Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Sunday, 16 August 2015

#puisi HarĂ­ Terindah

Mungkin ini giliranku untuk kembali bercerita
Dalam keheningan, mencipta para pemeran-penyampai sempurna
Apa yang tak cukup dijelaskan dengan bicara
Kau tahu, Aku membencinya

Aku membawa yang lainnya di antara kita
Dan kau menunjukkan apa yang ku inginkan,
Tetap tenang dalam kehawatiranmu
Aku menyelipkan dirinya dalam dirimu dan ragu tak hinggap di wajahmu

Oh, tidaklah mustahil untuk selamanya
Tidaklah jauh mencapai kekal
Di atas bumi dan di bawah langit yang sama
Berdua melucuti biasa

Semua tentangmu menempati sebuah ruang
Embus napas hangatmu melelehkan dinginku
Lama tak terjamah
Hampir menyentuh kelelahan yang parah

Dibangkitkan lagi dengan sentuhan kecil jemarimu,
Yang di awal membawa cahaya, menarikku
Hingga disinilah aku terselamatkan kerendahan hatimu
Secercah semburat harí terindah

Thursday, 18 June 2015

#puisi Antara Dunia dan Baqa

Masih saja ku merindumu
Meski mustahil bertemu
Masih saja terasa sembilu
Menyadari ketiadaanmu

Berkali purnama terlewati
Terjebak nyata dan mimpi
Rasanya ingin mengulangi
Kan ku pilih jalan yang kau ridhoi

Tetap saja aku bertanya
Apa kau melihat dari sana
Dan wajar saja berat rasanya
Kali pertama kecup pahitnya

Ada seribu kisah niatku bercerita
Aku tak cukup gila berbahak tanpa rasa
Dan tibalah sang waktu menciptakan pembatas
Penuai rindu antara dunia dan baqa...

Monday, 15 December 2014

#puisi Tamatlah

Aku tahu kalian ini apa
Sepenuhnya tahu apa yang kalian lakukan
Benar-benar tahu hal sejenis apa yang kalian lakukan

Aku tahu kalian mengabaikanku
Bom waktu adalah yang kalian jaga
Sungguh kerugian besar untuk mengabaikan anak kecil
Ya, Aku

Terlalu banyak kebusukan yang telah menusuk hidungku
Kepura-puraan memuakkan yang fasih kalian tunjukkan
Kau yang seharusnya makin membaik, tapi tidak
Dan Kau yang terlalu buta karena hal menjijikan bernama cinta

Bodoh, aku dikelilingi orang-orang bodoh
Orang-orang bodoh yang melakukan, tentu saja, hal-hal bodoh
Ya, hanya fase terpendek yang terlihat dari kacamataku
Sampai aku bicara, tamatlah kalian

Monday, 3 November 2014

#puisi Da Aku Mah Apa Atuhlah

Melemah, lemas, patutnya dibangkitkan
Semakin gelisah di setiap detiknya
Menoleh ke depan, menengok ke belakang
Tetap saja, hanya saat inilah sejatinya

Dalam fitri adalah jiwa yang baik
Hanya diri bukan Nabi, bukan Tuhan
Adalah biasa, sebiasanya manusia biasa-biasa
Berkekurangan, berkepayahan, juga berkemalangan

Adalah wajar bila sesekali meluap menyapa daratan
Biasa saja bila pernah terjerat amarah
Ada luapan karena ada surut, ada amarah karena ketenangan
Sungguh hanya manusia biasa

Tak ada kuasa merubah-ubah hati
Menumbuhkan rasa lalu merubahnya, mungkin menghentikannya
Apalah sempurna bila tak mengenali ketidaksempurnaan
Adalah kekosongan tanpa makna, dan kehidupan tidak bekerja seperti itu

Monday, 13 October 2014

#puisi Seribu Mimik

Aku ingin lebih dekat seakan kami bercumbu
Mengecupnya kendati pahit getir di lidah kelu
Aku ingin menarik semua mata layaknya biduan menyanyi merdu
Mengundang banyak rasa penasaran akan kehadiranku

