilius sebagai salah satu pioneer karena lima tahun kemudian mereka membocorkan situasi pertahanan dan denah benteng Strongflame kepada penjajah, dengan kata lain mereka mata-mata.

"Kau yakin hanya ingin makan itu, Luina?" Bu Ora pegawai kafetaria menyadarkanku dari lamunan kelas sejarah.Oh, ya, itu, hanya ada kentang dan jagung di piringku.

"Bisa tambahkan daging cincangnya?" Jawabku setelah mengecek menu-menu di hadapanku.
"Tentu saja," Ia menambahkan dua sendok daging cincang merah yang ku pesan. "Kau perlu banyak makanan. Aku lihat tubuhmu melangsing."
"Oh, terimakasih." Jawabku, sedikit termenung menyadari ada yang menyisakan sedikit perhatiannya untukku. Bahkan dari Bu Ora. Kami tidak pernah terlibat percakapan seperti ini sebelumnya.

Aku baru saja akan meninggalkan antrian setelah membayar pesananku dan ingin menuju ke tempat dimana Rose sudah terduduk dengan makanannya di antara meja-meja yang ramai di kafetaria sebelum tangan Bu Ora menarik tanganku, dengan lembut pastinya. 

"Aku kenal dekat dengan Pamanmu. Ian Vaughn." Itu kalimat verifikasi dari tindakannya. Aku menatap wajahnya untuk beberapa saat yang bisa dibilang sebentar. Antrian di belakangku mulai ramai.

"Oke, terimakasih. Tapi kau bisa lihat." Aku memiringkan kepala ke arah antrian dan tersenyum.

Tanganku terbebas dari pegangannya dan apalagi yang aku tunggu, perutku sudah keroncongan. Rose melambai dengan raut wajah tidak sabar. Dua meja dari antrian dan aku mendapatkan kursiku.

"Ada apa dengan Ibu pegawai kafetaria?" Sudah jelas dia akan menanyakan yang barusan.
"Hanya ucapan belasungkawa." Jawabku lumayan lugas, sedikit tidak sabar dengan kentang di hadapanku.
"Oh, begitu. OK."

Rose kembali menikmati makanannya yang hampir habis. Dia sedang dalam keadaan yang baik. Lahapnya. 

"Eh, kenapa tadi kau menyebut nama Basilius? Semua orang tahu dia itu penghianat Lakeheaven." Topik berubah ke hal yang entah mengapa lumayan mengusik pikiranku. 
"Kupikir aku tadi menyebutkan Clementius," aku mencoba membela sesuatu yang sudah jelas hasil akhir bagi pembicaraan ini. Aku akan kalah.

"Oh, Rose...Benteng Strongflame!" 

Aku yakin suaraku cukup keras. Orang-orang di radius tiga meja dari tempatku memandang sinis. Kami memang baru membahas Basilius. Tapi kepalaku lebih cepat dan sudah sampai ke bagian Strongflame. Lukisan di ruang kerja Paman Ian dan sisa-sisa bangunan di hutan kota, itu Strongflame.

"Luina, barusan itu cukup membuatku ingin meninggalkan meja ini. Tapi aku temanmu."

Thursday, 22 August 2013

Draft Lagi #3

Saya tidak menyangka bahwa Cerbung (Cerita Bersambung) dari postingan Draft Lagi yang belum diberi judul resmi ini akan berkembang sejauh ini. Banyak ide yang meletup-letup di kepala dan saya harus bijak memilihnya. Semoga kalian suka lanjutan dari Draft Lagi #2 berikut...

Aku menyesali tindakanku malam tadi. Rasa canggung yang tadinya mulai melebur di antara kami berdua mulai menguat kembali. Bodohnya aku membiarkan instinct liarku menyeruak hanya untuk mengambil kertas setengah terbakar itu. Tapi lebih dari itu memang seharusnya akulah yang memlikinya, hanya aku.

"Tidur nyenyak?" Bibi Lutessa bertanya padaku disela-sela sarapan pagi ini.
"Tidak juga," aku jawab tanpa melihat matanya.

