Showing posts with label Curcol. Show all posts
Showing posts with label Curcol. Show all posts

Monday, 10 April 2017

I have been being called a drug addict for being skinny


from IG @uyo.yahya

Did this headline make you checking your body? Are you satisfied with your body? Are you a 'zero' or a 'one'? I am sorry for bringing up this topic to the surface. I have been always bugged by this issue since nowadays. Yep, body shaming. A world issue that can be found everyehere, everytime. It does not matter that you are kids, teenanger, adult, or even oldies. People are always available to judge you. 

Thursday, 23 March 2017

In a world like this...


Whoa it has been such a really long hiatus. Probably I had visited the dashboard of this blog but ended up doing nothing. I guess the fact that writing is not just about imagination but also logical thinking has been attacking me badly.

Tuesday, 9 August 2016

Birthday Recap: White Chocolate, Green Tea Biscuit, and Pokemon Go

#HAPPYBIRTHDAY

Yep, I had birthday 2 days ago, 7 August. What a not-really-my-thing as it-never-been-my-thing it was though someone made it special last year. I know deeply that people get excited when their birthdays are around the corner. Having a day spent with family and close friends, and even inviting the whole bunch of relatives, partners, friends into the house. Could you imagine that?

Friday, 20 May 2016

Elsawati Dewi(natureveshop.com): Setelah Menikah? Biasa Aja

19 Maret 2016 merupakan hari yang menyedihkan bagi pacar dari kakak saya, Yayang Mustika. Pasalnya sang Ayah meninggal dunia setelah mendapatkan satu hari perawatan di rumah sakit. Saya, yang kebetulan waktu itu sedang di kampung, dan kakak saya mewakili keluarga untuk menyampaikan belasungkawa ke rumahnya. Saat kami sampai ke rumah yang dituju, kebetulan jenazah sedang akan dimakamkan. Jadi kami langsung ikut rombongan ke pemakaman. Prosesnya hidmat hingga kami kembali ke rumah yang berduka.

Tak ingin membuang kesempatan, sekitar jam 13.00 saya pamit sebentar untuk mengunjungi sahabat saya, Elsawati Dewi(Els). Kabarnya rumah Els sekarang pindah di dekat sekolah saya dulu, satu kawasan dengan rumah Yayang. Owner salah satu

Wednesday, 28 May 2014

Numb: Hal Abstrak yang Menuntut

Numb (dari google)
Numb: suatu keadaan dimana kita merasa bahkan diri kita tidak tahu apa yang sedang kita lakukan. Keadaan dimana apa yang biasanya merupakan hal yang biasa seakan menuntut akan makna dan tujuan yang jelas. Statement yang kuat amat membantu dalam keadaan seperti ini.

Manusia terdiri dari dua aspek penting: jasmani dan rohani. Jasmani berupa tubuh yang terbentuk dari ribuan sel yang bersatu menjadi jaringan sel, kemudian menyatu lagi dalam organ, dan terakhir membentuk satu-kesatuan tubuh manusia yang hidup. Rohani berupa hal abstrak yang dimiliki setiap individu, tak mengenal akan komponen-komponen apa saja yang membentuknya. Kendati seperti itu namun memiliki dua penilaian untuk hakikat dari segala sesuatu yang ada di sekitar tubuh si empunya: baik dan benar.

Masing-masing jasmani dan rohani perlu dipenuhi kebutruhannya. Jasmani sebagai bagian yang kongkrit amatlah perlu untuk dipenuhi kebutuhannya seperti: kesehatan, asupan makanan, sirkulasi darah, oksigen, kebugaran, dll. Begitu juga dengan rohani yang bersifat abstrak juga mutlak memerlukan pemenuhan atas kebutuhannya seperti: rasa aman, nyaman, tenang, dll.

Dari keduanya, masing-masing saling bergantung. Jasmani yang buruk akan berpengaruh pada kinerja rohani. Begitu pula sebaliknya, rohani yang buruk amat berpengaruh pada jasmani. Kita mengenal peribahasa yang mengatakan "Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat". Di situlah letaknya. Jasmani adalah tubuh yang harus sehat untuk menyokong kinerja rohani yaitu jiwa untuk selalu kuat.

Maka, saat kita mengalami numb, ingatlah bahwa tubuh dan jiwa saling mempengaruhi. Selalu temukan kedamaian untuk menenangkan diri barang sejenak. Permudahlah, jangan mempersulit diri.

Tuesday, 18 March 2014

Kangen Emak Pisan!

Sudah delapan bulan semenjak lebaran Idul Fitri saya belum mudik lagi ke Tasikmalaya. Rasanya seperti puasa yang seharusnya maghrib berbuka ini malah belum pasti kapan berbukanya. Rasanya itu kangen pisan, euy. Kangen dengan suasana rumah yang hangat, halaman yang asri dipagari pepohonan bambu yang ujung-ujungnya bergemerisik tiap kali angin berhembus, juga aroma tanah kering sore hari dan canda tawa anak-anak kecil yang bermain dengan permainan tradisional.