Selalu berhasil,
Mata ini melirik apa saja yang bisa memantulkan diri
Tak kutemukan kesombongan di relung sanubari
Aku sambar sumber cahaya untuk sedikit menerangi, meyakini
Masih rendah hati, terpeliharalah dan teruslah tinggi

Menggelikan untuk menerima kenyataan berjodoh dengan si penambang dingin
Tapi, menolak atau tidak, kami tetap dalam satu tujuan terpimpin
Sadarkah kau bahwa Aku menyangsikan masa-masa kuda liar yang kau alami, mungkin
Aku bertaruh tak beda dengan halaman-halaman kusam buku tua, terasing di sudut lemari, berdebu karena tak tersentuh angin

Aku ingin mengurung diri, menikmati gelap
Membiarkan bahwa sunyi mematikan keramaian dan itu cara sederhana mendapatkan kedamaian
Aku ingin, dengan bebasnya, mengatur mimik seperti mereka
Tak mengenal lelah karena sebaik-murahnya penarik kebaikan

Wednesday, 1 October 2014

#puisi Untuk Kehilangan

Tak ada yang akan bisa mengerti, kendati telah menyelami dalam
Tak peduli dengan masa yang panjang atau pun sepayah-payahnya perjuangan
Tetap teguh tak goyah karena badai, tak akan mengerti
Terlalu rumit, bukan hanya ini dan itu, lebih, selalu lebih

Kalian beranggapan hanya pada titik temu benturan
Padahal jauh sebelum waktu, aku melihat berikut diriku yang ada di ketidakberaturan
Bukan tak pernah dilantangkan pada langit, pada horizon menawan
Satu kali, namun selalu penolakan yang halus hingga aku mengacuhkan

Hanya seandainya, Tapi Dia menyayangi hamba berdosa ini, aku tahu Tuhanku
Lain kali lebih baik dituliskan agar mereka percaya
Bukan untuk memenuhi nafsu kesempurnaanku, namun rasa lelah akan petunjuk-petunjuk-Mu kadang mengundang ketidakwarasan
Menyimpannya dengan baik adalah kesepatan daku dan Engkau

Aku akan menyusul untuk melihat senyum hangatmu
Berlari meski di penghujung hari dengan sendi-sendi yang melemah
Kau akan terkejut lagi seperti di kelanjutan hari kemarin
Aku akan diam dan menikmati setiap detiknya sebelum mimpi itu berakhir

Monday, 8 September 2014

#puisi Terjebak di Dalam

dari google














Percayalah, tak ada yang bisa memilih bagaimana kita terlahir dan dari mana
Tapi memiliki kesempatan untuk menentukan arah, itu lebih dari cukup
Percayalah! Dengan sedikit penekanan pada pelipis
Berharap kontak fisik akan sedikit membantu penyerapannya

Bagaimana dengan mereka yang terbiasa menunduk demi ketenangan ramai di atas ketenangannya?
Tiadakah kesempatan, atau memang hukumnya seperti itu, tak ada amandemen?
Lalu, bagaimana dengan khawatiranku tentang mereka yang terjebak dan tenggelam dalam lautan pemikiran yang rumit?
Padahal jatah kebahagiaan berbanding lurus penderitaan

Percayalah, berbagai cara kuno bahkan tercanggih pun tak ada yang mampu
Rasanya memang terpisah dari dunia ini, dan hanya dengan memegang rasa rindu akan pikiran waras yang coba dipertahankan
Meski dengan payah pernah sekali diungkapkan, tapi hanya seringai dan penolakan bodoh
Kasihan, seandainya dunia nyata semudah khayalan
Mereka tetap terjebak dalam malam yang menjadi siang dan siang menjadi malam

