Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Saturday, 12 October 2013

Mr. Renzo R, The Taxi Driver

Perhatian! Baca Artikel Ini Hingga Tuntas. Yang Asal Baca, Kalau Saya Jadi Anda Saya Bahkan Tidak Tahu Harus Komentar Apa.

gambar dari google
Siapa Mr. Renzo R? As you can see lah on the title above, He's only a taxi driver. But, there's something special about him. I knew it.

Jadi begini cceritanya. Hari ini Jum'at, 11 Oktober 2013 seperti yang telah terschedule saya ada pekerjaan di Gedung pusat salah satu bank BUMN tersebesar di Indonesia, di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat.
Tadi pagi saya berangkat dengan mood yang sedang tidak bagus. Alhasil perkerjaan yang dipaksa diselesaikan pukul 19.00 pun hasilnya tidak memuaskan dan malah menambah suasana yang tidak enak di dalam diri saya. Penyebab kontroversi hati ini adalah bahwa saya masih harus ke gedung ini besok hari Sabtu, dimana hari Sabtu saya harus ngampus. Dilema prioritas jadinya. Namun saya putuskan untuk masuk kuliah dengan nanti pagi telpon dulu ke bos saya.

Seharusnya keluar dari Gedung tersebut saya langsung stop taxi di depan, tapi tiba-tiba saya berkeinginan untuk berkunjung dulu ke kosan kakak saya, Tati, yang ada di Grogol. Kebetulah di sana juga ada teman sekaligus pacar kakak saya yang satu lagi, Yayang. berkunjunglah saya dengan niatan mau curhat tentang kontroversi prioritas ini.

Tidak lama saya di Grogol, hanya sampai pukul 9.30. Saya berjalan dari gang kosan Kakak saya, berhenti di ujung gang dan melihat ada Taxi Blue Bird yang kelihatannya kosong sedang melaju dengan pelan dari lawan arah dan akan belok ke arah kemana saya akan pulang. Dia tampaknya terjebak di pertigaan, saya sedikit tidak sabar lalu langsung saja berjalan dengan "Naik dari depan aja deh, lama yang ini." dalam hati.

Tapi, ternyata Taxi yang tadi sudah sekitar 5 meter di belakang saya yang sedang berjalan lalu berhenti dan melambaikan tangan memberi isyarat stop. Saya masuk, meminta untuk set AC ke temperature paling kecil, sementara lagu dari radionya saya nikmati.

"Pak, bisa tolong diset ke temperatur yang paling kecil AC-nya?"

"Baik, Pak," jawabnya sopan.

Taxi keluar dari kawasan Tawakal dan melaju ke Gandaria City melalui Senayan, tujuan dan jalur yang telah saya sebutkan pada si Taxi Driver.

Pikiran saya masih mumet dengan keadaan dalam diri saya, masih hal yang tadi. Saya mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat kemacetan. Nampaknya saya diperhatikan oleh Pak Supir. Terbukti dari topik pembicaraan yang Ia lontarkan untuk sekedar break the ice. Topik apalagi kalau bukan macet? Jakarta.

Yeah, pembicaraan barusan mengenai jam pulang kerja dan kemacetan cukup membuat kami agak dekat. 
Saya suka bagaimana Dia bicara, supel, lugas dan berisi.

Lalu saya lihat Dia tampak sibuk mencari saluran radio yang memutar musik yang pas dengan penghujung hari seperti ini. Lalu berhenti di channel dimana terdengar seorang penyiar sedang sedang sibuk mewawancarai bintang tamu talkshow-nya. Entahlah topik apa yang sedang mereka bahas karena Pak Sopir keburu mengungkapkan rasa kagumnya terhadap suara sang penyiar.

"Ini, de, yang sedang siaran ini namanya Bu Siska," Jelasnya dengan tangan menunjuk radio di dashboard depan. Sementara saya mendengarkan dengan jeli suara Bu Siska dan sedikit 'Hore! Dipanggil Ade! Tadi kan manggilnya Pak.'"Orangnya cakap, dan suaranya bagus. Dia tinggalnya di Kalibata. Pulang kerjanya sekitar jam satu malam."

 "Wiss... Tahu semuanya Bapak ini tentang beliau. Pengagum ya, Pak? Ngomong-ngomong Radio apa ini, Pak?"

"Ini Radio Sonora, de. Pendirinya adalah pendiri kompas gramedia. Saya pernah mengantar beliau pulang beberapa kali kesempatan, dan satu kesempatan di Thamrin beliau menumpang Taxi saya dan menyiarkan keadaan jalan Thamrin di jam-jam macet melalui telpon genggamnya. Beliau sangat mencintai pekerjaanya"
Setiap kalimat yang diucapkannya memang terkesan biasa. Tapi kalian harus lihat cara Dia berbicara dengan duduk di kursi kemudi dan tangan yang sibuk menyetir dan memetakan setiap opininya. Seharusnya terselip rasa takut mengingat, Hello, Dia sedang menyetir. Tapi the way he talk is so awesome and inspire me.