Yang paling kangen ya tentu kangen emak... Rasanya 8 bulan tidak berjumpa seperti mengikis semangat diri sendiri setiap harinya. Alternatif mengurangi rasa kangen biasanya cukup dengan telpon di hari minggu. Tapi tidak untuk kali ini. Saya sudah tidak tahan. Seandainya setiap hari adalah awal bulan mungkin detik dimana saya merasakan rindu yang teramat sagat, di detik selanjutnya saya sudah memutuskan bahwa saya akan mudik sekarang juga. But, you know lah nasib karyawan.

Maka saya memutuskan tanggal 29 Maret untuk mudik. Lumayan hari seninnya tanggal 31 libur juga. Dan agak sedikit ragu sih apa mungkin waktu dua hari itu cukup untuk melepas rasa kangen terhadap kampung halaman dan segala yang ada di sana, termasuk sahabat-sahabat saya? Kalau untuk berjumpa emak sih disyukuri aja bakalan seharian penuh take quality time with her, ah. Untuk bertemu sahabat-sahabat sepertinya tidak ada waktu. Aduh padahal udah ada rencana dengan Mba Elsawati Dewi.
Jadi gak enak.

Tapi, mudah-mudahan bisa deh. Lihat sikon aja entar. Aamiin...

See ya, everyone...

Monday, 17 March 2014

Lost In Paradise

Well, Hello insan blogger semuanya...

gambar dari google
Saya ragu apakah masih ada dari Anda yang mengingat saya...dikarenakan saya akhir-akhir ini jarang sekali melakukan blogwalking. Sibuk kerja, tentunya itu yang menjadi alasan utama. Padahal udah kayak bikin perjanjian dengan diri sendiri bahwa sesibuk apa pun untuk menulis/posting di blog tetep harus dijalanin. Tapi, ya apa dayakulah...hamba hanya manusia biasa...

Lost In Paradise? Meminjam dari salah satu judul lagu-nya Rihanna di album unapalogetic. Lost in Paradise, Hilang/Tersesat di Firdaus(Surga). Seperti itulah yang saya rasakan sekarang ini. Lebih spesifik saya merasa bahwa blogger adalah surga dimana saya bisa melakukan kegiatan menulis dengan menyenangkan. "Bisa" bikin postingan sederhana pun sudah membuat saya bahagia, apalagi didatangi oleh Anda-anda semua...plus dengan komentar yang membangun membuat saya merasa "I belong here...". Terimakasih :D.

Kembali ke notebook(laptop punyanya Tukul). Blog sebagai surga menulis dan Lost perasaan hilang, nyasar, tidak tahu arah, harus bagaimana karena lambat laun feel menulis saya seperti ikut-ikutan menghilang. Tapi saya 100 % bahwa passion saya adalah di bidang linguistik seperti ini. Tidak untuk yang lainnya. Meski sedikit keterampilan bidang lain pun merupakan nilai tambah.

Paragraf di atas sungguh tidak padu.

Ya, sudahlah...Ya, Alloh beri saya cahaya-Mu di lorong yang gelap ini...Aamiin.

Monday, 23 December 2013

Hi, Monday

Well, everyone who thinks that Monday is a monster day, They are must be stupid people....And I am in it.

Who the hell who cares...

dari google
But I found something different when I arrived to my office this morning. There were four peoples show their smiles, I swear it was almost a laugh, when I opened the office gate, while on the other hand there is a statement like 'Employees begin to smile at 11 o'clock on Monday.' Dude, I was like you all when I did school stuffs.

Look, when I was at school I did really loved Monday. How come? Just so you know that I was the outsider of my school that it's located in a city, not a big city actually. I came from a villages, It took about an hour to get to school from my home if you are lucky enough. I know that my friends that their homes are definitely near from school felt so lazy with their routines.

I do believe with my theory that they had no awesome trip from home to school.While on the other side I could saw so much beautiful views from some public transportation that I went by. Look, the green color was so meant to me. The rice-field, I meant. Not only the rice-field, I was so excited with the passengers. I did a counseling teacher, 'Read Peoples'. hehe...

I got so much fun so far I wrote this unimportant post, my life flashbacks, school stuffs, and of course the craziest thing which I did with my sister-different-parents (bad compound)...who else? Hi, Elsawati Dewi. But, now I have so much jobs to deal with and the fact of it destroyed my good-tempered in a second.

I can not leave my "Thank you so much" to the guys who gave me smiles or maybe laughs. And the MonDay will always be Monster Day even while I was writing this last sentence I connected to "Money Day"?




Friday, 20 December 2013

My Listening is Getting Better

Yeye Lalala

Sesubuh ini saya membuat postingan yang mungkin untuk orang yang tidak mengenal saya, baik secara langsung mau pun tidak, misal tidak mengenali tulisan saya, akan berpikir betapa arogannya saya. Well, yeah sedini ini saya berani untuk bersegera mengungkapkan keberhasilan kecil. Tapi ini memang cara saya untuk menghargai apa yang telah saya capai.

dari google

Akhir-akhir ini saya rajin mengunjungi situs soundcloud.com, sebuah situs entertainment layaknya youtube, namun hanya untuk streaming audio. Di situs ini teman-teman bisa mengupload file-file audio yang menjadi favorit kalian. Selain upload dan nantinya bisa kita dengar dimana saja dan kapan saja, kita juga bisa merepost milik user lain, atau pun membuat playlist kita sendiri baik dari file yang telah kita upload atau pun  dari file user lain. Pokoknya recommended, dah.

