Showing posts with label Twilight. Show all posts
Showing posts with label Twilight. Show all posts

Wednesday, 20 February 2013

Physical is typical, logical is influential

Dari semua kejadian yang aku lemparkan pertanggungjawabannya kepadamu, kau pasti mengerti. Ketidaksesuaian membuat yang tadinya sesuai ikut terganggu. Dan dalam hal ini aku korban yang ingin mengorbankanmu. Zombie yang ingin menyebarkan virusnya, vampir yang ingin merubah kawanannya.

Tapi, memori-memori kebaikan terlalu mendominasiku. Itulah yang membuat tak satu pun dari bisikan-bisikan setan membuatku buta untuk berbuat ekstrem terhadapmu. Terlebih meracuni cara pikirmu. Itu yang terpenting dari faktor-faktor yang membentuk karakter manusia. Physical is typical, logical is influential.

Jauh sebelum mengenalmu aku telah mengenal banyak formula kehidupan. Dari yang tersederhana sampai pengembangan dari kesederhanaan-kesederhanaan tersebut. Semuanya teramat mudah untuk dilakukan sebagaimana yang kau lakukan sekarang di kehidupanmu, setiap hari-setiap detik. Bersyukurlah, pertahankan dan jangan biarkan orang-orang yang kau lihat keburukannya dalam dirimu sendiri merebutnya. Jangan pernah membuat bayangan cerminmu keluar, karena Dia adalah kebalikan dari siapa dirimu. Saat kau menempekan jari telunjuk kanan, maka yang dia tempelkan adalah jari telunjuknya yang kiri. Saat kau tersenyum maka dia bersedih. Saat kau tertawa, dia menjerit.

Formula-formula itu lepas begitu saja dari peganganku. Aku tak mengikatnya dengan banyak tali-temali asma Tuhan. Aku lepas kendali karena pujian-pujian setan yang kelewat manis. Dan aku tak ingin mengulanginya. Itu mengapa segalanya sekarang seakan menukik tajam. Entah terus menembus tanah hingga ke inti bumi yang panas atau berhenti tepat sebelum membentur bebatuan yang keras.

Monday, 18 February 2013

Late Like Me

Aku merinding bila berbicara tentang waktu. Mengerikan bahwa aku memang sering bermimpi tentang aspek kehidupan yang paling tua ini. Membingungkan bila harus mengingat apa yang telah terjadi di mimpiku itu. Urutannya acak, tak beraturan. Apalagi tingkat keseringannya semakin membuatnya kuat, membuatku terkadang sulit menentukan antara mimipi dan pendekatannya dengan kenyataan.

Dan terlebih lagi yang membuatku bergidik adalah waktu yang mampu menuakan manusia. Bahkan membuat pikun, tak mengenal muda atau tua. Dia yang menurunkan semangat saat petang tiba dimana ia sendiri menua di akhir hari. Dia yang membuat kesakitan saat dia sendiri tak mampu memutarbalikkan waktu.

Masih termasuk dalam hal-hal membuat waktu mengerikan dalam pandanganku adalah kebiasaanku terlambat ke sekolah. Tidak setiap hari, tentu saja. Tapi lebih sering daripada yang lain dan aku membencinya, meski terkadang teramat menikmati keterlambatannya. Karenanya aku bisa mengenal orang-orang yang akan membantuku keluar dari keterlambatan: Supir angkot yang pandai ngebut, satpam tegas yang ternyata teramat mudah untuk dikalahkan pendapatnya mengenai prinsip waktu dan tentu saja sesama siswa yang sering terlambat, yang lambat laun membuat kami dekat. Terkadang keluar dari koridor kebenaran itu memang menyenangkan.

Yang ku tahu adalah, ini memang rumus kehidupan yang umum, kau tak akan mengenal putih bila tak tahu hitam. Kau tak akan tahu manis bila tak pernah mengecap pahit. Dan tentu saja kau tak akan pernah sangat bersyukur akan kedatangan di awal waktu bila tak sekalipun mengalami keterlambatan. Sederhana dan ini berlaku untuk segala bahasan.

Dan tentu saja yang baru aku sadari dalam kurun waktu tiga tahun ini: kau tak akan tahu seberapa berartinya kehadiran seseorang tanpa pernah kehilangannya... Oh, sang waktu. Seandainya kau mengijinkanku untuk sedikit mengintip masa depan pasti dunia akan lebih hancur dari sekarang. Atau barangkali aku akan menutup mata-tidak melanjutkan ketertarikanku tentang masa depan karena hal-hal buruk terjadi di sana.

Tapi, waktu, kau yang paling tua dan tentu saja paling berpengalaman. Pegang selalu harapan dan impianku, jangan pernah tinggalkanku sedetik pun dari sistem kerjamu. Karena saat kau beranjak, maka aku mati.


Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...