"Hmm... Saya syirik lho Pak dengan orang yang mencintai pekerjaanya."

"Kalau Bapak boleh tahu apa alasannya, De?"

"Tak tahulah, Pak. Pokoknya saya Insyaalloh capable dengan perkejaan ini. Tapi saya tidak 'mencintai'."

"Memang harus seperti itu, De. Kita kan hidup ingin bahagia dan faktor yang fundamental ya pekerjaan untuk survive kehidupan kita itu mesti sesuatu yang kita cintai. Jadi dalam menjalaninya pun kita enjoy, tidak ada beban. Tidak ada penolakan terhadap apa yang ada di tangan kita."

Saya mengangguk-angguk di kursi belakang, memperhatikan dan menyerap setiap perkataanya.

"Ada tiga hal sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan semua orang, termasuk kamu De, supaya bisa lebih bahagia dengan kehidupan ini."

"Apa saja itu, Pak?" Tanya saya, tak ingin hanya Dia yang menguasai pembicaraan, meskipun itu sudah terjadi jauh sebelum saya tersadar saat ini.

"Pertama, kita harus mensyukuri apa yang kita punya dulu, apa yang ada di hadapan kita. Dengan bersyukur dengan landasan menerima apa yang Tuhan berikan maka kita akan melaju pada point yang kedua yaitu Mulailah mencintai. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi di depan bahwa dengan mampu mencintai pekerjaan kita akan bisa lebih bahagia dalam hidup ini. Dan yang ketiga adalah option yang bilamana kamu bisa melakukan point yang pertama, yaitu bersyukur, tapi mentok tidak bisa melanjutkan ke tahap percintaan."

"Aisshhh... Percintaan, Pak?" Sontak saya terkejut dan menggelegak dengan istilah yang dipakainya. Dia mengangguk mengisyaratkan bahwa saya tidak salah dengar. "Ok, Baik Pak. "

"Yang ketiga ya, De. Usahakan jangan dibenci. Apa pun pekerjaan kamu, apa pun jabatan kamu, apa pun itu usahakan jangan pernah kamu benci. Karena bila demikian kamu bahkan sama dengan menolak apa yang Tuhan berikan. Bahkan untuk hasil yang bagus yang kamu hasilkan pun tak akan ada nilainya bila kamu benci dan pada akhirnya menjauhkan kebaikan-kebaikan yang sepatutnya kamu dapatkan andai saja kamu jauh-jauh dari kata 'Membenci'."

Untuk kesekian kalinya saya tertegun, menerawang dan menyerap isi kalimatnya. Dan tidak ketinggalan kagum cara bicara, tangan yang sibuk dengan setir dan isyarat pembicaraan, dan tetap tenang dalam kemacetan.

"Kayanya saya mentok deh, Pak. Gak bisa sampai ke tahap percintaan."

"Berarti jangan dibenci!" Tegasnya.

"Gak benci, Pak. Tapi, alhamdulillah saya masih bisa berpikir dan memutuskan untuk mengambil bidang yang saya suka plus cinta, Pak. Saya IT, tapi kuliah Sastra. Salahkah, Pak?"

"Itu keputusan yang bagus, setidaknya kamu sedang mengarah ke jalan yang kamu inginkan. Intinya jadilah diri kita sendiri!"

Sumpah! Selama dua puluh satu tahun hidup saya baru pertama kali berjumpa dengan orang tua yang mau berbicara tentang kehidupan kepada kaum yang lebih muda. Saya memuji keterbukaanya untuk berbagi dengan saya, saya yang baru naik taksinya beberapa menit lalu, saya yang tadi bad mood namun kini seperti menemukan sumber semangat.

"Kamu masih muda De, meskipun masih muda mesti ingat, bolehlah semangatmu membara, tubuhmu masih kuat, tapi jangan terlalu mati-matian kamu eksploitasi tenagamu hanya untuk mengejar harta. Apalah arti semua yang kamu dapatkan itu kalau nantinya hanya akan dipakai untuk mengobati penyakit akibat kerjamu yang mati-matian itu."

"Exactly, Pak! Saya pernah membaca artikel yang persis kata-katanya seperti yang Bapak sebutkan barusan. Saya iseng copy-paste kalimat tersebut untuk dijadikan status facebook, eh dikomentari sama teman-teman saya yang kerjanya bisa disebut mati-matian, Pak. Mereka gak setuju, Pak. Katanya biasa aja dan enak-enak aja."

