Showing posts with label Kosan. Show all posts
Showing posts with label Kosan. Show all posts

Wednesday, 27 November 2013

hold HIM tight

Jarangnya mendapatkan siraman rohani dan kucuran motivasi membuat hidup saya jadi kurang teratur. Tak dipungkiri saya mengalami kerugian besar dalam masa-masa seperti ini. Dimana rasanya saya sudah mulai kehilangan kendali dan arah.

Pekerjaan yang menumpuk karena seringnya ditunda, nasib yang sama juga berlaku untuk tugas-tugas kuliah, dan kesenangan menggeluti sesuatu karena deadline juga telah menjadi identitas baru saya. Enaknya hidup jadi ringan untuk saat ini. Tapi yeah, kebiasaan memandang jauh ke depan menapik identitas tidak resmi itu.

Aku perlu untuk: bisa terbangun sepagi mungkin, me-list daftar pekerjaan dan tugas kuliah, mendetail masing-masing point, MELAKSANAKAN, merewiew, dan akhirnya melihat hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

So, the next plan is to hold HIM tight. Bismillah!

Monday, 23 September 2013

Pengalaman Mistis Yang Pertama

Yep, kali ini saya akan membagikan cerita tentang pengalaman mistis saya yang pertama. Seperti apa-apa yang pertama kesannya memang paling berbeda dan kecupan di memorinya juga sangat kuat. Apalagi pengalaman pertama mengenai dunia mistis ini saya alami waktu masih kecil. Jadi sampai sekarang pun masih sangat kental di ingatan tentang detail kejadiannya.

Waktu itu saya masih kelas 3 SD. Sekitar jam sembilan pagi saya sudah pulang dari sekolah dan tiba di rumah. Tentu saya pulang cepat karena hari itu memang hari pembagian raport. Rumah waktu itu lenggang, tak ada siapa-siapa dan pintu dapur pun tidak terkunci. Saya masuk, menutup pintu di belakang saya dan langsung menuju ke kamar saya.

Raport tidak langsung saya lempar kemana saja. Itu memang bukan kebiasaan saya pula. Sepuluh menit saya berdiri di depan lemari pakaian sambil memindai nilai-nilai yang cukup bagus, lebih malah. Sedang asyik-asyiknya membaca nilai raport saya mendengar ada yang membuka pintu dapur. Dari dalam kamar saya tidak bisa melihat siapa yang masuk.

"Udah pulang, yo?"
"Udah, mak." Jawab saya kala itu.
"Ranking berapa?"
"Satu, mak." Jawab saya lagi sambil menyimpan raport ke dalam lemari dan berniat menghampiri Emak saya kala itu saking senangnya mendapat peringkat ranking satu untuk pertama kali dalam hidup saya. Arghhh...

Tapi saat tiba di dapur saya tidak menemukan siapa-siapa dan pintu dapur dalam keadaan tertutup? Jengjreng.

Saya terpaku untuk beberapa saat yang disebut sebentar. Antara heran dan tidak percaya. Lalu tak lama setelah itu Emak saya datang, membuka pintu dan bertanya:

"Udah pulang, yo?"
"Udah, mak." Jawab saya agak menilai apa Emak saya memang harus mengulangi pertanyaanya.
"Ranking berapa?"
"Satu, mak. Bukannya emak tadi udah tahu?"
"Haha... Becanda kamu. Emak baru aja nyampe dan nanya kamu masa udah tahu. Kalau udah tahu ya gak perlu nanya." Jelasnya ringan."Boleh emak lihat raportmu? Penasaran."
"Tapi tadi mak aku..."

Lalu saya menceritakan kejadian yang barusan saya alami kepada Emak saya. Tapi, tanggapannya cuman "Kamu pasti lagi ngelamun."

Karena memang waktu itu masih kecil, gampang sekali aku menerima bahwa itu adalah cuman lamunan saja. Tapi toh sampai sekarang saya masih mempertanyakan siapa yang berbincang dengan saya kala itu.

Ini ceritaku, mana ceritamu?


Saturday, 21 September 2013

Emak, Abah...Anak Kecil Itu!