Selebihnya hanyalah suara denting dari peralatan makan yang kami pakai dan pemberitaan tentang kematian Paman Ian yang masih menjadi headline news televisi lokal meskipun Ia telah pergi dua minggu yang lalu. Yang kuheran apa mereka tidak menimbang bagaimana perasaan kami, bila memang Bibi Lutessa juga masih berduka, sebagai satu-satunya keluarganya? 

Mereka seenaknya membuat fakta bahwa penyebab kematian ditutup-tutupi karena polisi masih meragukan hipotesa yang mereka punya-padahal sudah jelas Ia memiliki jantung yang lemah di riwayat kesehatannya, belum lagi ada yang sebagian mengira Paman memang telah lama diincar setelah keberhasilannya mengungkap kasus korupsi besar-besaran pada masa Walikota Lynwood dan masih banyak lagi opini-opini tidak jelas yang berkembang di sekitarku.

Klakson mobil sekolah Evershine yang telah dua kali dibunyikan bagaikan penyelamat pagiku. Setengah gelas susu berhasil aku habiskan sebelum bunyi ketiga terdengar, yang bila memang sudah terdengar berarti mereka meninggalkanku. Tas sekolah kusambar dari kursi disebelahku lalu melangkah pergi meninggalkan Bibi Lutessa yang masih menikmati sarapannya. 

Apa aku keponakan yang baik, meninggalkannya tanpa "Sampai jumpa!"? Itu akan terlalu berlebihan terlebih mungkin dia memang masih berduka. Bila dipandang secara rasional, Paman Ian, Bibi Lutessa dan mendiang Ayahku Billy memang dibesarkan bersama di rumah ini. Dan dia telah kehilangan kedua kakak laki-lakinya, dia pewaris satu-satunya dari group perusahaan Vaughn, akan sulit baginya mengurusi segalanya sendirian, dan aku membiarkannya merasa sendirian. Tapi ekspresi datarnya memang terkesan "yang lalu biarlah berlalu".

Itu dia klaskson ke tiga yang berhasil mempercepat langkahku sesaat sebelum kulihat wajah Pak Gulliver yang memerah di kursi kemudi.

"Semoga harimu menyenangkan, nak." Sapanya saat aku telah memasuki pintu bis. "Berharaplah masih ada satu bangku untukmu di sana," tambahnya dengan sedikit gerakan kepala menunjukkan letak kursi penumpang.

Aku sedikit menelitinya sebelum mengucapkan, "Terimakasih, Pa Gulliver." Tidak biasanya dia seramah itu.

Bis cukup penuh namun aku berhasil menemukan kursi tempat biasa aku duduk, di sana baris kedua terakhir dari belakang, bagian yang paling dekat dengan jendela tepatnya. Aku juga melihat Rose telah terduduk di sebelah kursiku . Dia tampak salah tingkah, senyum dan ekspressi bertanya-tanya yang berlebihan. Aku hanya tersenyum dan berharap dia hanya akan mengingatkanku tentang beberapa tugas sekolah, tidak lebih dari itu dan memang biasanya hanya seperti itu. 

Akhirnya aku berhasil mengenyahkan tubuhku dikursi bis yang tidak bisa dibilang empuk. Bis melaju dan aku sungguh berharap embun yang melapisi bagian terluar kaca jendela yang hanya akan menjadi pusat perhatianku sampai tiba di sekolah. Tapi, aku punya Rose. Akan sangat keterlaluan bila mengabaikannya. Jadi kuputuskan untuk mengobrol dengannya sebelum...

"Kita punya essay yang harus dikerjakan selama liburan musim panas kemarin dengan kriteria yang telah dibeberkan Professor Wan di blognya. Tapi ada satu hal yang harus selalu kita perhatikan, lagi-lagi dia menyelipkan teka-teki di akhir postingannya. Ah, ini membuatku lebih penasaran padanya. Apa kau..."

Hey, Rose aku baru saja setengah menoleh, pekikku dalam hati.

"Sudah, sudah aku selesaikan di minggu pertama libur." Aku menyukai Rose, dia tipe cewek yang lumayan tidak karuan, terkadang menggebu-gebu, lalu menjadi penyendiri, setelah itu ceria dan seterusnya seperti itu. Lumayan aneh, tapi dia satu-satunya teman yang kupunya di Lakeheaven. Aku suka rambut hitam lurusnya, mengingatkanku pada rambut asli Nicki Minaj. Tapi percayalah, Dia tidak sejelek itu. Hanya saja dia kurang percaya diri.