Hm... Dan khususnya sudah sebulan ini saya rajin mendengarkan siaran BBC News yang mostly of course are broadcasted in English. And any of you know what I got now? Yeay... My listening skill is getting better. I can catch almost all words that the speakers say. Alhamdulillah...yang tadinya sulit, dengan dibiasakan akhirnya jadi bisa. Bisa karena biasa dalam istilah resminya.

"Saat kita dipertemukan dengan hal yang kita cintai, maka selebihnya adalah kebahagiaan."

Salam.

Friday, 13 December 2013

Nasehat Bang Andre

Siapa Andre? Namanya sih Andriyan. Dia salah satu employee baru di company dimana saya bekerja, mahasiswa semester 7 Universitas Gunadharma yang mengambil kelas karyawan tentu saja, dan orang dengan kelopak mata bawah yang menggantung besar sama kayak punyanya Bapak SBY. hehe

Jadi, entah kenapa dan saya memang tidak pernah menemukan, bahkan berniat pun tidak, alasan dia membentuk sedikit conversation yang membahas tentang asmara dengan saya. Mungkin hanya untuk berbagi.

Well, saya memang hanya perlu mendengarkan dan mencerna yang saya pikir itu baik. Selebihnya dilempar ke tong sampah pun tidak apa-apa. Hush...pembicaraannya berbobot kok, lumayan. Tadinya memang seperti itu. Tapi keadaan berbalik saat saya berkata:

"Sorry, gue gak ada waktu ngebahas kehidupan orang lain."

Dan ditimpalinya dengan:

"Hidup tidak akan pernah cukup bila belajar dari kehidupan kita sendiri."

Saya mengangguk pelan, mencerna isi kalimatnya dan Dia menjabarkan maksudnya. Dan egois memang pernyataan saya sebelumnya. Tapi itulah saya saking terlalu sibuk dengan urusan saya sendiri, rasa di dalam diri saya perlahan seperti menghilang entah kemana. Ya, Alloh tumbuhkan lagi kepekaan saya terhadap sesama. Saya rindu untuk bisa 'merasa'. Aamiin.

Thanks ya Andre, Andriyan... Siapa punlah namamu..haha


Wednesday, 27 November 2013

hold HIM tight

Jarangnya mendapatkan siraman rohani dan kucuran motivasi membuat hidup saya jadi kurang teratur. Tak dipungkiri saya mengalami kerugian besar dalam masa-masa seperti ini. Dimana rasanya saya sudah mulai kehilangan kendali dan arah.

Pekerjaan yang menumpuk karena seringnya ditunda, nasib yang sama juga berlaku untuk tugas-tugas kuliah, dan kesenangan menggeluti sesuatu karena deadline juga telah menjadi identitas baru saya. Enaknya hidup jadi ringan untuk saat ini. Tapi yeah, kebiasaan memandang jauh ke depan menapik identitas tidak resmi itu.

Aku perlu untuk: bisa terbangun sepagi mungkin, me-list daftar pekerjaan dan tugas kuliah, mendetail masing-masing point, MELAKSANAKAN, merewiew, dan akhirnya melihat hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

So, the next plan is to hold HIM tight. Bismillah!

Saturday, 12 October 2013

Mr. Renzo R, The Taxi Driver

Perhatian! Baca Artikel Ini Hingga Tuntas. Yang Asal Baca, Kalau Saya Jadi Anda Saya Bahkan Tidak Tahu Harus Komentar Apa.

gambar dari google
Siapa Mr. Renzo R? As you can see lah on the title above, He's only a taxi driver. But, there's something special about him. I knew it.

Jadi begini cceritanya. Hari ini Jum'at, 11 Oktober 2013 seperti yang telah terschedule saya ada pekerjaan di Gedung pusat salah satu bank BUMN tersebesar di Indonesia, di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat.
Tadi pagi saya berangkat dengan mood yang sedang tidak bagus. Alhasil perkerjaan yang dipaksa diselesaikan pukul 19.00 pun hasilnya tidak memuaskan dan malah menambah suasana yang tidak enak di dalam diri saya. Penyebab kontroversi hati ini adalah bahwa saya masih harus ke gedung ini besok hari Sabtu, dimana hari Sabtu saya harus ngampus. Dilema prioritas jadinya. Namun saya putuskan untuk masuk kuliah dengan nanti pagi telpon dulu ke bos saya.

Seharusnya keluar dari Gedung tersebut saya langsung stop taxi di depan, tapi tiba-tiba saya berkeinginan untuk berkunjung dulu ke kosan kakak saya, Tati, yang ada di Grogol. Kebetulah di sana juga ada teman sekaligus pacar kakak saya yang satu lagi, Yayang. berkunjunglah saya dengan niatan mau curhat tentang kontroversi prioritas ini.

Tidak lama saya di Grogol, hanya sampai pukul 9.30. Saya berjalan dari gang kosan Kakak saya, berhenti di ujung gang dan melihat ada Taxi Blue Bird yang kelihatannya kosong sedang melaju dengan pelan dari lawan arah dan akan belok ke arah kemana saya akan pulang. Dia tampaknya terjebak di pertigaan, saya sedikit tidak sabar lalu langsung saja berjalan dengan "Naik dari depan aja deh, lama yang ini." dalam hati.