Emak Abah, your last child lagi kangen. Disini anak kalian ini kalau makan mesti beli ke warteg, ke warung pecel lele atau ayam, itu pun kalau lagi semangat dan lagi nggak labil ekonomi. Kalau nggak ya cukup deh jalan ke depan kosan dan pesan satu porsi mie ayam, atau indomie makanan anak kos.

Anakmu ini lagi pengen banget mencicipi masakanmu yang tiap kali nempel di lidah rasanya gak ada duanya di dunia ini, Farah Quinn pun kalah. Itu tuh yang pentingnya, gratis. Dan anakmu yang sudah "twenty one my age" ini lagi kangen suasana pagi yang seperti ini:

"Yo, bangun... Tempe-tahu kesukaanmu sudah siap di meja. Mumpung masih hangat. Sambel ijo-nya juga."
Lalu si anak kurus ini akan bangun dari ranjangnya. Berjalan limpung menyeret-nyeret kakinya, udah kayak zombie, ke dapur mencari itu makanan yang baru disebut.

Emak Abah, bahkan untuk tempe ama tahu pun sekarang susah dicari di warung. Maksudnya susah nyari yang harganya murah. As we know petani kedelai memang sedang tidak beruntung dengan tanaman mereka musim ini. Jadi harga kedelai melambung jauh terbang tinggi bersama Anggun C Sasmi. "Naik" aja gitu, simple. Lebay banget sih. Siapa? Eloooo...

Mak, Bah...Lapar... Untung ada Roma Malkist Abon...Hm...

Mau?
Emak Abah, Jakarta memang kota tempat kalian bertemu, memadu kasih, lalu lahirlah kakak-kakakku dan aku. Aku tahu kenapa kalian menjual gubuk kecil di gang di sudut Jakarta bahkan sebelum aku lahir dan memilih membangun rumah di Tasikmalaya sana. Benar, udara di sini panas, tingkat polusi udara tinggi, kontroversi hati apalagi, termasuk konspirasi moral. 

Untunglah aku besar di Tasik, agamaku Insyaalloh cukup kuat. Dan masa kanak-kanak dan remaja yang masih di koridor aman. Aku melihat anak-anak di sini bahkan balita pun sudah mengenal kata-kata kotor dan candaan yang merendahkan tidak mengenal siapa yang mereka ajak biacara.

Emak Abah, masa tadi pagi anakmu yang rajin menabung di warung ini diginiin:

"Kayak Mas." Jawab seekor anak kecil mungil di hadapanku yang sama-sama sedang menyantap bubur ayam pagi ini setelah ku bertanya, "Emang setan bentuknya kayak gimana?". Setelah sebelumnya itu seekor anak lagi nyeritain cerita serem yang gak serem. Yaitulah ya gak ngerti saya juga, serem tapi gak serem. 

Emak Abah, gak sopan banget kan mereka?!

Emak Abah, disini aku juga harus beres-beres kamar sendiri, nyuci baju sendiri... Tuh, kan udah numpuk lagi. Ya udah deh nyuci dulu....

Saturday, 7 September 2013

Lagu Classic dan Ballad Enak Buat Tidur

Waduh ya judul postingannya, out of the box deh...#hasem

Di suatu malam yang hening di kosan my sister saya bertanya seperti ini: 

"Tati, nahanya geus gede mah sare teh teu bisa jam 8-jam 9?"

"Tati, kenapa ya kalau udah gede gak bisa tidur jam 8 atau jam 9?"

Kakak saya langsung tertawa dan terdiam sebentar. Lalu dijawabnya dengan santai.

"Moal bisa deui. Loba pikiran. Kabeh jelema ngalaman."

"Gak bakalan mungkin bisa lagi. Banyak pikiran. Dan semua orang dewasa mengalaminya."

Lalu saya terdiam dan langsung paham. Oh, iya...setiap malam sebelum tidur, sebagai orang dewasa, ehem, kita dihadapkan pada banyak pikiran. Duh, kerjaan ini belum selesai-belum bayar kosan nih-sepatu gue udah butut, mesti beli lagi- gajih bulan ini cukup gak ya? - gue mesti banyak nulis, tapi bahkan blog pun terabaikan - duh, ingat dia yang disana...dan ini dan itu...sampai larut dan baru tersadar bahwa waktu tidur berkurang dengan kebiasaan tersebut.