"Tapi Luina, minggu pertama itu Pamanmu meninggal." Nadanya tampak hati-hati.

"Itu tidak menjadi halangan, aku mengerjakannya di dua hari pertama sebelum...," kuharap aku bisa menyelesaikan kalimat ini dengan lancar. "kau tahulah, Rose."

To be continued...

Wednesday, 31 July 2013

Draft Lagi #2

Akhirnya aku bisa menggeledah ruang kerja Paman Ian. Tidak banyak yang bisa aku temukan disana. Pertama lukisan itu benar-benar sama dengan sisa-sisa bangunan kuno di hutan kota, lalu ada secarik kertas setengah terbakar terselip di buku kesukaannya-tulisannya hampir memudar.

"Apa yang kau temukan?" Tanya Bibi Lutessa malam selanjutnya, seperti biasa di ruangan hangatnya.

Dengan hati-hati aku mulai bicara, menjaga agar yang kutemukan tidak terlalu membuatnya penasaran.
"Hanya secarik kertas usang yang terbakar,"  aku memberikannya kertas itu yang langsung diamatinya.
"Tidak banyak membantu," lanjutku. "Tapi, mungkin akan ku simpan."

"Menyimpannya?" Dahinya mengkerut menyelidiki.
"Benda apa pun yang terlihat terabaikan akan menjadi berharga saat kita bahkan tidak bisa melihatnya lagi," berhasil, kuharap kalimat ini membuatnya pusing dan menganggapku terlalu mengada-ada.

Dia memejamkan matanya untuk berpikir. Kursi goyangnya sedikit berayun. Ah, posisi kertas itu ada di tangannya. Kuharap ini tidak seperti yang sedang kubayangkan. Dia akan menganggap ini hal sepele seperti bagaimana dia biasanya bersikap dan membiarkanku pergi dengan kertas itu.

"Kupikir lebih baik bila aku yang akan menyimpannya," pandangan matanya meneliti mimikku, "bagaimana menurutmu?"
"Aku yang menemukannya."

Tadi itu tindakan spontan yang benar-benar diluar dugaan bahwa aku akan mampu melakukannya, menghianatinya. Aku melangkah dengan cepat mendekatinya dan secara kasar merebut kertas Paman Ian dari tangannya yang lemah, mungkin akan menguat seandainya dia tahu aku akan merebutnya secara paksa. Maafkan aku Bibi Lutessa, terimakasih telah mau bekerja sama.

***

Saturday, 20 July 2013

Draft Lagi

Selalu, aku memilih malam sebagai waktu yang tepat untuk bisa berbicara dengannya. Aku cukup terkejut dengan banyak hal yang bisa kuungkapkan. Mulai dari sekolah, teman-teman hingga hal tidak penting seperti vas bunga di samping pintu depan yang kutemukan telah pecah pagi tadi, dan yang pentingnya aku mulai terbuka tentang keanehan-keanehan yang kurasakan akhir-akhir ini, di kota ini.

Di hutan kota ada sisa bangunan kuno, hanya bongkahan-bongkahan tembok dari batu dengan tekstur yang kasar. Aku hanya sedang mengalihkan perhatianku dari kesedihan mengenai kepergian Paman Ian, membiarkan kakiku entah kemana dia akan melangkah, tersandung lalu terkejut menemukan sisa-sisa bangunan tua. Awalnya tak ada yang menarik, tapi aku menemukan kesamaan arsitekturnya, kendati sulit untuk pertama kali meyakinkan diriku bahwa ini sama dengan lukisan yang ada di ruang kerja Paman Ian.

"Dia memang menggali segalanya mengenai kota ini," jelas Bibi Lutessa, "Pamanmu, Ian."
"Aku hanya tidak mengerti," kalimatku mengambang sebelum, "Seandainya pihak Polisi setidaknya mengijinkanku untuk menggeledah ruang kerjanya."
"Dan aku tidak mengerti dengan kata 'menggeledah'?" Aku tidak mendapat kejelasan dari maksud ucapannya, terkesan mencari tahu apa yang ingin kutahu.