Ketakutan akan kepayahan yang berlebih, ketidakwarasan akan bagaimana mengelola pola pikir
Aku khawatir akan mereka yang setia sedari aku menyadari
Mohon, berhentilah!
Kalian hanya terlalu idealis
Pedulilah akan inangmu, dia butuh istirahat dalam tenang

Wednesday, 3 September 2014

#puisi Terbaik dari yang Terburuk

Rugi, tentu saja. Waktu terluangkan untuk hati-hati yang teramat diyakini
Dalam pengharapan indah dan abadi, dalam nyata semuanya ada, tapi kemarin, bukan hari ini
Menyesal, seandainya tahu maka sedari awal kan diangkat jangkar
Pasti hanya karena kain sutra dan kilau emas, silau jadinya

Kini bukan geraian gemulai di pundak, ada desis ular-ular
Apa karena amarah mereka mendesis semangat?
Ah, memalukan sekali untuk mengakuinya
Cinta, sekali lagi aku hilang dalam pusaran pikiran tentang sebab-akibat kekandasan

Untunglah telah dibentengi panglima perang terbaik
Tak ada rasa yang menyelinap kendati pertama menyayat, perih, kadang terdengar rintih
Terkadang juga, mengadopsi formula energi menenangkanku dengan cara yang logis
Aku mencari umpan terbaik, hiu-bukan pari yang tertarik

Yang terbaik adalah melihat dari banyak sisi
Dari bijaksana, kesederhanaan, kerendah hatian, keberkahan
Maka biasanya membakar diri untuk sendiri dan dirimu-dirinya
Dan teguklah darah saringan yang bening kembali

Tuesday, 2 September 2014

#puisi Dunia Di Kepala III

dari google


















Pagi yang biasa, terhentak tersibak cahaya
Letih yang terasa, selalu setengah mati tak pernah cukup
Oh, dengan harus mengandalkan badan dan kepala
Menebar siasat mengusir benih-benih sesal

Dan manusia pertama yang kutemui, selamat, meremukan pagiku
Menggoyah pikiran terbaik, berbalik memburuk dan menjadi yang terburuk
Terimakasih untuk menyadarkan bahwa umatku musuh terhebatku
Sementara itu, kaki yang diseret menemukan kesegaran
Berbalut serat-serat terlusuh

Di kepalaku bukit-bukit hijau yang terhampar
Langit biru tak berawan, kendati ada, menjauh dengan melihat tokoh pertama
Di pijakku adalah basah embun sisa fajar
Dan saat ku menoleh, adalah singa besar menyeringai, aku menghampiri dan memeluk

Masih di kepalaku, ribuan mahluk tercipta dengan sendirinya
Setiap detik, persekian detik dan setiap mata terpejam-terbuka
Apa hanya di kepalaku? Musik terdamai yang pernah tercipta berdendang tak henti-henti,
dari perairan, daratan, dan udara, pun bumi...

Ada sebagian mahluk,
Tidak lebih dari lima persen populasi dunia
Memelihara, mengembangkan, melestarikan dunia di kepala
Penasaran? Kau hanya perlu meluangkan waktu untuk ketidakwarasan

Wednesday, 27 August 2014

#puisi Pepatah Istimewa

Hey, hey
Bukan nampakmu yang kan menariknya
Hey, hey
Sadarlah, kau tahu yang terbaik untukmu

Tanyakan pada hati kecilmu saat menjelang waktu tuk terlelap
Tanyakan pada bayanganmu saat mereka tak ada
Hanya di keheningan, meresap perlahan kau kenali
Tanpa mulut-mulut yang asal berucap

Hey, hey
Kau tetap istimewa di mataku
Biar, biarlah
Kesempurnaan hanya milik-Nya

Maka tambatkan pada dermaga-dermaga yang dikecup surya
Bukan palung gelap penuh kejutan dan misteri
Pada kuncup-kuncup bunga yang menanti mekar dengan setia
Bukan unisel yang membelah cepat-cepat