Untuk mengatasinya saya punya cara tersendiri supaya rasa kantuk segera datang mengalahkan pikiran-pikiran mumet. Selain berdo'a saya juga mendengarkan musik sebelum tidur. Playlist-nya tidak banyak, paling 10 lagu. Tapi genre-nya yang mostly classic or ballad, yang sayup-sayup memperberat massa bulu mata hingga nantinya tertutup.

Berikut playlist lagu pengantar tidur saya:

1. Josh Groban - Remember Me
2. Rihanna - Unfaithful
3. Lana Del Rey - Young and Beautiful
4. Josh Groban - Per Te
5. Taylor Swift - Safe and Sound
6. Adam Lambert - Mad World
7. Rihanna - Stay
8. Adam Lambert - Outlaws of Love
9. Obliviate (OST. Harry Potter 7)
10. Opick - Bila Waktu Telah Berakhir

Ada yang suka mendengarkan musik sebelum tidur? Atau langsung nyungseb aja?

Friday, 19 April 2013

Gramedia Vs Setumpuk Cucian

Ini dia gambaran sensasi nge-blog sambil sarapan atau sarapan sambil nge-blog.hehe
Selamat pagi dunia! Eh, udah jum'at aja nih. Entar malem ngapain ya...Mh,,,Gramedia! Mesti itu! But, wait a minute... Cucian numpuk!!! Dari kemarin selama perjalanan pulang pergi jalan kaki dari kosan ke office-office ke kosan celingak-celinguk nyari laundry yang kiloan. Tapi gak dapet-dapet, yang ada hanya laundry and dry cleaning tanpa embel-embel kiloan. You know-lah yang kiloan bisa lebih ekonomis. Rp. 6.000/kg...hehe.

Kayanya sore ini sehabis pulang kerja jadinya nyuci. Ke Gramedia-nya entar aja deh besok pas weekend-an. Rencana sih beli (kalo minat) atau baca malem ini supaya besok Sabtu digunain buat menerjemahkan inspirasi yang di dapet ke dalam tulisan. But, yeah...inilah yang terjadi...setumpuk cucian gak bisa nunggu. Lagi pula kalo nyuci ditunda, siapa yang tahu cuaca untuk dua hari kedepan mendung. Galau deh...kebingungan Senin mau pake baju apa...Sengsara pisan...ketahuan bajunya cuman cukup buat satu pekan...

Bismillah...It's friday, friday...Thanks Alloh!

Thursday, 14 March 2013

Me vs Math


Hoammm…gak gantuk sih. Tapi tadi, tepat jam 11.30 PM, seekor uyoyahya terbangun dari tidur nyenyaknya karena ketukan pintu dari sang Ibu kos yang mau nagih uang kosan. Oh, shit! Kelihatannya gue kayak anak kosan yang emang sering telat bayar atau bahkan nunggak dan cenderung hidup dalam ketakutan tagihan uang Kos. But, it is big NO!

Uyo: buka pintu, “Iya bu?”
Ibu kos: wajah senyum mau nerima uang, “sekarang de tanggal 13.”
Uyo: beripikir keras dan menemukan jawaban, “Udah kok bu kemarin.”
Ibu: ekspresi kaget kayak gunung galunggung dikabarkan meletus lagi, “kemarin? Ama siapa?”
Uyo: “Ama si teh Dede(pengurus kosan)” kali ini gue gak terlalu mikir keras.

Seketika itu lewat mas-mas yang kamarnya hadap-hadapan ama kamar gue. Si Ibu langsung ngajak itu mas-mas dalam percakapan kita.

Ibu kos: “Tuh kan a, katanya si mas ini(gue) udah bayar ke si Dede. Tapi si Dede bilang belum katanya.”
Mas-mas: “Justru itu kan bu saya udah bilang sama Ibu mendingan kita bayar kosan langsung ke Ibu aja deh.”