Tapi, ternyata Taxi yang tadi sudah sekitar 5 meter di belakang saya yang sedang berjalan lalu berhenti dan melambaikan tangan memberi isyarat stop. Saya masuk, meminta untuk set AC ke temperature paling kecil, sementara lagu dari radionya saya nikmati.

"Pak, bisa tolong diset ke temperatur yang paling kecil AC-nya?"

"Baik, Pak," jawabnya sopan.

Taxi keluar dari kawasan Tawakal dan melaju ke Gandaria City melalui Senayan, tujuan dan jalur yang telah saya sebutkan pada si Taxi Driver.

Pikiran saya masih mumet dengan keadaan dalam diri saya, masih hal yang tadi. Saya mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat kemacetan. Nampaknya saya diperhatikan oleh Pak Supir. Terbukti dari topik pembicaraan yang Ia lontarkan untuk sekedar break the ice. Topik apalagi kalau bukan macet? Jakarta.

Yeah, pembicaraan barusan mengenai jam pulang kerja dan kemacetan cukup membuat kami agak dekat. 
Saya suka bagaimana Dia bicara, supel, lugas dan berisi.

Lalu saya lihat Dia tampak sibuk mencari saluran radio yang memutar musik yang pas dengan penghujung hari seperti ini. Lalu berhenti di channel dimana terdengar seorang penyiar sedang sedang sibuk mewawancarai bintang tamu talkshow-nya. Entahlah topik apa yang sedang mereka bahas karena Pak Sopir keburu mengungkapkan rasa kagumnya terhadap suara sang penyiar.

"Ini, de, yang sedang siaran ini namanya Bu Siska," Jelasnya dengan tangan menunjuk radio di dashboard depan. Sementara saya mendengarkan dengan jeli suara Bu Siska dan sedikit 'Hore! Dipanggil Ade! Tadi kan manggilnya Pak.'"Orangnya cakap, dan suaranya bagus. Dia tinggalnya di Kalibata. Pulang kerjanya sekitar jam satu malam."

 "Wiss... Tahu semuanya Bapak ini tentang beliau. Pengagum ya, Pak? Ngomong-ngomong Radio apa ini, Pak?"

"Ini Radio Sonora, de. Pendirinya adalah pendiri kompas gramedia. Saya pernah mengantar beliau pulang beberapa kali kesempatan, dan satu kesempatan di Thamrin beliau menumpang Taxi saya dan menyiarkan keadaan jalan Thamrin di jam-jam macet melalui telpon genggamnya. Beliau sangat mencintai pekerjaanya"
Setiap kalimat yang diucapkannya memang terkesan biasa. Tapi kalian harus lihat cara Dia berbicara dengan duduk di kursi kemudi dan tangan yang sibuk menyetir dan memetakan setiap opininya. Seharusnya terselip rasa takut mengingat, Hello, Dia sedang menyetir. Tapi the way he talk is so awesome and inspire me.

"Hmm... Saya syirik lho Pak dengan orang yang mencintai pekerjaanya."

"Kalau Bapak boleh tahu apa alasannya, De?"

"Tak tahulah, Pak. Pokoknya saya Insyaalloh capable dengan perkejaan ini. Tapi saya tidak 'mencintai'."

"Memang harus seperti itu, De. Kita kan hidup ingin bahagia dan faktor yang fundamental ya pekerjaan untuk survive kehidupan kita itu mesti sesuatu yang kita cintai. Jadi dalam menjalaninya pun kita enjoy, tidak ada beban. Tidak ada penolakan terhadap apa yang ada di tangan kita."

Saya mengangguk-angguk di kursi belakang, memperhatikan dan menyerap setiap perkataanya.

"Ada tiga hal sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan semua orang, termasuk kamu De, supaya bisa lebih bahagia dengan kehidupan ini."

"Apa saja itu, Pak?" Tanya saya, tak ingin hanya Dia yang menguasai pembicaraan, meskipun itu sudah terjadi jauh sebelum saya tersadar saat ini.

"Pertama, kita harus mensyukuri apa yang kita punya dulu, apa yang ada di hadapan kita. Dengan bersyukur dengan landasan menerima apa yang Tuhan berikan maka kita akan melaju pada point yang kedua yaitu Mulailah mencintai. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi di depan bahwa dengan mampu mencintai pekerjaan kita akan bisa lebih bahagia dalam hidup ini. Dan yang ketiga adalah option yang bilamana kamu bisa melakukan point yang pertama, yaitu bersyukur, tapi mentok tidak bisa melanjutkan ke tahap percintaan."

"Aisshhh... Percintaan, Pak?" Sontak saya terkejut dan menggelegak dengan istilah yang dipakainya. Dia mengangguk mengisyaratkan bahwa saya tidak salah dengar. "Ok, Baik Pak. "

"Yang ketiga ya, De. Usahakan jangan dibenci. Apa pun pekerjaan kamu, apa pun jabatan kamu, apa pun itu usahakan jangan pernah kamu benci. Karena bila demikian kamu bahkan sama dengan menolak apa yang Tuhan berikan. Bahkan untuk hasil yang bagus yang kamu hasilkan pun tak akan ada nilainya bila kamu benci dan pada akhirnya menjauhkan kebaikan-kebaikan yang sepatutnya kamu dapatkan andai saja kamu jauh-jauh dari kata 'Membenci'."