"Sekarang? Lah, nanti?" Celetuknya memancing saya tertawa paham.

"Wah, Iya ya Pak." Paham.

"Ngomong-ngomong Bapak membuat kalimat barusan dari pemikiran Bapak sendiri, lho. Jadi kalau kamu membaca artikel yang sama persis kata-katanya seperti itu. Saya yakin si pembuat artikel itu cerdas."

Perhatian pemirsa, posisi masih sama seperti tadi. Beliau ada di kursi kemudi dan saya di kursi penumpang belakang.


To be continued...

Sunday, 6 October 2013

Apa harus telanjang?

Halo sobat setia pengunjung blog Uyo Yahya. Apa kalian ada yang sudah coba nonton video klip nya Miley Cyrus yang terbaru, Wrecking Ball? Kalau belum, bergegaslah ke youtube.com sebelum video klip tersebut diblokir di Indonesia.

Pasti pada bertanya-tanya mengapa saya yakin video klip tersebut bakalan diblokir. Hal serupa pernah terjadi pada video klip Britney Spears - I'm A Slave 4 U, dan juga miliknya Paris Hilton - entah apa judulnya. Pertanyaannya masih sama "Kenapa diblokir?"

Jawabannya adalah: Terlalu Hot!

Yang paling hot sekarang memang Wrecking Ball-nya Miley Cyrus. Kalau dicermati dengan kacamata hati yang benar maka kualitas kekreatifannya memang rendah. Memamerkan lekuk tubuh benar-benar polos untuk menaikkan popularitas memang kerap kali dilakukan oleh selebriti hollywood. Kebanyakan yang melakukannya adalah yang masih muda di dunia tarik suara di sana, dan tentu saja yang kepopulerannya belum setenar sebelum mereka nekad bertelanjang di video klipnya.

Rata-rata dari artis terkait memang menyatakan bahwa mereka hanya ingin menjadi diri mereka yang sebenarnya. Oh, jadi jelek sekali ya kalau ternyata diri mereka yang sebenarnya itu gemar mengundang lawan jenis. Kesannya sih, maaf, murah!

Kalau saya dengarkan dengan jeli suara Miley Cyrus itu sudah OK, kok. Dan jumlah penggemarnya juga lumayan. Serta kepopulerannya juga, pastinya, di atas kepopuleran artis sekelas Nikita Mirzani. But, why? Sungguh disayangkan...

Dan cerita lagu itu juga lumayan bagus tapi mengapa dihancurkan dengan visualisasinya, ya.

Dan saya merasa sangat kecewa setelah salah satu penyanyi favorit saya, Rihanna, juga melakukan hal yang sama di video klip terbarunya, Pour It Up. Tidak terlalu populer, mungkin kebanting sama Wrecking Ball.

Pernah merasa kecewa dengan artis yang teman-teman sukai? Share dong di komen. Terimakasih.

Salam,

Uyo Yahya

Saturday, 21 September 2013

Emak, Abah...Anak Kecil Itu!

Emak Abah, your last child lagi kangen. Disini anak kalian ini kalau makan mesti beli ke warteg, ke warung pecel lele atau ayam, itu pun kalau lagi semangat dan lagi nggak labil ekonomi. Kalau nggak ya cukup deh jalan ke depan kosan dan pesan satu porsi mie ayam, atau indomie makanan anak kos.

Anakmu ini lagi pengen banget mencicipi masakanmu yang tiap kali nempel di lidah rasanya gak ada duanya di dunia ini, Farah Quinn pun kalah. Itu tuh yang pentingnya, gratis. Dan anakmu yang sudah "twenty one my age" ini lagi kangen suasana pagi yang seperti ini:

"Yo, bangun... Tempe-tahu kesukaanmu sudah siap di meja. Mumpung masih hangat. Sambel ijo-nya juga."
Lalu si anak kurus ini akan bangun dari ranjangnya. Berjalan limpung menyeret-nyeret kakinya, udah kayak zombie, ke dapur mencari itu makanan yang baru disebut.

Emak Abah, bahkan untuk tempe ama tahu pun sekarang susah dicari di warung. Maksudnya susah nyari yang harganya murah. As we know petani kedelai memang sedang tidak beruntung dengan tanaman mereka musim ini. Jadi harga kedelai melambung jauh terbang tinggi bersama Anggun C Sasmi. "Naik" aja gitu, simple. Lebay banget sih. Siapa? Eloooo...

Mak, Bah...Lapar... Untung ada Roma Malkist Abon...Hm...