Hey,
Menataplah ke depan, masa lalu selalu bisa dihidupkan, maka biarkanlah di tempatnya
Kau,
Kaki-kaki lenjangmu saja mengarah ke depan, Tuhan membentuknya sekian rupa
Tak perlu lagi kau tanyakan mengapa

Teka-teki dalam kepalamu, itu dirimu
Yang kau kenakan, yang mereka bilang, hanya tipu daya
Pemikiran cemerlangmu, dari sanalah kau mengundang banyak mata
Tapi jangan lupa ungkapkan dalam kata
Bicaralah kendati terbata

Tuesday, 26 August 2014

#puisi Jika Emas Tak Berkilau

Kita hanya terlalu terbiasa melihat sang raja siang bersombong ria dengan energinya tak mengenal waktu
Pagi, garis-garis cahaya menembus awan hingga berlabuh di bumi
Siang, tentu saja, sebagai ranah kekuasaannya
Sore, semburatnya masih bertahan dan layak dinantikan
Pun malam, tetap menyelinap meski meminjam tubuh sang bulan

Hal lainnya, kita teramat lazim dengan mahluk-mahluk penuh pesona memabukan
Wajah, hanya sekali pandang mampu dengan cepat terlukiskan di ingatan
Perangai, dahsyatnya memercikan rasa-rasa yang aneh - cenderung menguar naluri kebinatangan

Pernah terpikir bagaimana jika emas tak berkilau?
Dia tetap mulia meski tak menguarkan kharisma
Sebagai nilai tambah, keberadaannya abadi kendati tersembunyi

Jika saja emas tak berkilau
Akan banyak wajah terpelihara kemurnian auranya
Dan jiwa-jiwa yang tak akan menghancurkan kesejatiannya
Jika emas tak miliki kilau
Ada banyak kesan yang terpatri abadi
Tanpa perlu menemukan titik itu dari luar

Luar biasa, manusia tidak perlu membaikan diri untuk selain yang Terbaik
Jika emas tak berkilau

Tuesday, 19 August 2014

#puisi Coba Tebak!

Coba tebak apa yang kusembunyikan
Sering kali menghindari khalayak namun akulah magnet keramaian
Bertingkah senormal mungkin berhasil menemukan identitas baru
Coba saja tebak!

Inilah manusia yang menunduk untuk menengadah, menantang langit
Yang tak terjamah surya hingga berlumutan seakar hingga puncak
Yang tak nampak karena saking malunya
Coba terka!

Bahkan meliuk kanan-kiri
Katakan saja: melata! Jalang!
Dia tetap dengan noda-noda gelap di matanya
Mencari di setiap sudut bebatuan yang semakin keras karena dingin
Yang seakan semakin jauh bila terus dilayangkan dalam kepala, dalam tidur dan terjaga

Apalah, hanya mencari makna
Itu! Disana!
Hal yang dengan kau memilikinya maka hanya damai setia bersenandung di pagi, siang, sore, malammu
Coba Tebak!

Sunday, 17 August 2014

#puisi Gembala Kata

Terdampar, hanya sedikit tidak percaya bahwa rawa-rawa ini pijakanku
Tersesat, petuahnya hebat kendati membuat terlena dan kini terpaku
Pada peta duniamu-duniaku, pada pedati tak berkusir, pada pesan tak beralamat
Aku tertipu oleh benteng api yang tak menghalangi apa pun

Rasanya ingin meledak, namun lebih baik menyelusupkannya agar lebih dahsyat
Sekarang! Sabar, saat mulut-mulut itu lupa dengan perkataan yang mereka gembalakam, itu waktu yang tepat.
Selalu lebih manis, kau adalah petani madu.
Kau pelayan terhebat! Sajikan mereka kemurnian.

Aku tak remuk karena kau tak begitu kuat, kau melemah
Dan aku masih berjuang, menelusup, mencapai puncak, merebut kedamaianku
Kedinginan yang bahkan sempat menghianati, aku menjemputnya kembali
Maaf, kehangatan. Aku bersandiwara tepat di bawah hidungmu.