Untuk kesekian kalinya saya tertegun, menerawang dan menyerap isi kalimatnya. Dan tidak ketinggalan kagum cara bicara, tangan yang sibuk dengan setir dan isyarat pembicaraan, dan tetap tenang dalam kemacetan.

"Kayanya saya mentok deh, Pak. Gak bisa sampai ke tahap percintaan."

"Berarti jangan dibenci!" Tegasnya.

"Gak benci, Pak. Tapi, alhamdulillah saya masih bisa berpikir dan memutuskan untuk mengambil bidang yang saya suka plus cinta, Pak. Saya IT, tapi kuliah Sastra. Salahkah, Pak?"

"Itu keputusan yang bagus, setidaknya kamu sedang mengarah ke jalan yang kamu inginkan. Intinya jadilah diri kita sendiri!"

Sumpah! Selama dua puluh satu tahun hidup saya baru pertama kali berjumpa dengan orang tua yang mau berbicara tentang kehidupan kepada kaum yang lebih muda. Saya memuji keterbukaanya untuk berbagi dengan saya, saya yang baru naik taksinya beberapa menit lalu, saya yang tadi bad mood namun kini seperti menemukan sumber semangat.

"Kamu masih muda De, meskipun masih muda mesti ingat, bolehlah semangatmu membara, tubuhmu masih kuat, tapi jangan terlalu mati-matian kamu eksploitasi tenagamu hanya untuk mengejar harta. Apalah arti semua yang kamu dapatkan itu kalau nantinya hanya akan dipakai untuk mengobati penyakit akibat kerjamu yang mati-matian itu."

"Exactly, Pak! Saya pernah membaca artikel yang persis kata-katanya seperti yang Bapak sebutkan barusan. Saya iseng copy-paste kalimat tersebut untuk dijadikan status facebook, eh dikomentari sama teman-teman saya yang kerjanya bisa disebut mati-matian, Pak. Mereka gak setuju, Pak. Katanya biasa aja dan enak-enak aja."

"Sekarang? Lah, nanti?" Celetuknya memancing saya tertawa paham.

"Wah, Iya ya Pak." Paham.

"Ngomong-ngomong Bapak membuat kalimat barusan dari pemikiran Bapak sendiri, lho. Jadi kalau kamu membaca artikel yang sama persis kata-katanya seperti itu. Saya yakin si pembuat artikel itu cerdas."

Perhatian pemirsa, posisi masih sama seperti tadi. Beliau ada di kursi kemudi dan saya di kursi penumpang belakang.


To be continued...

Sunday, 6 October 2013

Apa harus telanjang?

Halo sobat setia pengunjung blog Uyo Yahya. Apa kalian ada yang sudah coba nonton video klip nya Miley Cyrus yang terbaru, Wrecking Ball? Kalau belum, bergegaslah ke youtube.com sebelum video klip tersebut diblokir di Indonesia.

Pasti pada bertanya-tanya mengapa saya yakin video klip tersebut bakalan diblokir. Hal serupa pernah terjadi pada video klip Britney Spears - I'm A Slave 4 U, dan juga miliknya Paris Hilton - entah apa judulnya. Pertanyaannya masih sama "Kenapa diblokir?"

Jawabannya adalah: Terlalu Hot!

Yang paling hot sekarang memang Wrecking Ball-nya Miley Cyrus. Kalau dicermati dengan kacamata hati yang benar maka kualitas kekreatifannya memang rendah. Memamerkan lekuk tubuh benar-benar polos untuk menaikkan popularitas memang kerap kali dilakukan oleh selebriti hollywood. Kebanyakan yang melakukannya adalah yang masih muda di dunia tarik suara di sana, dan tentu saja yang kepopulerannya belum setenar sebelum mereka nekad bertelanjang di video klipnya.

Rata-rata dari artis terkait memang menyatakan bahwa mereka hanya ingin menjadi diri mereka yang sebenarnya. Oh, jadi jelek sekali ya kalau ternyata diri mereka yang sebenarnya itu gemar mengundang lawan jenis. Kesannya sih, maaf, murah!

Kalau saya dengarkan dengan jeli suara Miley Cyrus itu sudah OK, kok. Dan jumlah penggemarnya juga lumayan. Serta kepopulerannya juga, pastinya, di atas kepopuleran artis sekelas Nikita Mirzani. But, why? Sungguh disayangkan...

Dan cerita lagu itu juga lumayan bagus tapi mengapa dihancurkan dengan visualisasinya, ya.

Dan saya merasa sangat kecewa setelah salah satu penyanyi favorit saya, Rihanna, juga melakukan hal yang sama di video klip terbarunya, Pour It Up. Tidak terlalu populer, mungkin kebanting sama Wrecking Ball.

Pernah merasa kecewa dengan artis yang teman-teman sukai? Share dong di komen. Terimakasih.

Salam,

Uyo Yahya

Monday, 23 September 2013

Pengalaman Mistis Yang Pertama

Yep, kali ini saya akan membagikan cerita tentang pengalaman mistis saya yang pertama. Seperti apa-apa yang pertama kesannya memang paling berbeda dan kecupan di memorinya juga sangat kuat. Apalagi pengalaman pertama mengenai dunia mistis ini saya alami waktu masih kecil. Jadi sampai sekarang pun masih sangat kental di ingatan tentang detail kejadiannya.