Mau?
Emak Abah, Jakarta memang kota tempat kalian bertemu, memadu kasih, lalu lahirlah kakak-kakakku dan aku. Aku tahu kenapa kalian menjual gubuk kecil di gang di sudut Jakarta bahkan sebelum aku lahir dan memilih membangun rumah di Tasikmalaya sana. Benar, udara di sini panas, tingkat polusi udara tinggi, kontroversi hati apalagi, termasuk konspirasi moral. 

Untunglah aku besar di Tasik, agamaku Insyaalloh cukup kuat. Dan masa kanak-kanak dan remaja yang masih di koridor aman. Aku melihat anak-anak di sini bahkan balita pun sudah mengenal kata-kata kotor dan candaan yang merendahkan tidak mengenal siapa yang mereka ajak biacara.

Emak Abah, masa tadi pagi anakmu yang rajin menabung di warung ini diginiin:

"Kayak Mas." Jawab seekor anak kecil mungil di hadapanku yang sama-sama sedang menyantap bubur ayam pagi ini setelah ku bertanya, "Emang setan bentuknya kayak gimana?". Setelah sebelumnya itu seekor anak lagi nyeritain cerita serem yang gak serem. Yaitulah ya gak ngerti saya juga, serem tapi gak serem. 

Emak Abah, gak sopan banget kan mereka?!

Emak Abah, disini aku juga harus beres-beres kamar sendiri, nyuci baju sendiri... Tuh, kan udah numpuk lagi. Ya udah deh nyuci dulu....

Tuesday, 14 May 2013

Hubungan Seorang Hamba dan Tuhan



Suatu hari saat sedang jalan mencari makan di daerah Gandaria Tengah II teman sekantor tiba-tiba dia  ngomong, “Cewek gue bilang ‘kissing-nya puasa dulu ya’.”

“Sorry?” Hanya memastikan apa telinga ini berfungsi dengan baik.

“Iya, cewek gue bilang gue ama dia gak usah kissing dulu soalnya gue keliatan gendutan,” jelasnya.

“Oh,” gumamku. “Iya sih gue juga pernah baca artikel kalau yang namanya kissing itu bikin orang bahagia dan salah satu ciri orang bahagia itu bisa dilihat dari postur tubuhnya, gemukan atau gendutan. Tapi pada saat lo ama cewek lo ngelakuinnya apa gak takut dosa atau sama sekali tidak terpikir?”

Kita masih jalan dan tidak melanjutkan pembicaraan hingga sampai di warung gado-gado. Dan yang selanjutnya terjadi adalah teori dari mulut teman sekantor yang menunjukkan bahwa dia tersinggung dengan pertanyaan terakhir tadi. Saya punya cara terbaik untuk menangani hal semacam ini. Cukup dengan menjelaskan bahwa “Ya, saya salah dan saya tidak ingin melanjutkan untuk mendengar teori anda(di samping kita ditempat umum)”.

Beberapa hari lalu saya menyimak video Dian Pelangi dan Zaskia Adya Mecca di acaranya Hitam Putih Dedy Corbuzer(bener gak tulisannya?). Disitu Dedy bertanya kepada Zaskia bahwa sekarang banyak wanita-wanita muslim yang benar mereka memakai hijab atau pakaian tertutup tapi dengan lekuk tubuh yang terlihat jelas, bagaimana itu? Lalu Zaskia menjawab, semua perlu proses, tidak ada manusia yang langsung bisa mengalami perubahan secara drastis meskipun itu bukan hal yang mustahil, agama kita tidak memberatkan jadi untuk wanita-wanita yang seperti itu mungkin karena mereka baru memulai berhijab, dengan seiringnya waktu mereka akan mengerti dan akan lebih baik.

Sementara itu Dian Pelangi mendukung jawaban Zaskia dengan mengungkapkan bahwa meskipun dari kecil dia berhijab, dia sempat melepas hijabnya saat duduk di bangku SMA, lalu kemudian menggunakannya lagi. Lalu Zaskia mengungkapkan bahwa saat seorang wanita ada pada kondisi tidak baik, misal dia tiba-tiba dari yang tadinya berhijab kemudian berhijab, itu membuktikan pada siapa lagi mereka akan mengadu, siapa lagi yang mereka butuhkan kecuali Allah.

Dan di akhir acara Dedy mengambil kesimpulan “Urusan manusia dengan Tuhannya adalah urusannya dengan Tuhannya. Tidak bisa diganggu gugat oleh manusia lain.”

Dari situ saya belajar untuk tidak lagi membahas tentang dosa kepada orang lain.

NP: Saat saya bertanya kepada teman saya, saya merasa sedang dalam mood yang childish.

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...