Aku tak terpuruk karena kau berjaya di matamu, kau tersungkur
Kan ku abaikan, merah darah di ujung napasmu
Mengalah untuk menang, mereka gembalaan yang setia
Aku tepat!

Monday, 11 August 2014

#puisi Masih Mahluk Tuhan

Kerap kali dalam dada seperti digumamkan: Ini elok tanpa batas
Sering, saat berselimut gairah, ketika terlumpuhkan lelah: Goresan kecil tak kan membekas jelas
Bak porselen-porselen cina, manequin-manequin jelita
Bagaimana seandainya bersua, matilah tak bersuara; dalam kepala

Butakan saja mata ini dari macam keindahan yang lain
Ini lebih dari ketujuh warna pelangi
Dan aromanya, kendati bukan melati
Tapi mewakili harmonisme alam bumi

Seakan rela mengenyahkan kemurnian yang kuyakin kan lebih bersemi
Melupakan padang emas siap panen, karena pesona memabukan ini
Aku bertaruh kaulah penjelajah yang menepis beribu lelah
Untukku, pujaan?

Masih mahluk-Nya, kekurangan yang sempurna
Masih untuk-Nya, pemilik sempurna

Redamlah lengkingan jiwa ini, ini hampir membuncah
Pasunglah musafir tak berarah ini, dia kan tersungkur dalam genangan kesedihan
Rajamlah, ciptakan kedamaian pada mahluk Tuhan pemuja yang masih mahluk Tuhan

Wednesday, 16 July 2014

#puisi Menatap Bahaya

Aku melihat kanan yang eloknya berpelitur kerumitan,
Jalannya penuh belukar kedengkian,
Mahluk-mahluknya mencelakakan dengan cara mengerikan
Tak ku lihat adanya kesamaan dalam keindahannya

Sementara sisi yang lain, kiri
Aku hampir selalu melihatnya terbingkai permai
Semua penilaian indah dimilikinya
Tak ada cacat, hanya kisah-kisah yang menggiurkan

Persimpangan selalu menjadi bagian tersulit
Ya, aku melihatmu wahai kebaikan yang memilukan
Kau juga, sebaik-baiknya keinginanku yang lama menunggu dengan sabarnya
Jadi tunjukkan saja sebenar-benarnya kalian, bertelanjanglah

Teorinya selalu sama, kuno dan modern
Ironi kendati merupakan mahluk modern, namun kekunoan penuh kedamaian
Persetan dengan ideologi paling ideal masa kini
Rasanya menenangkan, prinsif melekat kuat dan aku menatap bahaya

#puisi Penyejuk Bahaya

Sekali lagi aku mengundang bagian paling dalam yang berbahaya
Pemikiran normal hanya selalu mengawasi
Dicobanya untuk merengkuh secepat mungkin, namun gagal
Sementara provokator keonaran bertepuk tangan menyemangati

Peperangan di luar tubuh selalu lebih mampu dikuasai
Aku payah dengan diriku sendiri
Memelihara si penyabar, di lain sisi menjaga si penggerogot si penyabar
Perselisihannya selalu tanpa ujung dan terlihat memang tak akan ada

Mulut-mulut kaum hitam-putih itu membuatku lelah
Dimengerti, namun dipersalahkan
Diabaikan pun tetaplah sama, bahkan memburuk
Maka wajar bila aku mengagumi bagaimana kepalaku mengolah pemikiran-pemikiran yang setiap detik, bahkan sepersekian detiknya selalu berubah

Pada saat-saat seperti ini maka si Penyabar akan menebalkan benteng pertahanan
Menghadang pikiran-pikiran setan mengelabui penentu lanjut dan berhenti
Tapi selalu saja aku ingin meloloskan hewan-hewan liar ini
Runtuhkan! Bumi hanguskan! Musnahkan! Enyahlah!