Waktu itu saya masih kelas 3 SD. Sekitar jam sembilan pagi saya sudah pulang dari sekolah dan tiba di rumah. Tentu saya pulang cepat karena hari itu memang hari pembagian raport. Rumah waktu itu lenggang, tak ada siapa-siapa dan pintu dapur pun tidak terkunci. Saya masuk, menutup pintu di belakang saya dan langsung menuju ke kamar saya.

Raport tidak langsung saya lempar kemana saja. Itu memang bukan kebiasaan saya pula. Sepuluh menit saya berdiri di depan lemari pakaian sambil memindai nilai-nilai yang cukup bagus, lebih malah. Sedang asyik-asyiknya membaca nilai raport saya mendengar ada yang membuka pintu dapur. Dari dalam kamar saya tidak bisa melihat siapa yang masuk.

"Udah pulang, yo?"
"Udah, mak." Jawab saya kala itu.
"Ranking berapa?"
"Satu, mak." Jawab saya lagi sambil menyimpan raport ke dalam lemari dan berniat menghampiri Emak saya kala itu saking senangnya mendapat peringkat ranking satu untuk pertama kali dalam hidup saya. Arghhh...

Tapi saat tiba di dapur saya tidak menemukan siapa-siapa dan pintu dapur dalam keadaan tertutup? Jengjreng.

Saya terpaku untuk beberapa saat yang disebut sebentar. Antara heran dan tidak percaya. Lalu tak lama setelah itu Emak saya datang, membuka pintu dan bertanya:

"Udah pulang, yo?"
"Udah, mak." Jawab saya agak menilai apa Emak saya memang harus mengulangi pertanyaanya.
"Ranking berapa?"
"Satu, mak. Bukannya emak tadi udah tahu?"
"Haha... Becanda kamu. Emak baru aja nyampe dan nanya kamu masa udah tahu. Kalau udah tahu ya gak perlu nanya." Jelasnya ringan."Boleh emak lihat raportmu? Penasaran."
"Tapi tadi mak aku..."

Lalu saya menceritakan kejadian yang barusan saya alami kepada Emak saya. Tapi, tanggapannya cuman "Kamu pasti lagi ngelamun."

Karena memang waktu itu masih kecil, gampang sekali aku menerima bahwa itu adalah cuman lamunan saja. Tapi toh sampai sekarang saya masih mempertanyakan siapa yang berbincang dengan saya kala itu.

Ini ceritaku, mana ceritamu?


Saturday, 21 September 2013

Emak, Abah...Anak Kecil Itu!

Emak Abah, your last child lagi kangen. Disini anak kalian ini kalau makan mesti beli ke warteg, ke warung pecel lele atau ayam, itu pun kalau lagi semangat dan lagi nggak labil ekonomi. Kalau nggak ya cukup deh jalan ke depan kosan dan pesan satu porsi mie ayam, atau indomie makanan anak kos.

Anakmu ini lagi pengen banget mencicipi masakanmu yang tiap kali nempel di lidah rasanya gak ada duanya di dunia ini, Farah Quinn pun kalah. Itu tuh yang pentingnya, gratis. Dan anakmu yang sudah "twenty one my age" ini lagi kangen suasana pagi yang seperti ini:

"Yo, bangun... Tempe-tahu kesukaanmu sudah siap di meja. Mumpung masih hangat. Sambel ijo-nya juga."
Lalu si anak kurus ini akan bangun dari ranjangnya. Berjalan limpung menyeret-nyeret kakinya, udah kayak zombie, ke dapur mencari itu makanan yang baru disebut.

Emak Abah, bahkan untuk tempe ama tahu pun sekarang susah dicari di warung. Maksudnya susah nyari yang harganya murah. As we know petani kedelai memang sedang tidak beruntung dengan tanaman mereka musim ini. Jadi harga kedelai melambung jauh terbang tinggi bersama Anggun C Sasmi. "Naik" aja gitu, simple. Lebay banget sih. Siapa? Eloooo...

Mak, Bah...Lapar... Untung ada Roma Malkist Abon...Hm...

Mau?
Emak Abah, Jakarta memang kota tempat kalian bertemu, memadu kasih, lalu lahirlah kakak-kakakku dan aku. Aku tahu kenapa kalian menjual gubuk kecil di gang di sudut Jakarta bahkan sebelum aku lahir dan memilih membangun rumah di Tasikmalaya sana. Benar, udara di sini panas, tingkat polusi udara tinggi, kontroversi hati apalagi, termasuk konspirasi moral. 

Untunglah aku besar di Tasik, agamaku Insyaalloh cukup kuat. Dan masa kanak-kanak dan remaja yang masih di koridor aman. Aku melihat anak-anak di sini bahkan balita pun sudah mengenal kata-kata kotor dan candaan yang merendahkan tidak mengenal siapa yang mereka ajak biacara.

Emak Abah, masa tadi pagi anakmu yang rajin menabung di warung ini diginiin:

"Kayak Mas." Jawab seekor anak kecil mungil di hadapanku yang sama-sama sedang menyantap bubur ayam pagi ini setelah ku bertanya, "Emang setan bentuknya kayak gimana?". Setelah sebelumnya itu seekor anak lagi nyeritain cerita serem yang gak serem. Yaitulah ya gak ngerti saya juga, serem tapi gak serem. 