OK obrolan ini selanjutnya lebih mengarah ke kebiadaban pengurus kosan yang kurang bagus management keuangannya. Dan dari obrolan ini juga gue tahu ternyata yang bikin gue agak sedikit gak betah disini itu bukan dari penghuninya. Penghuninya ramah-ramah, sama lagi kebanyakan orang sunda kawas abi. Hihi… Bukan, bukan mereka yang bikin gue suka kabur ke tempat teteh gue di grogol atau di Tangerang. Tapi si pengurus kosan yang emang kadang kayak orang yang haus duit gitu kalau lihat gue yang tampangnya berduit. Mau nimpuk pake uang? Silahkan, diterima dengan senang hati.

Dan ya, selain dari management keuangan kosan yang brutal, saya juga telah mendengar banyak kabar miring tentang si pengurus dan keluarganya yang tinggal di lantai dasar ini kosan. FYI, gue penghuni lantai ke tiga, lantai paling atas dengan kamar paling ujung. Muahaha… Apanya yang serem?

Karena terbangun dari tidur nyenyaknya akhirnya si malang uyoyahya tidak bisa kembali ke alam tidurnya lagi secara cepat dan dia mengidap insomnia akut. Berpikir tentang apa yang barusan terjadi dan tiba-tiba dari urusan uang nyambung ke masa kecil dan remaja di bangku sekolahan yang mempunyai sedikit masalah dengan, aduh gimana ya gue nyebutnya, horror. Tapi gue inget kata-kata Hermione: Ketakutan pada nama hanya akan membuatmu lebih takut pada individu tersebut. OK, gue ungkapkan, gue punya masalah sama “MATEMATIKA”.
Me vs Math
Memang dari dulu, seandainya gue tahu dari dulu, ada yang harus dirubah dari mindset pendidikan di Indonesia, so nasionalis, terutama untuk gue pribadi. Kayanya udah tahu otak mentok di matematika kenapa mesti dibela-belain ampe mewek-mewek bawang kalo gak bisa. FYI, aduh gue malu bilangnya, jaman duduk di bangku SD gue suka nangis kalo ada soal matematika yang gak bisa gue kerjain. Bahkan ampe insomnia ampe jam 10 malam. Jam 10 malam bagi anak SD itu insomnia. Dan kebiasaan mewek karena soal matematika kebawa ampe bangku SMP juga. Bangku STM juga kadang sih, tapi gak gue tunjukin. Anak STM mewek karena soal matematika? Iya, masbulloh!?

Sebenarnya jaman SD-SMP itu gak parah-parah banget, cemerlang malah. Hanya saja gue bisa ngerjain matematika waktu itu karena factor posisi duduk di bangku depan yang rasa malu kalo gak bisa ngerjain soal itu lebih tinggi dari mereka yang duduknya di bangku belakang. Dan ketergantungan karena posisi duduk ini akhirnya imbas ke masa STM gue karena masa itu gue kebagian kursi di jajaran ke tiga paling kiri. Dan Oo Em Jii, ini posisi yang benar-benar menguntungkan untuk bisa nyontek, terutama pelajaran hitungan semisal mate, fisika ama kimia; dan ngocol selama pelajaran.

Mungkin ini yang namanya Good Boy Gone Bad. Hihi…Dari anak baik yang perfeksionis berevolusi jadi yang paling agresif kalo ngobrolin hal yang dia suka. Sungguh perubahan yang gak gue duga. Oh, masa remaja.

Back to mindset about education. Kenapa kita bersikukuh untuk bidang yang gak kita minati dan bahkan kenapa kita mesti mendapatkan nilai sempurna untuk hal yang gak cocok dengan otak kita. Gue udah sering baca-baca tentang tipe-tipe kecerdasan tiap individu dan dari situ gue menyadari kalo gue ini tipe linguistic. Orang dengan tipe kecerdasan dalam berbahasa. And it was a fatal thing that’s why I don’t know it since early.

OK, sampai sini aja update-an tengah malam tentang mahluk penuntut waktu tidur banyak yang sekarang terjangkit insomnia. Dari kawasan Tanah Kusir II, Jakarta Selatan, saya uyoyahya melaporkan. Salam.



Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...