"Kemarilah," mata sejuk itu seakan berkata demikian. "Kendati lahar kau berikan padaku, Aku akan tetap memelukmu."

Monday, 14 July 2014

#puisi Mestinya Waktu

Katakan saja bahwa setiap perkara berbatas perkara
Seperti kebebasan terbentur kebebasan
Lalu aturan kawanan liar terkekang aturan rimba
Juga otonomi-otonomi tak bisa menutup mata negara

Lalu utarakan dengan lantang bahwa mimpi tak kan lebih lama dari kenyataan
Teriakan hingga serak, hari berbatas malam
Kehidupan dan kematian
Awal dan akhir

Mestinya waktu, sebagai pengacu yang sedari dulu
Tak lelahnya berdetik hingga menit, lalu jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dekade, abad, millenium
Ditekankan pada mata-mata tua yang kini terpejam
Agar diserapnya hingga dunia tahu
Mestinya waktu, sedari dulu

Karena nilai kehidupan pun mutlak diperhitungkan
Bumi, langit, bulan, matahari, atom, partikel
Mereka memegang perwaktu
Mestinya, sedari dulu, waktu

Friday, 4 July 2014

#puisi Irasional


Ya atau tidak, maka kau di ranah berbeda
Pemuja kebenaran hakiki, hamba keliaran diri
Banyak kemungkinan dan spekulasi, tempat ternyaman untukku
Demi kebaikan yang tepat, penakluk nafsu tabiat
Keyakinan telah berkuasa dan menanamkan: bahwa logika adalah tuntutan tak berujung
Semakin lama jam terbang, terhapuslah sebenar-benarnya medan perang
Coba kau sentuh bagian kesatuan manusia yang lain
Ada penggerak yang senantiasa memaki, meludah, menyeret
Dialah si pembaik
Disini kau bebas melukis peperangan, menebar bahak, bersiasat dalam cerita
Hal-hal yang tidak memerlukan uang dan kuasa
Karena irasional menundukan biasa, merujuk pada keluarbiasaan

Wednesday, 2 July 2014

#puisi Padang Emas


Melatari suasana penghujung hari
Baunya tak seharum parfum, namun layak dirindukan
Rasanya seperti terseret gravitasi yang tak wajar
Akhirnya direlakan landas di rerumputan
Aku ingin berlama-lama

Tak perlu banyak warna
Emas mewakili segalanya
Kemewahan, kematangan
Kehidupan mengecupku dengan sederhananya

Inginnya tak ada yang menemukan keberadaan padang emas ini
Tapi jelas mereka tahu, kalian juga
Namun hanya kekuningan di mata
Aku melihat dengan mata yang lain

Padang emas, sepanjang tahun adalah kerinduan akan sentuhan lembutmu
Setiap beranjak adalah kekhawatiran tak akan melihatmu
Bertandang, aku mengharapkan pelukan hangatmu
Padang emas, kali ini aku memetik damaimu

Thursday, 26 June 2014

#puisi Duka

Ada bagian cerita manusia
Selepas menenggak gemerlap dunia
Tibalah diri di lembah tergersang
Disuguhi drama-drama mencekam

Lepaskan tangis dan buncahkanlah
Tak ada waktu lagi, ini waktu yang tepat
Kau akan malu melihat hanya kaulah seorang diri
Terasing di keramaian mencari damai

Duka, sembilu menyayat perlahan
Tak terelak meski ditantang tuk diabaikan
Berdukalah, ratapi dan habiskan
Karena esok adalah bahagia yang tidak terduga

Koyakkan badan dan resapilah lelah
Gosok tanganmu pada kedua mata dan temukan kesejukan
Pahit, karena kau mengenal manis
Maka bersederhanalah dalam ceria dan tangismu

Featured post

Retorika: Seni Merubah Pikiran Manusia

Di akhir perkuliahan semester 3 awal Maret ini saya mempelajari tentang Introduction to Litetrature. Untuk nilai dan tugas, setiap individ...