Emak Abah, gak sopan banget kan mereka?!

Emak Abah, disini aku juga harus beres-beres kamar sendiri, nyuci baju sendiri... Tuh, kan udah numpuk lagi. Ya udah deh nyuci dulu....

Monday, 16 September 2013

Aku Ingin Hidup Damai, Membaca Buku

Aku ingin hidup damai, membaca buku
Ya, suatu hari aku akan benar-benar menjalani hidupku dengan jalan yang aku inginkan. Aku ingin hidup damai, membaca buku. Kalimat ini pertama saya baca dari status facebooknya Mba Elsawati Dewi. Awalnya aku pikir kalimat itu terkesan biasa karena memang menjadi hal yang telah lama ingin kulakukan juga. Tapi sayangnya semua orang, termasuk si penulis blog ini harus terbentur dengan realita.

Bahwa hidup tidak bisa hanya dijalani dengan hal-hal yang benar-benar kita ingin lakukan. Dan bahwa hidup tidak akan seimbang bila kita hanya melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan. Baik-buruk, bahagia-sedih, kesempatan-kesempitan, well semua itu memang telah ditulis bahkan sebelum kita terlahir di dunia. Takt ada yang mengetahui persis apa yang akan terjadi besok, bahkan di detik terakhir saya mengakhiri kalimat ini.

Dan diawal saat memulai kalimat terakhir di paragraf sebelumnya aku masih bingung akan membahas apa. Cukup mengejutkan karena "Collaboration of reality and idealism" miliknya kang Rizki Fajar Bachtiar tiba-tiba seperti meminta perlakuan di kepalaku. Oh, tentu saja, aku sedang berbicara tentang "hidup". Sementara kolaborasi dari realita dan idealisme, aku yakin aku tidak akan bertahan lebih dari dua jam untuk bisa satu ruangan dengan orang-orang seperti ini. Mereka terlalu otak kiri, menurutku. Tapi aku sendiri tidak bisa menghindari realita.

Jadi aku akan melakukan hal-hal biasa yang biasa dilakukan orang-orang biasa dan menyimpan "Aku ingin hidup damai, membaca buku" sebagai tujuan hidup selain yang utama, Akhirat. Dengan catatan menyelipkan sedikit misi-misi arah hidupku ke dalam realita secara perlahan namun pasti dan istiqomah, Aku yakin akhir itu tidak akan benar-benar ada di akhir. Aku yakin aku memang sedang berada di jalur dan arah yang benar.

Saturday, 17 August 2013

Wanita

Aku setengah berhasil melalui hari ini. Ada kegamangan yang akhirnya mengantarkanku padamu, ketidakjelasan yang menyenangkan, beberapa hal terkuak tanpa sedikitpun usaha lebih membawaku pada kebingungan yang aneh. Aku tidak tahu cara merasa, seakan menolak pun bahkan aku tahu bagaimana caranya, lalu rasa kesal, lega dan sesuatu yang ingin membuncah ada di dadaku.

Apalagi tentang wanita cerdas yang dulu ku tahu, kini tak lagi ku tahu. Bersandiwara, lalu menutupnya lagi dengan sandiwara, seterusnya seperti itu. Aku tahu tanganku cukup kuat untuk menolongnya, tapi tadi itu terlalu cepat dan aku tak siap, aku masih dibentengi pemikiran bahwa kau tetap cerdas, dan kau lenyap, wanita.

Masih selalu dingin yang mengantarku pulang dari kehidupan sekitarmu. Aku harap bisa menjauh tapi benda-benda mutakhir ini membuat aku tak bisa menolak untuk sekedar mengetahui kabarmu. Mereka secara terus-menerus tanpa diminta memantau dan melaporkan apa yang kau ucapkan pagi ini, menu sarapanmu, pekerjaan, makan siang, rasa kantuk dan perjalanan pulangmu, serta bahasa dalam yang lebih halus mengenai bahagia, sedih, senyum, seringai, menangis dan tertawa.

Wednesday, 24 July 2013

Yang Ku Nanti?

Lewat tulisan sederhana yang berisi daftar-daftar nama yang masing-masing dari kita kenal aku juga menemukan namamu, kau juga melihat namaku. Tapi pasti ada yang berbeda. Hanya nama, menurutmu. Ah, nama itu, menurutku.

Aku sedang dalam suasana yang baik dan cenderung hangat, bahkan bisa membayangkan akan bagaimana aku bersikap di hadapanmu nanti. Aku bahkan mereka-reka kalimat sapaan seperti apa yang akan kulontarkan nanti. Tapi itu terjadi senbelum potret-potret digital itu kubuka. Terbahak dada ini melihat banyak juga orang yang mengelilingiku dan mereka semua tersenyum, tertawa. Efeknya seketika menular ke dadaku, aku tertawa dalam kesendirian di ruangan kerjaku. Aku sungguh ingin berdoa agar kebahagiaan itu bertahan lama untuk setidaknya beberapa menit bila saja ku tahu potret-potret bagianmu adalah pengganti bahakku.

Lalu, aku dihadapkan pada daftar nama-nama itu. Duar...hening. Aku harus mengumpulkan kepingan-kepingan akal sehatku.