Kecanggungan menyeruak di antara kami dan aku tak bisa memecahkan kedinginan ini, jadi kuputuskan untuk beristirahat.

"Tapi, bila saja kau lebih terbuka padaku tentang apa yang sedang kau lakukan dengan semua ini," mengejutkan. Aku berbalik memastikan bahwa ini awal dari perubahan pikirannya. "Aku mungkin bisa mengaturnya."

***


Saturday, 6 July 2013

Draft

Tak ada yang tahu, karena aku tidak pernah berpikiran bahwa pun mereka tahu akan merubah keadaan. Kecuali Larry yang kerap kali ke ruanganku, tentu saja, tanpa sepengetahuanku sebelumnya. Terakhir dia membuka file-file notepad di komputer dan kuharap isinya tidak akan melekat terlalu lama di kepalanya.

Dan aku masih belum menemukan mengapa kematian Kepala Sekolah Morning Bright seakan bukan hal yang mengejutkan bagiku. Aku menghormatinya, tipe manusia tulus di jaman sekarang ini. Aku mengikuti upacara pemakamannya, meneteskan air mata, kembali ke rumah, berpikir tentang kematian dan terakhir itu hal yang menyenangkan.

Terlalu banyak pemikiran yang berseliweran di kepalaku. Mulai dari topik apa yang akan kubawakan di acara SatNight di radio Augsburg, tentang pendidikanku, Ibu dan mantan suaminya, maksudku Willy Ayahku, dan yang paling mengocok perutku, Jaime tidak lagi sendiri. Ini hanya tentang aku dan kelihaian memilah mana yang lebih penting untuk dipikirkan saat ini. Aku harus menentukan prioritas.

SatNight di Augsburg harus selalu menarik. Ini satu-satunya pekerjaan yang kupunya sekarang dan lumayan menyenangkan kendati harus berpura-pura ceria di telinga para pendengar. Tapi aku tiba-tiba diserang kebencian terhadap kepura-puraan. Setelah sembilan tahun bertetangga, bersekolah dan bergaul bersama dengan Parker, baru di pesta kemarin aku mendapatinya berciuman dengan salah satu anggota keluarga Malkovich.

Aku seharusnya tidak membesar-besarkan masalah ini. Tapi, aku sempat berpikiran bahwa mungkin Parker akan menjadi pilihan terakhirku saat telah banyak pria mengecewakanku. Itu memang tidak adil untuknya. Tapi Parker dengan Malkovich lebih tidak adil lagi untukku.

Apa ini? Biasa, hanya draft di kepala.

Saturday, 11 May 2013

Orange Juice

"Orange juice," pintaku.
"Sayang, kami tidak menjual minuman seperti itu."
"Oh," gumamku dengan mata memindai menu minuman di meja terdekat. "Original coffee," itu yang termurah dan ku pesan, akhirnya.

Dan di sinilah aku duduk di kursi paling pojok kedai kopi Laguna, Augstant street. Sebuah laptop menyala di depan meja persegi kecil dengan kopi pesananku di sampingnya. Ini pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di sebuah kedai kopi. Sebenarnya aku sudah berniat untuk ke tempat ini. Hanya saja kurang dari sepuluh meter sebelum memasukinya aku sempat terpikir untuk mengatur ulang rencana. Dan itu penyebab "orange juice" keluar dari mulutku.

Jake Cauldron pemeran si tokoh utama Jaime tidak disukai para penonton film perdanaku. Aku harus membuat strategi agar alur cerita di film selanjutnya bisa lebih menjual dan tidak ada keluhan serupa lagi.  Untuk cerita aku bisa menanganinya. Untuk Jake hanya ada dua pilihan, membuatnya terlihat lebih kekar atau menggantinya dengan pemain lain yang belum aku temukan kandidatnya.

Di atas itu hanyalah imajinasi kecil di kepala gue saat terbangun pagi ini di kamar kosan yang seperti kapal pecah. Dan gue selalu gak punya semangat untuk melanjutkannya. Ada, tapi seringkali melemah. What do you think?

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...