Sunday, 21 July 2013

Mantap, Mereka Mendukungku

Jadi aku merasa masih muda dengan umur 20 tahun ini. Otakku masih mampu menerima banyak input dari hal-hal baru yang kutemui, didasari rasa suka atau tidak. Yeah, untuk yang pernah membaca postingan Gue Amfibi (Ambivert) mungkin sudah sedikit mengenal seperti apa orang dibalik blog ini, 'mahluk' tidak jelas seperti apa yang dengan rajin, kalau mau dibilang rajin, menulis artikel-artikel mengenai hidupnya di blog ini. Egois ya, kapan membuat artikel yang benar-benar bermanfaat, tulisannya tentang diri-sendiri.

Kembali ke laptop dan tema kita di malam ini talk about dukungan. Aih, tukul pisan.Mari sedikit membahas tentang amfibi(baca: ambivert), sedikit mengingatkan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang mewarisi tipe ekstrovert dan introvert. Kadang meledak-ledak, kadang terccenung-murung; terkadang "Hey, ini aku!", di lain kesempatan 'Just leave me alone'.

Beranjak dari introvert sejati yang menahan banyak ide dan perasaan, tidak diungkapkan, dipendam, membusuk. Melakukan gerilya untuk mendapat pengakuan dari mereka yang banyak bicara dan berhasil menemukan jati diri yang tidak mudah ditebak. Bahkan tak bisa disangkal, aku pun merasa takut. Haha. Waktu itu aku bahkan bisa lebih cerewet dari saudara tiri saya yang tidak jahat, mudah-mudahan, Elsa.

Dua minggu sebelum Ramadhan Ibu berkunjung ke Tangerang, ke rumah kakak. Waktu itu sedang khitanan keponakan dan saat suasana rumah lenggang, ehm, sedikit berbicara serius dengannya.

"Uyo pengen kuliah."
"Baguslah," responnya.
"Tapi jurusannya," jeda, tapi tidak sampai satu menit, "bukan IT lagi."
"Lalu apa?"

Aku membuka file ebook berbahasa inggris dan mulai membaca satu paragraf lalu mengungkapkan entah bagaimana aku mampu mengerti seluruh paragraf itu. Maksudku, alami. Tanpa pernah mengambil kursus. Hanya dicekoki banyak lagu bahasa inggris oleh kakak-kakakku dari jaman boyzone, backstreetboys, westlife dan britney spears.

"Sastra Inggris," jawabku mantap. "Tidak masalah, 'kan?"
"Yang penting Uyo bisa dan 'suka'."
I love you, mom.

Masih di hari yang sama aku ungkapkan keinginan itu kepada salah satu kakakku dan dia menyatakan respon yang tidak berbeda.

"Yang penting kita suka, itu akan lebih mudah. Jadi, udah mulai nabung?"
"Belum."
"Yaudah, nabung dulu dan kerja yang bener."
"Siip!"

Tidak ada yang istimewa, mungkin. Tapi itu berlaku bagi orang yang tidak ada sedikit pun unsur keintrovert-an. Mengungkapkan keinginan yang benar-benar besar dan disetujui oleh mereka, Oh, it's a big, I meant really-really a big, bigger, the biggest achive I've ever reached...

Pernah kalian bayangkan orang yang teramat menyukai dunia membaca harus berhadapan dengan sesuatu yang teknikal? Ironi. Tapi ini hidup. Kita hanya dituntut untuk bisa menjalani skenario Tuhan dan tentu saja berusaha bila menginginkan perubahan.

Monday, 8 July 2013

Surat dari Hogswart

Hampir sepuluh tahun aku menunggu semenjak ulang tahunku yang ke sebelas, tapi surat dari Hogswart tak kunjung datang. Aku tidak pernah melihat burung hantu di halaman, bahkan kotorannya pun tidak.

Sial, Rowling benar-benar menginfluensi pikiranku. I'm 20, tapi masih berpikiran bahwa kemungkinan datangnya surat pertama dari Hogswart itu masih ada. Liarnya pemikiran ini. Jadi sekarang ini tengah malam dan aku ingin mengunjungi hutan terlarang. Mungkin disana akan ada centaurus, atau unicorn, atau bahkan you-know-who. Dan ini semua hanya kebohongan.

Lalu, mungkin, disana aku akan menyukai Quidditch. Jauh bertolak belakang dengan kehidupanku di sini. Aku tidak menyukai olahraga permainan. Tubuhku ramping, jadi cocok untuk jadi seorang seeker. Ramping itu berarti ringan, tentu saja.

Dan yang tidak kalah penting aku akan memaksa Topi Seleksi untuk menempatkanku di Ravenclaw. Tapi jika dia benar-benar memiliki metode kerja yang baik, tentu aku tidak perlu memaksa. Facebook quiz memang menempatkanku disana.

Ada suara aneh yang mengetuk pintu. Mungkinkah? Aku tidak ingin membuang waktu. Jadi langsung kubuka dan yang datang hanya realita kehidupan yang dingin menusuk tulang rusukku. Tentu saja, ini malam hari dan angin lembah memang seperti ini.

Jangan terlalu serius. Ini hanya ungkapan ekspresi khayalanku yang terlalu liar. Tapi, kegilaan ini membuatku bahagia.

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...